Karhutla Bromo Telan Lima Nyawa, PKB Takziah ke Rumah Duka

Reporter : M. Saifulloh

Pasuruan – Lima relawan dan petugas meninggal dunia setelah terjebak dalam bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur pada Kamis (15/10). Sementara satu orang lagi masih dirawat di rumah sakit.

Atas arahan Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar atau Gus Muhaimin, Ketua DPC PKB Kabupaten Pasuruan, Yusuf Daniyal, bersama Ketua Badan Persaudaraan Antariman (BERANI) Kabupaten Pasuruan, Etwin Oktavianus Tampanguma, takziah ke rumah duka almarhum Sukaris di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, pada Senin (19/10).

Baca juga: Karhutla Kepung 5 Kawasan Gunung di Jatim, Semeru Terparah Capai 600 Hektare

Kunjungan tersebut merupakan bentuk belasungkawa dan kepedulian PKB terhadap keluarga korban yang tengah menghadapi masa sulit. Kehadiran perwakilan PKB diharapkan dapat memberikan dukungan moral sekaligus menunjukkan bahwa keluarga korban tidak menghadapi duka ini sendirian.

“Kami menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Tidak ada kata yang cukup untuk menggambarkan kehilangan ini. Kami berharap keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi masa yang sangat berat,” ujar Yusuf Daniyal di Pasuruan, Selasa (20/10/2026).

Yusuf mengatakan, Gus Muhaimin juga menitipkan salam dan ucapan belasungkawa kepada keluarga korban. Ia berharap keluarga yang ditinggalkan dapat melalui masa duka ini dengan tabah serta mendapatkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya.

Menurut Yusuf, perhatian kepada keluarga korban tidak boleh berhenti pada penyampaian belasungkawa. Dukungan moral dan kepedulian sosial perlu terus diberikan agar keluarga yang ditinggalkan merasa didampingi dalam menghadapi kehilangan, sekaligus membantu mereka melewati masa-masa sulit setelah musibah.

Selain menyampaikan takziah, Yusuf menilai peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya memperkuat perlindungan terhadap relawan dan petugas yang bekerja di lapangan. Ketersediaan peralatan keselamatan, kesiapan personel, koordinasi antarpihak, serta prosedur penanganan bencana harus menjadi perhatian serius untuk meminimalkan risiko jatuhnya korban jiwa.

PKB juga mendorong agar penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman ketika api telah meluas. Upaya pencegahan, peningkatan kesiapsiagaan, dan evaluasi menyeluruh terhadap penanganan kebakaran perlu diperkuat agar kejadian serupa tidak kembali menimbulkan korban.

Kronologi Kejadian

Baca juga: Perbaikan Pipanisasi Rampung, 6.472 Jiwa Warga Dampak Karhutla Bromo di Probolinggo Kembali Bisa Nikmati Air Bersih

Musibah bermula pada Selasa 13 Oktober 2026, ketika petugas menerima informasi dari Kepala Desa Ngadas, Kabupaten Probolinggo sekitar pukul 14.23 WIB mengenai kebakaran ladang warga di sekitar Blok Pusung Dawa, yang berbatasan dengan kawasan TNBTS di Grid A83 dan berada di wilayah Desa Ngadirejo, Kabupaten Probolinggo.

Menindaklanjuti informasi tersebut, petugas TNBTS menuju lokasi dan berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk meminta bantuan personel dalam upaya. Sejumlah warga bersama perangkat desa, termasuk Kepala Desa Ngadirejo, turut melakukan pemadaman pada hari tersebut. Mengingat lokasi yang jauh dari sumber air dan sulit dijangkau dengan mesin penyemprot air, pemadaman dilakukan secara manual menggunakan alat gebyok.

Dalam perkembangan selanjutnya, api merambat masuk ke kawasan TNBTS dan mencapai lokasi yang memiliki medan terjal serta sulit dijangkau. Namun demikian akhirnya upaya pemadaman berhasil memadamkan api pada Rabu 14 Oktober 2026 pukul 11.45. Petugas kemudian melakukan pemantauan hingga malam dan memastikan sudah tidak api maupun asap lagi.

Pada Kamis 15 Oktober 2026, pukul 09.20 dari Posko Karhut Cemoro Lawang terlihat asap tebal di lokasi hari sebelumnya. Empat petugas jaga segera menuju lokasi dan berusaha memadamkan. Mengingat besarnya api, petugas meminta tambahan dukungan personel yang kemudian meluncur menuju lokasi termasuk petugas dari pemegang Perijinan Berusaha Sarana Wisata Alam (PSWA) PT. Mitra Indo Permai (MIP), dan Masyarakat Peduli Api (MPA) dikerahkan untuk melakukan penyekatan terhadap api yang menjalar masuk di kawasan Mentigen, Kabupaten Probolinggo.

Baca juga: Berkas dan Tersangka Kasus Kebakaran Gunung Bromo Dilimpahkan ke Kejati Jatim Hari Ini

Tim kemudian dibagi 2 regu di sebelah kiri dan kanan api untuk melakukan penyekatan agar api tidak meluas. Sekitar pukul 13.00 WIB, tiba-tiba kondisi kebakaran disertai angin kencang menyebabkan enam personel terjebak di tengah api yang menyala. Lima personel lainnya berhasil menyelamatkan diri karena lokasinya berlawanan dengan arah api.

Setelah api mereda dilakukan upaya pencarian terhadap petugas yang terjebak, dan pada pukul
13.30 WIB tiga personel ditemukan meninggal dunia di lokasi kejadian, yaitu Sukaris, PNS Operator Layanan Operasional pada Seksi PTN Wilayah I, Bidang PTN Wilayah I, BB TNBTS Kemenhut; Wisnu Yuda Pratama, staf PT. Mitra Indo Permai; Sefriel Ardiansyah, staf PT. Mitra Indo Permai.

Serta satu personel terluka parah kemudian dievakuasi menuju Rumah Sakit Umum Daerah Tongas untuk dilakukan perawatan intensif. Namun demikian setelah dirawat sekitar 3 jam, yang bersangkutan atas nama Hendra Rony Wagiyanata, Manggala Agni TNBTS Kementerian Kehutanan dinyatakan meninggal dunia.

Korban meninggal dievakuasi bersama dengan pihak Polres Probolinggo dan kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Tongas untuk proses visum.Sementara itu, dua personel lainnya mengalami luka bakar berat. Korban dirujuk ke Rumah Sakit dr. Sutomo Surabaya untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut, atas nama Munawi, Masyarakat Peduli Api (MPA); dan Suraji - DW Security, PT. Mitra Indo Permai. Belakangan, Munawi menghembuskan nafas terakhir pada Senin, 19 Oktober 2026.

Editor : M. Saifulloh

Politik & Pemerintahan
Berita Terpopuler
Berita Terbaru