Jurnas.net - Upaya meningkatkan pemanfaatan instalasi biogas tidak berhenti pada produksi energi. Melalui kegiatan bimbingan teknis (Bimtek) progran Gebrakan Bernilai Ekonomi Produk Biogas (Gebrak Bio) yang dikembangkan oleh Cabang Dinas ESDM Wilayah Kendeng Muria, Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, masyarakat diajak mengolah bio-slurry atau ampas biogas menjadi produk yang bermanfaat, memiliki potensi ekonomi, sekaligus mendukung keberlanjutan pengelolaan instalasi biogas.
Kepala Cabang Dinas ESDM Wilayah Kendeng Muria, Diana Kristina, menyampaikan Bimtek menyasar kelompok masyarakat penerima instalasi biogas di wilayah Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara. Kegiatan dirancang tidak hanya dalam bentuk penyampaian materi, tetapi juga melalui praktik langsung.
“Peserta Bimtek kami ajak praktik langsung, supaya dapat memahami tahapan pengolahan bio-slurry dan memiliki keterampilan yang dapat diterapkan secara mandiri,” ujar Diana saat ditemui di sela-sela kegiatan Bimtek, Selasa, 6 Oktober 2026,
Dalam kegiatan yang berlangsung di kawasan air terjun Songgo Langit itu, peserta diperkenalkan pada potensi pemanfaatan bio-slurry yang dihasilkan dari proses produksi biogas. Itu lantaran ampas biogas selama ini masih sering dipandang sebagai produk sisa. Melalui program Gebrak Bio ini, masyarakat diajak mengubah cara pandang tersebut.
“Bio-slurry bukan sekadar sisa proses produksi energi, tetapi sumber daya yang masih dapat diolah dan dikembangkan menjadi produk bernilai guna dan bernilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian, antara lain pupuk organik dan media tanam,” papar Diana.
Proses pembelajaran dilakukan secara bertahap. Pertama dimulai dari penanganan bahan, pengolahan, pemisahan, dan pemanfaatan bagian padat maupun cair, hingga proses pengemasan produk. Setelah peserta Bimtek dikenalkan, kemudian diajak memproduksi secara langsung dan melihat peluang pengembangan produk di lingkungan mereka.
“Kita ingin manfaat biogas tidak berhenti ketika gasnya sudah digunakan. Ampas biogas juga harus memberikan manfaat. Ketika bio-slurry dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi, maka manfaat instalasi biogas menjadi semakin lengkap,” terang Diana.
Nilai Ekonomi untuk Menjaga Keberlanjutan Biogas
Salah satu tujuan penting program Gebrak Bio adalah mendorong agar instalasi biogas yang telah dibangun dapat terus dimanfaatkan, dioperasikan, dan dipelihara secara berkelanjutan oleh masyarakat.
Keberlanjutan instalasi biogas sangat berkaitan dengan manfaat yang dirasakan oleh pengelolanya. Semakin besar manfaat yang diperoleh masyarakat, semakin besar pula dorongan untuk menjaga keberlangsungan operasional instalasi.
“Manfaat yang dirasakan masyarakat tidak hanya memperoleh manfaat berupa energi, tetapi juga memiliki peluang mendapatkan nilai tambah dari produk turunannya,” kata Diana.
Nilai tambah tersebut diharapkan dapat memberikan motivasi bagi kelompok untuk terus memasukkan bahan baku, mengoperasikan instalasi, melakukan perawatan, serta menjaga keberlanjutan pengelolaan biogas. Dengan demikian, progran Gebrak Bio membangun sebuah siklus yang saling menguatkan.
“Ketika masyarakat merasakan manfaat ekonominya, maka menjaga keberlanjutan instalasi biogas bukan lagi sekadar kewajiban, tetapi menjadi kebutuhan,” kata Diana.
Masyarakat Menjadi Pelaku Utama
Melalui kegiatan Bimtek program Gebrak Bio, kelompok penerima instalasi biogas tidak hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat program pemerintah. Namun juga didorong menjadi pelaku utama dalam pengelolaan dan pengembangan biogas secara berkelanjutan.
Dengan keterampilan yang diperoleh, masyarakat diharapkan mampu mengembangkan produk secara mandiri dan secara bertahap membangun kegiatan ekonomi produktif berbasis potensi lokal.
“Supaya program Gebrak Bio ini dapat terus berkembang, ke depannya memang dibutuhkan pendampingan, pengembangan kualitas produk, branding, pemasaran, serta kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, dan tentunya organisasi masyarakat dan dunia usaha,” ujar Diana.
Ketua Kelompok Tani Makmur II Desa Bucu, Kecamatan Kembang, Mulyono, mengatakan kotoran ternak berupa ampas bioga diolah menjadi pupuk dan media tanam. Sasaran utama produk olahan biogas itu adalah warga perumahan yang terbatas lahan untuk aktivitas bercocok tanam.
“Hari ini diajari dan menerima bantuan alat untuk membuat pupuk dari kotoran sapi. Bentuknya seperti ini, bisa digunakan untuk segala jenis tanaman,” kata Mulyono.
Terkait produksi pupuk limbah biogas, Mulyono, menyampaikan bahwa bahan baku di desanya sangat melimpah. Kandang ternak koloni yang dikelolanya merawat lebih dari 15 sapi. Sehingga, jumlah tersebut dinilai sangat cukup untuk menghasilkan bahan baku pembuatan pupuk hasil limbah biogas.
Editor : Rhobi Shani