Jurnas.net – PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk mendorong pembangunan industri yang berkelanjutan melalui penguatan riset, inovasi, dan teknologi. Langkah tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) tentang Sinergi Program Pembangunan Kota Surabaya yang berlangsung dalam Festival Riset dan Inovasi di Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya, Sabtu, 25 Juli 2026.
Kerja sama ini menjadi pijakan awal bagi kolaborasi antara kawasan industri, pemerintah, akademisi, dan lembaga riset dalam membangun ekosistem pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan.
Baca juga: SIER Perkuat Kampung Iklim Nasional, Bantu Dropbox dan Komposter ke 12 Kelurahan di Surabaya
Penandatanganan MoU dilakukan oleh Staf Ahli Wali Kota Surabaya Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Bisukma Kurniawati, yang mewakili Pemerintah Kota Surabaya, bersama Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PT SIER Rizka Syafittri Siregar.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Komisaris PT SIER Arif Budi Santoso dan Indra Nur Fauzi, Direktur Kelembagaan Ahmad Fahrudin, Direktur Pemasaran dan Pengembangan Jefri Ikhwan Ma'arif, Direktur Operasi Yohanes Deddy Setiawan, serta sejumlah pemangku kepentingan dari pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia riset.
Plt Direktur Utama PT SIER, Rizka Syafittri Siregar, mengatakan, kerja sama tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi antara kawasan industri dengan pemerintah daerah dalam menghadirkan program pembangunan yang berbasis inovasi dan berorientasi pada keberlanjutan.
Menurutnya, sebagai anggota Holding BUMN Danareksa, SIER memandang Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya memiliki peran penting sebagai motor penggerak pengembangan riset yang dapat mendukung transformasi kawasan industri.
"Ekosistem lingkungan yang dikolaborasikan dengan inovasi dan teknologi akan menjadi daya dukung sekaligus daya dorong bagi keberlanjutan (sustainability). Karena itu kami sangat mendukung upaya Pemerintah Kota Surabaya dalam menjaga keberlangsungan ekosistem lingkungan melalui penguatan riset, teknologi, dan inovasi," ujar Rizka.
Ia menegaskan, penandatanganan MoU bukan sekadar seremoni, melainkan awal dari implementasi berbagai program yang akan dikembangkan bersama perangkat daerah dan institusi di bawah Pemerintah Kota Surabaya. "Kami ingin SIER sebagai kawasan industri membuka peluang kolaborasi seluas-luasnya dengan Pemkot Surabaya. Setelah MoU ini akan ada pendetailan program. Jadi tidak berhenti pada penandatanganan, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata," katanya.
Baca juga: PT SIER Catat Laba Bersih Rp188,8 Miliar pada 2025, Naik 56 Persen dan Dividen Terus Meningkat
Sebagai tindak lanjut awal, SIER akan menggandeng BRIDA Kota Surabaya untuk menyusun berbagai program riset yang relevan dengan kebutuhan kawasan industri, termasuk pengembangan inovasi yang mendukung efisiensi operasional sekaligus pelestarian lingkungan. "Yang pertama akan kami eksekusi adalah kerja sama dengan BRIDA untuk berbagai riset. Kawasan industri tentu membutuhkan riset dan inovasi agar mampu terus berkembang secara berkelanjutan. Ke depan kami akan mengerucutkan bentuk kerja sama tersebut bersama tim BRIDA," ujarnya.
Kepala BRIDA Kota Surabaya Agus Imam Sonhaji menjelaskan, Festival Riset dan Inovasi merupakan salah satu agenda utama dalam peringatan Hari Ulang Tahun Ke-3 Kebun Raya Mangrove Surabaya, selain penyelenggaraan SIER Mangrove Eco Run. Menurut Agus, festival tersebut menjadi wadah mempertemukan hasil riset, inovasi, perguruan tinggi, sekolah, pelaku industri, hingga masyarakat melalui pameran dan forum diskusi.
"Festival ini menjadi wadah mempertemukan hasil-hasil riset dan inovasi dengan masyarakat. Selain pameran, juga ada talkshow bersama berbagai stakeholder, salah satunya PT SIER. Rangkaian kegiatan juga dilanjutkan dengan SIER Mangrove Eco Run kategori 3K dan 5K yang sebagian lintasannya merupakan jalur trail di kawasan mangrove," katanya.
Mewakili Pemerintah Kota Surabaya, Staf Ahli Wali Kota Surabaya Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Bisukma Kurniawati, menegaskan Kebun Raya Mangrove tidak hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi, tetapi juga menjadi laboratorium hidup yang menghubungkan riset, pendidikan, inovasi, hingga perumusan kebijakan publik.
Baca juga: Peringati Hari Donor Darah Sedunia, SIER Perkuat Kepedulian Sosial Lewat Donor Darah
"Kebun Raya Mangrove menghubungkan konservasi dengan penelitian, penelitian dengan pendidikan, pendidikan dengan inovasi, inovasi dengan kebijakan publik, hingga pada akhirnya bermuara pada kesejahteraan masyarakat," ujarnya.
Menurut Bisukma, pembangunan ekonomi dan industri tidak boleh dipisahkan dari upaya menjaga kelestarian lingkungan. "Mari jadikan Kebun Raya Mangrove sebagai simbol bahwa Indonesia memilih jalan keseimbangan. Pembangunan, termasuk industri, dan pelestarian lingkungan bukanlah dua kutub yang saling bertentangan, melainkan dua sisi dari masa depan yang sama. Jika abad ke-20 adalah abad perkembangan industri, maka abad ke-21 harus menjadi abad membangun kembali hubungan manusia dengan alam," katanya.
Sementara itu, Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), R. Hendrian, mengapresiasi perkembangan Kebun Raya Mangrove Surabaya yang kini menjadi salah satu kebun raya terbaik di Indonesia. Menurut dia, Kebun Raya Mangrove Surabaya saat ini menempati peringkat kedua nasional dalam pengelolaan kebun raya. Kawasan tersebut memiliki 74 spesies tumbuhan yang mewakili 51 genus dan 32 famili, sekaligus menjadi salah satu dari sedikit kebun raya di dunia yang secara khusus didedikasikan untuk konservasi mangrove.
Ia menjelaskan, sesuai Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2023, kebun raya memiliki lima fungsi utama, yaitu penelitian, konservasi, pendidikan lingkungan, wisata konservasi, dan layanan ekosistem. "Dengan berbagai fungsi tersebut, Kebun Raya Mangrove Surabaya memiliki peran yang sangat penting sebagai pusat konservasi sekaligus pemanfaatan riset dan inovasi untuk mendukung pembangunan berkelanjutan," ujar Hendrian.
Editor : Risfil Athon