Jurnas.net - Sejumlah kalangan berkolaborasi menghadirkan Yayaya Fest 2026, sebuah festival musik yang memadukan hiburan dengan kepedulian terhadap isu sosial dan lingkungan. Digelar pada 25 Oktober 2026 di Stadion Kridosono, Yogyakarta, festival ini menjadi ruang inklusif bagi anak muda untuk menyuarakan aspirasi sekaligus membangun solidaritas di tengah berbagai persoalan masyarakat.
Inisiator Yayaya Fest, RA Yashinta Sekarwangi Mega mengatakan Yayaya Fest tidak sekadar menghadirkan pertunjukan musik, tetapi juga mengajak masyarakat merasakan berbagai persoalan yang terjadi sepanjang 2026. Mulai dari situasi masyarakat di sejumlah daerah, kasus perundungan terhadap anak di sekolah, kekerasan, termasuk kekerasan seksual, hingga dampak perubahan iklim.
"Yayaya Fest bukan sekadar musik untuk bersenang-senang. Kami ingin masyarakat juga bisa merasakan suka, luka, dan duka yang terjadi selama 2026. Situasi yang dihadapi masyarakat saat ini tidak mudah,” ujar Yashinta di Yogyakarta pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Ada lima grup musik dihadirkan dalam festival itu, yakni Jumat Gombrong, Guyon Waton, Rebellion Rose, Lomba Sihir, dan MALIQ & D'Essentials. Melalui festival ini, penyelenggara ingin menciptakan ruang yang inklusif sekaligus mempertemukan berbagai komunitas untuk berkolaborasi. Pemilihan penampil juga dilakukan dengan mempertimbangkan aspirasi anak muda, termasuk pelajar SMA, mengenai musisi yang ingin mereka saksikan.
Tiket Yayaya Fest 2026 dibanderol mulai Rp20 ribu yang bisa diakses daring melalui yayayafest.id. Penonton dapat membayar lebih secara sukarela sesuai kemampuan di atas nominal tersebut sebagai bentuk donasi dengan nominal maksimal Rp9 juta per orang. Penyelenggara menyiapkan kuota sebanyak 10 ribu tiket, dengan kapasitas keseluruhan di lokasi mencapai sekitar 12 ribu orang, termasuk panitia.
"Tiket hanya tersedia melalui pembelian daring dan tidak dijual langsung di lokasi acara. Pemilihan Stadion Kridosono diharapkan memudahkan akses pengunjung dari berbagai wilayah," ujarnya.
Festival Director Yayaya Fest 2026, Obed Kresna mengatakan penyelenggara merancang 18 poin penting festival tersebut usai berdiskusi dengan Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (Sigab) Indonesia untuk memastikan festival berlangsung lebih inklusif dan ramah lingkungan. Salah satu upayanya adalah menyediakan juru bahasa isyarat (JBI) di panggung, dengan empat hingga lima juru bahasa isyarat yang telah disiapkan.
Selain itu, penyelenggara menyediakan pusat layanan bagi penyandang disabilitas di pintu masuk, pemandu untuk membantu pengunjung, serta toilet khusus difabel. Kesadaran mengenai aksesibilitas juga diupayakan menjadi bagian dari kerja seluruh kru dan pekerja festival.
"Yayaya Fest juga menghadirkan kegiatan edukatif agar pengunjung dapat memahami pengalaman dan kebutuhan penyandang disabilitas. Pengunjung dapat mengikuti kegiatan belajar bahasa isyarat, membuat jamu, hingga belajar menggunakan kursi roda," ujar mantan Ketua BEM UGM tersebut.
Baca juga: PSIM Yogyakarta Pecat Jean Paul van Gastel dari Kursi Pelatih
Dari sisi lingkungan, penyelenggara melakukan penghitungan jejak karbon yang dihasilkan selama festival. Pengunjung diminta mengisi formulir untuk membantu memperkirakan emisi dari transportasi yang digunakan. Sementara itu, pihak panitia menghitung emisi dari penggunaan generator listrik atau genset serta sampah yang dihasilkan selama kegiatan.
Upaya tersebut akan dilanjutkan melalui penanaman mangrove sebagai bagian dari aksi mitigasi perubahan iklim. Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (Kophi) turut terlibat dalam inisiatif tersebut, di antaranya dalam penghitungan karbon, manajemen sampah, hingga tindak lanjut penanaman tanaman mangrove usai kegiatan.
Ketua Kophi Yogyakarta, Rifka Agnes, mengatakan komunitasnya selama ini aktif melakukan kampanye mengenai air dan ekosistem pesisir. Menurutnya, penghitungan jejak karbon dapat menjadi langkah awal untuk mengetahui besarnya emisi yang perlu diimbangi melalui aksi lingkungan.
“Jejak karbon yang dihasilkan akan dikonversi menjadi penanaman mangrove,” ujarnya.
Agnes menjelaskan, keberhasilan penanaman mangrove tidak hanya ditentukan oleh jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga tingkat keberhasilan tumbuh dan kemampuan tanaman dalam menyerap karbon. Karena itu, pemantauan setelah penanaman menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut.
Baca juga: Duka ke Amal Jariah, Muhammad Suryo Resmikan Masjid Hj Anis Syarifah
Kophi berencana melakukan pemantauan terhadap mangrove yang ditanam selama beberapa bulan ke depan untuk melihat perkembangannya. Langkah ini diharapkan memastikan aksi lingkungan tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata.
Selain Kophi, Yayaya Fest juga menggandeng sejumlah komunitas dan organisasi, di antaranya Sigab Indonesia, Sadar Belajar, serta PKBI DIY. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses, meningkatkan kesadaran sosial, dan memberikan ruang bagi berbagai kelompok masyarakat untuk terlibat.
Perwakilan Sadar Belajar, Rizal, mengatakan pihaknya turut berperan sebagai pemandu bagi peserta konser. Keterlibatan komunitas ini diharapkan membantu pengunjung memperoleh pendampingan sehingga dapat menikmati festival dengan lebih nyaman.
Melalui perpaduan musik, edukasi, aksesibilitas, dan aksi lingkungan, Yayaya Fest 2026 diharapkan menjadi ruang perjumpaan bagi anak muda dan komunitas untuk saling menguatkan. Festival ini sekaligus mengajak masyarakat menjadikan kepedulian sosial dan lingkungan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Editor : A. Mustaqim