Oleh: Ahmad Ajib Ridlwan
Wakil Dekan Bidang II Fakultas Ketahanan Pangan Unesa, serta Guru Besar Bidang Kewirausahaan Sosial Islam FEB Unesa
Baca juga: Mengelola Transformasi Energi untuk Masa Depan Industri Indonesia
Sekitar pukul 08.13 saya menerima pesan via WhatsApp dari Mas Anto salah satu manajer Bulog Wilayah Jatim. Tidak lama kemudian, mas Ardi salah satu Ajudan Kementan juga menelpon. Inti pesan tersebut adalah mengundang Dekan Fakultas Ketahanan Pangan Unesa sebagai mitra strategis Bulog Jatim untuk hadir acara tasyakuran di Sentra Pengolahan Beras Bulog, Banjar Kemantren, Surabaya, Jawa Timur sebagai bentuk rasa syukur atas capaian pengadaan beras Perum Bulog yang mencapai lebih dari 4 juta ton.
Tasyakuran ini bukan sekadar perayaan angka. Momentum ini harus dijadikan sebagai pengingat bahwa swasembada beras hanya dapat diwujudkan melalui kerja bersama. Petani, pemerintah, Bulog, akademisi, dunia usaha, komunitas, hingga media memiliki peran yang saling melengkapi. Tidak ada satu pihak yang mampu membangun ketahanan pangan sendirian.
Sampai dengan 11 Oktober 2026, tercatat pengadaan gabah dan beras dalam negeri oleh Bulog mencapai 4.131.492 ton setara beras atau 103,29�ri target nasional. Jawa Timur menyumbang 979.817 ton, setara 23,7�ri capaian nasional. Angka tersebut menunjukkan besarnya kontribusi daerah dalam memperkuat cadangan beras pemerintah.
Capaian ini wajib disyukuri dan diapresiasi. Akan tetapi, keberhasilan hari ini harus menjadi baseline untuk menjaga keberlanjutan produksi. Tantangan ketahanan pangan tidak boleh berhenti pada tumpukan beras. Kita perlu memastikan produksi terus berlangsung, distribusi terjaga, harga stabil, dan yang paling penting adalah petani memperoleh kesejahteraan yang layak.
Kolaborasi yang Bermakna
Pesan “Bersama Bisa Bekerja Sama” yang kerap disampaikan Cak Hasan, Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa), sangat relevan untuk direnungkan. Kebersamaan itu tidak cukup dengan berhenti pada duduk satu meja, berjabat tangan, atau berfoto bersama. Kebersamaan akan bermakna ketika melahirkan kesediaan untuk berbagi rasa, menyatukan gerak langkah, dan bekerja menuju tujuan yang sama. Ada pelajaran sederhana dari sapu lidi. Satu biji lidi mudah dipatahkan dan tidak bisa digunakan untuk membersihkan halaman. Namun, ketika puluhan atau ratusan lidi disatukan, akan menjadi alat yang mampu membersihkan kotoran.
Filosofi ini sebagai pengingat bahwa kebersamaan bukan sekadar berkumpul dalam satu ruangan. Lidi-lidi yang diletakkan berdampingan tanpa ikatan tetap mudah tercerai-berai. Begitu pula manusia dan lembaga. Kita bisa duduk bersama, ngopi bersama, dan berdiskusi bersama, tetapi jika masih mempertahankan ego masing-masing, kebersamaan itu belum tentu menghasilkan kerja sama. Kita sering duduk bersama, ngopi bersama, berdiskusi bersama, bahkan berulang kali menghadiri forum yang sama. Namun, setelah pertemuan berakhir, tidak selalu ada kerja sama yang benar-benar berjalan.
Dalam konteks ketahanan pangan, pesan tersebut menemukan relevansinya. Tasyakuran capaian pengadaan beras Perum Bulog lebih dari 4 juta ton di gudang Sidoarjo menjadi momentum untuk melihat bagaimana kerja bersama dapat menghasilkan capaian besar. Pengadaan beras bukan hasil kerja satu lembaga semata, melainkan buah dari produksi petani, dukungan pemerintah, penyerapan Bulog, serta keterlibatan berbagai pihak dalam ekosistem pangan.
Keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja banyak pihak. Ada keringat petani sebagai aktor utama yang menanam, merawat, dan memanen. Pemerintah berperan sebagai regulator, fasilitator, dan stabilisator. Hal tersebut diwujudkan dalam bentuk dukungan kebijakan, infrastruktur, sarana irigasi, sarana produksi, pembiayaan, serta perlindungan usaha tani. Bulog menjalankan peran strategis dalam menyerap hasil produksi, mengelola cadangan beras pemerintah, dan stabilisisai harga pasar.
Dukungan pemerintah daerah, aparat kewilayahan, kelompok tani, penggilingan, dan mitra usaha juga menentukan kelancaran proses produksi hingga penyerapan. Tanpa koordinasi tersebut, hasil panen yang melimpah belum tentu dapat terserap secara optimal. Akademisi dan perguruan tinggi dapat memperkuat kolaborasi melalui riset terapan, inovasi teknologi, pendampingan budidaya, pemetaan potensi wilayah, serta analisis efisiensi usaha tani.
Sementara itu, dunia usaha dapat mendukung pembiayaan, pengolahan pascapanen, penyimpanan, dan perluasan pasar. Komunitas serta organisasi masyarakat berperan menggerakkan partisipasi warga. Media membantu menyebarkan informasi, mengangkat praktik baik, sekaligus mengawal kebijakan secara kritis. Inilah semangat kolaborasi lintas sektor. Setiap pihak bekerja sesuai kapasitasnya dan bergerak menuju tujuan yang sama. Kolaborasi tidak cukup hanya berhenti pada seremoni, penandatanganan kerja sama, atau dokumentasi kegiatan. Ukurannya adalah dampak nyata yang dirasakan petani dan masyarakat.
Swasembada Harus Mensejahterakan Petani
Baca juga: Gus Kikin dan Tantangan Kebangkitan Gelombang Kedua NU
Di balik capaian jutaan ton beras, ada pertanyaan yang sangat mendasar. Apakah keberhasilan tersebut juga dirasakan petani dalam bentuk pendapatan yang lebih baik? Swasembada beras tidak cukup diukur dari banyaknya beras yang menumpuk di gudang pemerintah. Keberhasilannya juga harus tercermin dari meningkatnya kesejahteraan petani sebagai produsen utama pangan. Jangan sampai negara berhasil memperkuat cadangan beras, tetapi petani tetap menghadapi biaya produksi tinggi, keterbatasan modal, dan ketidakpastian harga jual.
Saat ini kondisi dilapangan terlihat bahwa petani sangat bergairah menanam karena hasil panen terserap, harga di tingkat produsen memadai, dan pendapatan bersih petani memberikan keuntungan setelah dikurangi biaya produksi. Kepastian tersebut menjadi modal penting agar petani bersedia melanjutkan usaha pada musim tanam berikutnya. Kebijakan seperti ini harus dijaga dan dipertahankan agar swasembada dapat berkelanjutan. Karena pemikirian petani itu sederhana, diminta menanam apapun akan terlaksana asalkan ada kepastian harga.
Sebagai contoh di Desa Kudikan, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, salah satu mitra binaan Fakultas Ketahanan Pangan Unesa dan Komunitas Sekolah Tangguh untuk Ketahanan Pangan Rakyat (Sentra), petani bergotong royong mengembangkan lahan rawa untuk menanam padi dan bawang merah. Pada musim hujan, lahan rawa berfungsi sebagai tempat penampungan air untuk irigasi lahan sawah. Sedangkan saat musim kemarau lahan tersebut sebenarnya dapat ditanami namun selama belasan tahun dibiarkan karena biaya produksi tinggi sementara harga gabah rendah.
