Kisah Siswa SMA di Pekalongan Diterima di 15 Kampus Top Dunia

author A. Mustaqim

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Ahmad Ali Rayyan Shahab. (Dok: Jurnas.net)
Ahmad Ali Rayyan Shahab. (Dok: Jurnas.net)

Jurnas.net -  Siswa Madrasah Aliah Negeri (MAN) Insan Cendikia Pekalongan (ICP), Ahmad Ali Rayyan Shahab, diterima di belasan kampus di berbagai negara. Siswa berusia 17 tahun ini mengantongi belasan Letter of Acceptance (LoA) atau surat resmi dari universitas yang menyatakan pelamar diterima sebagai mahasiswa. 

Sebanyak 15 LoA tersebut tersebar di enam negara, di antaranya Amerika, Australia, Belanda, Inggris, Kanada, dan Selandia Baru. Mengutip media sosial resmi MAN IC Pekalongan, kampus dan jurusannya yang menerima Rayyan cukup bergensi, sebagian masuk TOP 10 dan 50 Dunia. 

Beberapa diantaranya University of California, San Diego (UCSD) untuk jurusan Geoscience, University of California jurusan Environmental Engineering, University of British Columbia jurusan Bachelor of Applied Engineering, University of Manchester jurusan Environmental Science, dan University of Auckland jurusan Bachelor of Science in Environmental Science. 

Mencapai hal itu, Ali Rayyan mengaku langkahnya bukan seperti sulap. Sejak kecil Ali Rayyan dimotivasi oleh orang tua untuk go global. Motivasi yang diusahakan dengan sungguh-sungguh.

"Saya dimotivasi untuk lebih baik dari orang tua saya, dan lolos di kampus Top dunia," ujar Ali Rayyan melalui keterangan tertulis pada Senin, 6 April 2026. 

Keinginan go global Ali Rayyan wujudkan saat duduk kelas XI di MAN IC Pekalongan dengan mengikuti pertukaran pelajar (Program AFS) selama 10 bulan ke Finlandia. Di sana, Ali Rayyan hidup bersama keluarga angkat, belajar di sekolah bertaraf internasional, dan berteman dengan siswa yang berasal dari berbagai negara. 

Ia mengatakan belajar banyak hal saat di Finlandia. Itu termasuk tips untuk bisa lolos di Perguruan Tinggi Luar Negeri (PTLN). 

"Alhamdulillah secara akademik guru di Finland memberikan apresiasi dan rekomendasi. Begitun di kegiatan non akademik, banyak hal yang saya dapatkan. Khususnya tentang ilmu dan teknik lingkungan. Seperti pengelolaan sampah, air, dan lainnya," ujarnya. 

Sekembalinya kembali ke Indonesia, anak pertama dari lima bersaudara itu semangat bisa kuliah di luar negeri terus membara. Ali Rayyan mencari informasi, hadir di sejumlah event pameran pendidikan, diskusi dengan keluarga dan rekan orang tuanya yang memiliki pengalaman studi luar negeri. Ia juga mempersiapkan diri melihat jadwal pendaftaran masing-masing kampus yang dituju. 

Ali Rayyan juga beberapa kali berdiskusi dengan ayah dan ibunya. Ia mengatakan konsisten dengan jurusan yang disukai, yakni teknik dan ilmu lingkungan di sejumlah kampus terbaik dunia. "Sejak akhir tahun saya sudah ikut tes IELTS dan SAT sebagai salah satu modal penting. Disamping terus berlatih menuiis motivation letter," ujarnya.

Rayyan menilai kampus-kampus top di luar negeri sebagian besar tidak hanya menilai prestasi akademik dan kemampuan bahasa inggris. Lebih dari itu, hal yang dinilai berbagai hal yang telah dilakukan, yang telah diberikan, bagimana menuangkan ide besar, dan bagaimana bisa bekerja sama dengan tim. 

Di luar sekolah, Ali Rayyan aktif di alumni AFS bahkan menjadi ketua angkatan. Dia juga aktif di beberapa organisasi kepemudaan tentang lingkungan, seperti Green Generation dan Greenfaith. Sementara di internal sekolah, dia menjadi co-founder organisasi tentang lingkungan.

"Saya bersama teman-teman mendirikan organisasi Atma Bawana tentang pengelolaan sampah di sekolah berasrama. Banyak teman dan adik-adik kelas yang terlibat. Dukungan kepala MAN ICP, guru-guru, bahkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkot Pekalongan turut mengapresiasi. Semua ini ‘dilaporkan’ dalam proses seleksi masuk PTLN," ujar Ali Rayyan.

Selain di luar 'jalur bumi', Ali Rayyan mengaku usaha melalui doa terus dimunajatkan. Ia menyatakan orang tuanya selalu mengingatkan untuk selalu berdoa, hingga berpuasa.

