Banyuwangi Latih Ratusan Takmir Masjid Jadi Affiliate, Bantu UMKM Lepas dari Jeratan Pinjol

Reporter : Wulansari
Pelatihan Masjid Affiliate diikuti sekitar ratusan pengurus masjid atau takmir se-Banyuwangi. (Humas Pemkab Banyuwangi)

Jurnas.net – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi mendorong masjid tidak hanya menjadi pusat kegiatan ibadah, tetapi juga berperan dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat. Salah satu upayanya dilakukan melalui pelatihan Masjid Affiliate yang diikuti sekitar 150 pengurus masjid atau takmir se-Banyuwangi.

Pelatihan yang digelar pada Rabu (21/10/2026) tersebut bertujuan membekali pengurus masjid dengan pengetahuan untuk membantu memasarkan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di lingkungan sekitar.

Baca juga: Festival Anak Sholeh Banyuwangi Diikuti 665 Pelajar, Pemkab Tanamkan Nilai Agama Sejak Dini

Melalui program ini, masjid diharapkan menjadi penghubung antara pelaku usaha lokal dan pasar yang lebih luas. Dengan demikian, keberadaan masjid dapat memberikan manfaat ekonomi bagi jamaah sekaligus masyarakat di sekitarnya.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab Banyuwangi, M. Yanuarto Bramuda, mengatakan, konsep Masjid Affiliate menempatkan masjid sebagai pusat solusi atas berbagai persoalan sosial dan ekonomi masyarakat. Salah satu caranya adalah membantu pelaku UMKM memasarkan produk melalui jejaring masjid sehingga usaha mereka berpeluang berkembang tanpa harus bergantung pada sumber pembiayaan yang berisiko.

"Masjid diharapkan tidak sekadar tempat salat, tetapi juga tempat mencari solusi kerakyatan. Termasuk membantu UMKM membebaskan diri dari jeratan pinjaman online ilegal maupun bank plecit," kata Bramuda.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengatakan masjid memiliki potensi besar untuk ikut meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, pengelolaan aset dan kegiatan masjid perlu dikembangkan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas. Menurut Ipuk, memakmurkan masjid tidak hanya berkaitan dengan aktivitas peribadatan, tetapi juga bagaimana keberadaannya mampu memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan masyarakat.

"Memakmurkan masjid adalah sunah Rasul. Saya berharap pelatihan hari ini menjadi bagian dari upaya memanfaatkan aset masjid untuk kesejahteraan masyarakat, pemberdayaan masyarakat, sekaligus memakmurkan masjid itu sendiri," kata Ipuk.

Ia berharap para peserta dapat menyerap pengetahuan dari narasumber, kemudian menerapkannya sesuai dengan potensi dan kebutuhan masjid masing-masing. Dengan pengelolaan yang tepat, masjid diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi bagi masyarakat, termasuk dalam mengembangkan usaha dan memperluas pemasaran produk lokal.

Ipuk juga menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam kegiatan dan kepengurusan masjid. Ia menceritakan pengalamannya saat aktif menjadi pengurus remaja masjid ketika tinggal di Jakarta. Pengalaman tersebut membuatnya memahami besarnya potensi anak muda dalam menghidupkan kegiatan masjid.

"Mudah-mudahan dengan hadirnya anak-anak muda yang mau merelakan waktu dan tenaganya untuk memakmurkan masjid melalui program affiliate ini, pengelolaan masjid kita semakin lebih baik," tuturnya.

Baca juga: Liliane Foundation Dukung Banyuwangi Jadi Daerah Inklusif, 155 Anak Disabilitas Dapat Pendampingan

Pelatihan Masjid Affiliate di Banyuwangi diikuti sekitar 150 peserta dari berbagai masjid. Kegiatan tersebut juga melibatkan sejumlah ibu pelaku UMKM yang berpotensi mengembangkan usahanya melalui jejaring pemasaran.

Pemkab Banyuwangi menghadirkan dua narasumber muda dari Masjid Affiliate Al-Kahfi Bandung, yakni Anggrita Putra Utama dan Muhammad Tristan Azaria. Masjid tersebut disebut telah berhasil mengembangkan usaha dengan omzet lebih dari Rp 1 miliar.

Kehadiran kedua narasumber diharapkan memberikan gambaran kepada para peserta mengenai cara mengembangkan masjid sebagai bagian dari ekosistem ekonomi masyarakat. Melalui model affiliate, pengurus masjid dapat membantu memperkenalkan dan memasarkan produk UMKM kepada konsumen yang lebih luas. Pola tersebut diharapkan membuka peluang tambahan bagi pelaku usaha untuk meningkatkan penjualan.

Bagi UMKM, dukungan jejaring pemasaran menjadi salah satu faktor penting untuk memperluas jangkauan pasar. Sementara bagi masjid, keterlibatan dalam kegiatan ekonomi masyarakat dapat menjadi sarana memperkuat peran sosialnya. Meski demikian, penerapan program di setiap masjid perlu disesuaikan dengan kapasitas pengurus, kebutuhan pelaku usaha, serta potensi pasar di lingkungan masing-masing.

Dukungan terhadap program tersebut juga disampaikan Ketua Takmir Masjid Besar Attaqwa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Umar Sugianto. Ia menilai pelatihan tersebut dapat menambah wawasan pengurus masjid sekaligus membuka peluang kerja sama dengan pelaku usaha di lingkungan sekitar.

Baca juga: Zakat Tembus Rp18 Miliar di Surabaya, Eri Cahyadi Sebut Masjid Cheng Hoo Simbol Gotong Royong

"Pelatihan ini sangat membantu, terutama untuk menambah pengetahuan pengurus masjid sekaligus memperluas jejaring dalam membantu pelaku usaha di lingkungan sekitar masjid," kata Umar.

Menurut dia, pengetahuan yang diperoleh dalam pelatihan diharapkan dapat diterapkan untuk memperkuat peran masjid dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. Pelatihan Masjid Affiliate ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Pemkab Banyuwangi dalam menyambut Hari Santri Nasional (HSN) 2026.

Sebelumnya, Pemkab Banyuwangi juga menggelar pemeriksaan kesehatan gratis bagi ribuan santri, Rembug Santri, serta program Santri Mengajar. Kegiatan Masjid Affiliate terlaksana melalui sinergi Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an (LPTQ) Banyuwangi, dengan dukungan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dewan Masjid Indonesia (DMI) Banyuwangi, dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Melalui program ini, Pemkab Banyuwangi berharap masjid dapat semakin berperan sebagai pusat pemberdayaan umat, termasuk membantu UMKM memperluas pasar, meningkatkan kemandirian ekonomi, dan memperoleh akses pembiayaan yang lebih aman.

Editor : Risfil Athon

Politik & Pemerintahan
Berita Terpopuler
Berita Terbaru