Jurnas.net – Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia menyindir kalangan politikus senior yang dinilainya masih perlu belajar menerima kemenangan dan kekalahan secara sportif.
Pesan itu disampaikan Bahlil saat menghadiri partai final turnamen Bahlil Mini Soccer Asyik Menuju Puncak di Lapangan THOR, Surabaya, Minggu malam, 18 Oktober 2026.
Menurut Bahlil, kompetisi olahraga tidak sekadar menjadi ajang untuk memperebutkan trofi dan hadiah. Lebih dari itu, pertandingan sepak bola mengajarkan nilai kejujuran, kerja sama, kedisiplinan, serta kesiapan menerima hasil kompetisi secara adil.
"Main bola ini sebenarnya filosofinya sederhana. Tapi kalau kita menjiwai, ada proses pertarungan yang fair, ada kesehatan, ada militansi, ada kerja sama," kata Bahlil, di hadapan peserta dan tamu undangan.
Ia kemudian mengaitkan nilai sportivitas dalam sepak bola dengan kehidupan politik. Menurut dia, setiap orang harus siap menerima hasil kompetisi, baik kemenangan maupun kekalahan.
"Rata-rata kalau kita berpolitik selalu membawa perasaan. Politik itu fair-fair saja, sama dengan main bola. Menang, ya sudah menang. Kalau kalah, ya sudah kalah. Tunggu pertandingan lagi, baru ikut main untuk merebut kemenangan," ujarnya.
Bahlil menegaskan, keinginan untuk menang harus dibarengi perjuangan melalui proses yang adil. Seseorang tidak seharusnya menginginkan hasil akhir tanpa melewati kompetisi secara sungguh-sungguh.
"Jangan kalah dalam bermain bola, tapi pengin mendapatkan piala. Kalau pengin mendapatkan piala, berjuanglah sebesar-besarnya untuk memenangkan kompetisi," tegasnya.
Bahlil: Biar Anak Muda Ajari Senior Sportivitas
Bahlil bahkan meminta kalangan senior belajar dari generasi muda apabila belum mampu menunjukkan sikap sportif dalam berkompetisi.
Menurut dia, anak muda tidak seharusnya hanya diposisikan sebagai objek pembinaan, tetapi juga dapat menjadi teladan dalam menerapkan nilai-nilai positif, termasuk dalam kehidupan politik. "Kalau para seniornya enggak bisa sportif, biarlah anak-anak dan junior-junior yang mengajari kita untuk sportif," katanya.
Ia juga mengkritik sikap yang dinilainya tidak menghormati proses dan hasil kompetisi. "Jangan pengin menjadi kapten kesebelasan kalau pertandingan sudah selesai. Ini rata-rata kita enggak sportif di situ," ujar Bahlil.
Bahlil menilai, prinsip sportivitas dalam olahraga relevan diterapkan dalam politik. Persaingan seharusnya berlangsung sesuai aturan, sementara hasil kompetisi mesti diterima dengan lapang dada.
Ia berharap para pelajar yang mengikuti turnamen tersebut dapat membawa nilai-nilai itu ke kehidupan sehari-hari, termasuk ketika kelak terlibat dalam berbagai bidang profesi dan kepemimpinan.
Bangsa Indonesia, kata Bahlil, memiliki masa depan yang sangat bergantung pada kemampuan generasi muda dalam mengembangkan potensi dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan.
"Bangsa ini ke depan masa depannya tergantung pada adik-adik saya, generasi Gen Z dan generasi di bawah saya. Karena itu, kita berikan aplaus sportivitas kepada mereka semua," ucapnya.
Turnamen Diikuti 176 Tim dan Pecahkan Rekor MURI
Turnamen yang digelar DPD Partai Golkar Jawa Timur tersebut mencatatkan rekor di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Sebanyak 176 tim dengan total 2.640 pemain dan ofisial terlibat dalam kompetisi mini soccer antarpelajar tersebut. Jumlah peserta itu menjadi dasar pencatatan rekor sebagai turnamen mini soccer antarpelajar dengan jumlah tim terbanyak.
Representatif MURI, Sri Widayati, menyerahkan piagam penghargaan kepada Bahlil sebagai bentuk pengakuan atas pencapaian tersebut. Sri mengatakan, turnamen ini menunjukkan kepedulian penyelenggara terhadap pembinaan prestasi generasi muda melalui olahraga.
"Turnamen mini soccer terbesar dengan peserta terbanyak yang belum pernah ada sebelumnya. Sehingga kita patut bangga kepada Partai Golkar yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap pembinaan prestasi anak muda," kata Sri.
Menurut dia, kompetisi olahraga juga memberikan kesempatan kepada para pelajar untuk belajar membangun solidaritas dan bekerja sama demi mencapai prestasi.
"Melalui turnamen ini, para peserta dilatih untuk membangun dan menjaga solidaritas untuk bersama-sama mencapai puncak prestasi," ujarnya.
Pencatatan rekor MURI menjadi salah satu capaian utama turnamen yang mempertemukan tim-tim pelajar dari berbagai zona di Jawa Timur.
SMAN 3 Bojonegoro Juara, Hadiah Rp 188,5 Juta
Dalam pertandingan final, SMAN 3 Bojonegoro keluar sebagai juara setelah mengalahkan SMAN Ngoro Jombang dengan skor 5-2. Bahlil hadir langsung menyaksikan pertandingan sekaligus menyerahkan trofi kepada para juara.
Turnamen Bahlil Mini Soccer Asyik Menuju Puncak menyediakan total hadiah Rp 188,5 juta. Dari jumlah tersebut, Rp 62 juta diperebutkan pada babak Grand Champions.
Untuk kategori juara utama, panitia menyiapkan hadiah Rp 20 juta bagi juara pertama, Rp 15 juta untuk juara kedua, Rp 10 juta bagi juara ketiga, dan Rp 5 juta untuk juara keempat.
Dalam kesempatan tersebut, Bahlil juga menyampaikan apresiasi kepada DPD Partai Golkar Jawa Timur di bawah kepemimpinan Ali Mufthi, jajaran panitia, serta Radar sebagai mitra penyelenggara.
Bahlil mengaku menyempatkan diri menghadiri final meskipun sebelumnya memiliki agenda rapat. Ia menyebut kehadirannya sebagai bentuk komitmen untuk memenuhi janji sekaligus menunjukkan perhatian kepada generasi muda.
"Tadi saya hampir tidak bisa hadir karena ada rapat, tapi karena saya sudah janji sama Pak Ali dan saya sangat cinta sama adik-adik saya generasi di bawah saya, Gen Z khususnya," ungkapnya.
Melalui turnamen tersebut, Golkar Jawa Timur berharap pembinaan generasi muda melalui olahraga dapat terus berlanjut. Selain membuka ruang kompetisi bagi pelajar, kegiatan ini diharapkan menanamkan kedisiplinan, kerja sama, dan sportivitas yang dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Editor : Amal