Sosok yang hobi main basket itu menambahkan ada lima tips untuk tembus kampus luan negeri ternama. Pertama, punya mimpi dan mewujudkan mimpi itu dengan belajar, berkegiatan, dan berdoa. Kedua, persiapkan kemampuan bahasa inggris diatas rata-rata, pun kemampuan skolastik melalui tes Scholastic Assessment Test (SAT) sebagai standar tes internasional. 

Ketiga, punya passion pada keilmuan tertentu secara konsisten dan itu diwujudkan dalam pengetahuan, organisasi, dan aksi nyata. Tentu akan lebih baik lagi kalau memiliki riwayat akademik, misalnya memenangkan olimpiade tingkat nasional mata pelajaran tertentu. Keempat, memiliki kemampuan menulis untuk menuangkan pengalaman dan ide. Dan kelima, ikuti dan patuh pada orang tua serta berpasrah diri kepada Tuhan.

Ditanya tentang kampus mana yang akan dipilih dari 15 LoA yang sudah diterima, Rayyan berharap yang terbaik. Rayyan saat ini mengajukan beasiswa LPDP Garuda dan berharap lolos. Ia meyakini mimpinya untuk bisa menempuh pendidikan di kampus terbaik dunia masih terbuka lebar. 

"Semoga ilmu dan pengetahuannya bisa diaplikasikan untuk bangsa dan negara Indonesia. Mimpi bukan untuk ditunggu, tapi dikejar sejak dini," tandasnya. 

Berita Terbaru

SIER Dorong UMKM Lokal Perluas Pasar melalui Jatim Fest 2026

SIER Dorong UMKM Lokal Perluas Pasar melalui Jatim Fest 2026

Minggu, 04 Okt 2026 10:27 WIB

Minggu, 04 Okt 2026 10:27 WIB

Jurnas.net - PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) terus mendorong pengembangan dan perluasan akses pasar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah …

SIER Teken Dua LoI di EJIF 2026, Sinyal Kepercayaan Investor ke Kawasan Industri Jatim

SIER Teken Dua LoI di EJIF 2026, Sinyal Kepercayaan Investor ke Kawasan Industri Jatim

Sabtu, 03 Okt 2026 14:10 WIB

Sabtu, 03 Okt 2026 14:10 WIB

Jurnas.net — PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) kembali mencatatkan komitmen investasi melalui penandatanganan dua Letter of Intent (LoI) dengan PT F…

Tumpeng Raksasa 3 Meter Jadi Ikon HUT ke-20 SMAN 1 Kebomas, Sarat Makna Tradisi dan Kebersamaan

Tumpeng Raksasa 3 Meter Jadi Ikon HUT ke-20 SMAN 1 Kebomas, Sarat Makna Tradisi dan Kebersamaan

Rabu, 30 Sep 2026 21:15 WIB

Rabu, 30 Sep 2026 21:15 WIB

Jurnas.net – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-20 SMAN 1 Kebomas, Gresik, Jawa Timur, berlangsung meriah. Ribuan siswa larut dalam kemeriahan yang tidak hanya …

Gus Lilur: Saya Siap Perang Pidana, Tapi Ada 3 Syarat untuk Menepi dari Polemik NU

Gus Lilur: Saya Siap Perang Pidana, Tapi Ada 3 Syarat untuk Menepi dari Polemik NU

Selasa, 29 Sep 2026 13:18 WIB

Selasa, 29 Sep 2026 13:18 WIB

Jurnas.net - Polemik pasca-Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, belum sepenuhnya mereda. Warga…

Raih Suara Terbanyak di Muswil VI, Lutfi J. Kurniawan Dorong Reposisi KAHMI Jatim sebagai Kekuatan Intelektual dan Civil

Raih Suara Terbanyak di Muswil VI, Lutfi J. Kurniawan Dorong Reposisi KAHMI Jatim sebagai Kekuatan Intelektual dan Civil

Senin, 28 Sep 2026 08:16 WIB

Senin, 28 Sep 2026 08:16 WIB

Jurnas.net – Lutfi J. Kurniawan, peraih suara terbanyak dalam pemilihan Presidium Majelis Wilayah (MW) Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Jawa Timur …

NU, GUS DUR, DAN BROMOCORAH POLITIK

NU, GUS DUR, DAN BROMOCORAH POLITIK

Minggu, 27 Sep 2026 19:15 WIB

Minggu, 27 Sep 2026 19:15 WIB

Oleh: HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy Warga NU, Kiai Kampung Penulis buku _Prabowo untuk Indonesia Raya_ Untuk memahami judul di atas, kita perlu lebih …