Jurnas.net – Banyuwangi bersiap memiliki salah satu pusat pendidikan terpadu terbesar di Jawa Timur melalui pembangunan Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah pusat. Proyek pendidikan berkonsep modern yang berdiri di atas lahan seluas tujuh hektare tersebut kini telah memasuki tahap akhir dengan progres pembangunan mencapai sekitar 75 persen.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengatakan pembangunan Sekolah Rakyat yang berlokasi di Desa Blambangan, Kecamatan Muncar, terus berjalan sesuai target. Kehadiran sekolah tersebut diharapkan menjadi solusi perluasan akses pendidikan berkualitas bagi masyarakat, khususnya bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Baca juga: Banyuwangi Diserbu 90 Ribu Wisatawan Saat Libur Panjang, Hotel Penuh dan Destinasi Membludak
"Saya sudah meninjau langsung progres pembangunannya. Saat ini pembangunan Sekolah Rakyat Banyuwangi telah mencapai 75 persen. Semoga seluruh pekerjaan berjalan tepat waktu dan segera bisa dimanfaatkan oleh anak-anak yang membutuhkan," kata Ipuk, Rabu, 10 Juni 2026.
Sambil menunggu pembangunan kampus utama selesai, kegiatan belajar mengajar Sekolah Rakyat Banyuwangi sementara dilaksanakan di dua lokasi, yakni Balai Diklat milik Pemerintah Kabupaten Banyuwangi di Kecamatan Licin dan kompleks Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) di Kecamatan Muncar.
Sekolah Rakyat Banyuwangi dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum di atas lahan milik Pemkab Banyuwangi. Kawasan pendidikan ini dirancang sebagai sekolah terpadu yang mencakup jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan kapasitas sekitar 1.000 siswa.
Tak hanya menyediakan ruang belajar, kawasan pendidikan tersebut juga dilengkapi berbagai fasilitas penunjang yang dirancang untuk mendukung proses pembelajaran dan pengembangan karakter peserta didik. Fasilitas yang dibangun meliputi gedung sekolah SD, SMP, dan SMA masing-masing dua lantai, asrama putra dan putri untuk setiap jenjang pendidikan, rumah susun guru, gedung serbaguna, masjid, gedung ibadah, dapur umum, hingga kantin terpisah untuk setiap jenjang sekolah.
Baca juga: Rembug Lansia Jadi Instrumen Banyuwangi Wujudkan Pembangunan Inklusif dan Berkeadilan
Selain itu, tersedia pula berbagai sarana pendukung lainnya seperti lapangan upacara, lapangan sepak bola, lapangan basket, jogging track, greenhouse, guest house, area parkir, rumah genset, rumah pompa, gudang perawatan, pos keamanan, instalasi pengolahan limbah dapur, hingga sistem penunjang kawasan lainnya.
"Semoga seluruh fasilitas ini dapat dimanfaatkan dengan baik sehingga mampu menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, aman, dan berkualitas bagi para siswa," ujar Ipuk.
Sementara itu, Manajemen Konstruksi proyek Sekolah Rakyat Banyuwangi, Johansyah, menjelaskan bahwa percepatan pembangunan terus dilakukan agar seluruh pekerjaan dapat selesai sesuai target pada 20 Juni 2026. Menurutnya, secara keseluruhan progres pembangunan saat ini telah mencapai sekitar 77 persen. Sejumlah bangunan utama seperti ruang kelas, asrama, serta fasilitas penunjang lainnya telah memasuki tahap penyelesaian akhir.
Baca juga: Perkins International Pilih Banyuwangi sebagai Percontohan Pengembangan Anak Usia Dini Inklusif
"Hingga hari ini progres pembangunan sudah mencapai 77 persen. Untuk asrama, gedung sekolah, dan berbagai fasilitas penunjang rata-rata berada di kisaran 75 hingga 80 persen. Target kami seluruh pekerjaan selesai bulan ini," kata Johansyah.
Ia menambahkan, Sekolah Rakyat Banyuwangi akan memiliki total 38 rombongan belajar yang terdiri dari 18 rombongan belajar tingkat SD, sembilan rombongan belajar SMP, dan sembilan rombongan belajar SMA.
Dengan kapasitas yang besar serta fasilitas yang lengkap, Sekolah Rakyat Banyuwangi diharapkan menjadi salah satu model pendidikan inklusif yang mampu memperluas akses pendidikan berkualitas sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Banyuwangi dan sekitarnya.
Editor : Risfil Athon