Kondisi tersebut berbeda dengan saat ini ketika pupuk mudah didapat dan harga gabah terjaga. Petani antusias mengolah lahan rawa dan hasilnya cukup menggembirakan, rata-rata petani menghasilkan 7 ton per hektar. Praktik ini memperlihatkan bahwa potensi lokal dapat menjadi pintu masuk diversifikasi usaha tani. Pengembangannya tentu perlu didukung kajian kesesuaian lahan, ketersediaan air, teknologi budidaya, akses pasar, dan perhitungan keuntungan agar tidak sekadar meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat pendapatan petani.
Kebijakan penyerapan harus berjalan beriringan dengan pengendalian biaya produksi, akses pembiayaan yang terjangkau, perbaikan irigasi, penggunaan teknologi tepat guna, perlindungan terhadap risiko gagal panen, dan penguatan kelembagaan petani. Pemerintah dan Bulog juga perlu menjaga keseimbangan antara harga yang layak bagi produsen dan harga pangan yang terjangkau bagi konsumen. Kesejahteraan petani bukan tambahan dari kebijakan swasembada. Kesejahteraan petani justru fondasinya.
Dari Beras Menuju Kemandirian Pangan
Tantangan selanjutnya adalah menjaga dan memperluas semangat kolaborasi dari beras menuju komoditas pangan lainnya. Ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan beras, tetapi juga kedelai, jagung, bawang merah, tebu, protein hewani, sayuran, dan sumber pangan lokal yang sesuai dengan potensi daerah.
Baca juga: Gerbang Toll PBNU, Gerakan Bareng Tolak LPJ PBNU
Setiap komoditas membutuhkan strategi berbeda. Untuk itu, pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, lembaga pembiayaan, dan kelompok tani perlu menyusun peta jalan bersama berdasarkan potensi wilayah dan kebutuhan pasar. Penguatan produksi harus diikuti pengolahan pascapanen, hilirisasi, dan kepastian pembeli agar nilai tambah tidak berhenti di tingkat perantara.
Diversifikasi juga penting untuk mengurangi risiko ketika satu komoditas mengalami penurunan harga atau gangguan produksi. Dengan usaha tani yang lebih beragam dan terhubung dengan pasar, petani memiliki peluang memperkuat pendapatan sekaligus menjaga pasokan pangan masyarakat.
Menjaga Semangat Kerja Bersama
Capaian Bulog lebih dari 4 juta ton mengajarkan bahwa target besar dapat dicapai ketika banyak pihak bergerak bersama. Namun, pekerjaan selanjutnya yang tidak kalah penting adalah mempertahankan penyerapan, meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan, memperkuat cadangan pangan, dan memastikan petani menjadi pihak yang ikut menikmati hasil pembangunan.
Kolaborasi perlu dibangun sebagai ekosistem yang berkelanjutan, bukan hanya respons terhadap target tahunan. Evaluasi harus dilakukan secara berkala dengan indikator yang jelas. Produksi harus meningkat, hasil panen terserap, biaya usaha tani terkendali, keuntungan petani membaik, harga konsumen terjaga, dan lingkungan tetap lestari.
Pelajaran yang dapat diambil dari kegiatan tasyakuran hari ini selayaknya sebagai bahan muhasabah untuk meningkatkan komitmen agar bekerja lebih baik lagi dan kolaborasi lebih luas lagi. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, Bulog tidak dapat menyerap tanpa adanya produksi petani, akademisi tidak cukup berhenti pada riset dan inovasi, sedangkan dunia usaha tidak akan berkembang tanpa industri dan hilirisasi.
Bersama bisa bekerja sama menuju swasembada. Bukan hanya swasembada beras, melainkan kemandirian pangan yang lebih luas. Sebab, swasembada sesungguhnya bukan soal gudang penuh dengan tumpukan beras, tetapi ketika petani sejahtera, konsumen memperoleh pangan dengan harga selayaknya, dan produksi terus terjaga. Apakah semua itu dapat terwujud? Tentu saja bisa, jika kita menguatkan kolaborasi bersama. Wallahualam bissawab.
Editor : Redaksi