Kisah Biarawati Katholik Asal Timor Lester Beri Ceramah di Unisa Yogyakarta

Reporter : A. Mustaqim
Seorang biarawati asal Timor Lester berpidato saat Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-27 di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan, Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta.

Jurnas.net - Suster Dulce Maria Guterres, FDCC, seorang biarawati Katolik asal Timor-Leste berdiri pada mimbar saat Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-27 di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan, Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta. Suster Dulce merupakan salah satu di antara lulusan yang diwisuda pada momen itu. 

Suster Dulce meraih gelar Magister Kebidanan dari Fakultas Ilmu Kesehatan, UNISA Yogyakarta. Menempuh studi di institusi pendidikan tinggi berbasis nilai-nilai keislaman seperti UNISA Yogyakarta, Suster Dulce mengaku sempat dirayapi rasa cemas saat pertama kali menginjakkan kaki. Faktor usia yang tak lagi muda serta keterbatasan yang dimilikinya sempat memunculkan keraguan dalam batinnya. 

Baca juga: Bahaya Eksploitasi Digital di Balik Konten Lucu Anak

"Kekhawatiran tersebut perlahan pudar oleh ketulusan. Kehangatan, kelembutan, dan keterbukaan dari seluruh civitas academika menyambut kehadiran saya. UNISA bukan sekadar institusi pendidikan tinggi, melainkan sebuah oase dan rumah rohani yang menghadirkan rasa aman serta kedamaian bagi jiwa," ungkap Suster Dulce dalam keterangan tertulis pada Jumat, 2 Oktober 2026. 

Hari berganti hari. Bulan terus berganti, dan juga tahun, membuatnya terus belajar. Menurutnya, pengalaman kehidupan yang dilalui selama di Yogyakarta membuatkan kian yakin. 

"Pengalaman hidup ini makin meneguhkan keyakinan saya, bahwa ilmu pengetahuan dan pelayanan kemanusiaan adalah panggilan universal. Keduanya mampu meruntuhkan setiap sekat perbedaan, baik usia, latar belakang budaya, maupun keyakinan," ujarnya. 

Baca juga: MBG dan KDMP yang Gerus Ruang Fiskal Dinilai Bebani Kesejahteraan Masyarakat 

Ia berharap, kelulusannya ini dapat menjadi seutas benang emas yang mempererat jembatan kasih dan persahabatan. Lebih dari itu, ia juga berharap bisa menguatkan kerja sama antara Timor-Leste dan Indonesia dalam memajukan peradaban kesehatan kemanusiaan. 

Sementara itu, Rektor Unisa Yogyakarta, Warsiti mengatakan wisuda periode ke-27 UNISA Yogyakarta berhasil meluluskan sebanyak 928 lulusan dari program magister, sarjana, sarjana terapan, dan diploma. Dari total tersebut, sebanyak 779 lulusan (83,94%) berhasil meraih predikat Cumlaude. Capaian IPK tertinggi diraih pada Program Pascasarjana dengan nilai sempurna 4,00 (rerata 3,92). 

"Saya merasa bangga dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh lulusan dan para orang tua yang telah memercayakan putra-putrinya," kata dia. 

Baca juga: Semarak HUT ke-81 KAI, 30 Tim Adu Kuat Tarik Lokomotif 84 Ton

Warsiti mengingatkan bahwa ijazah dan gelar yang diterima bukanlah akhir dari proses menuntut ilmu. Lebih dari itu, ijazah menjadi gerbang awal untuk menghadapi dunia nyata yang penuh dinamika dan tantangan persaingan. 

"Teknologi boleh semakin canggih, tetapi integritas tidak boleh tergantikan. Kecerdasan buatan boleh membantu kita bekerja lebih cepat, tetapi empati, kepedulian, tanggung jawab, dan kemampuan memahami manusia tetap menjadi kekuatan yang sangat penting," kata dia. 

Editor : A. Mustaqim

Politik & Pemerintahan
Berita Terpopuler
Berita Terbaru