Surabaya Gelar Lomba Kampung Pancasila, 4 Pilar Jadi Dasar dan Penilaian Hingga Desember

author Insani

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meninjau salah satu lingkungan RW di wilayahnya. (Humas Pemkot Surabaya)
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meninjau salah satu lingkungan RW di wilayahnya. (Humas Pemkot Surabaya)

Jurnas.net — Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya akan menggelar Lomba Kampung Pancasila mulai September hingga Desember 2026. Sebanyak 1.360 RW yang tersebar di 153 kelurahan di Surabaya akan dilibatkan dalam kompetisi tersebut.

Tak sekadar mencari kampung dengan lingkungan paling bersih, lomba tersebut dirancang untuk melihat sejauh mana nilai-nilai Pancasila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Kampung Pancasila yang juga Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya, Irvan Widyanto, mengatakan setiap RW diharapkan mengikuti lomba bersama seluruh RT di wilayahnya.

"Dalam waktu dekat, Pemerintah Kota Surabaya menyelenggarakan rencana Lomba Kampung Pancasila. Lomba Kampung Pancasila itu sendiri nanti tetap basis penilaiannya ada pada empat pilar," kata Irvan, Rabu, 19 Agustus 2026.

Irvan menjelaskan, empat pilar yang menjadi dasar penilaian adalah lingkungan, kemasyarakatan, ekonomi, serta sosial budaya. Pada pilar lingkungan, salah satu indikator utama yang dinilai adalah kemampuan warga mengurangi sampah sejak dari sumbernya.

Artinya, pemilahan sampah diharapkan sudah dilakukan mulai dari tingkat rumah tangga, kemudian dilanjutkan di lingkungan RT dan RW. "Dari rumah tangga itu sudah diharapkan setiap rumah tangga yang ada di masing-masing warga di level RT maupun RW sudah melakukan pemilahan," kata Irvan.

Sementara itu, pilar kemasyarakatan mencakup aspek keamanan lingkungan. Beberapa indikatornya antara lain keberadaan jadwal keamanan, pemanfaatan CCTV hingga upaya menciptakan kampung yang aman dari pencurian kendaraan bermotor (curanmor).

Adapun pilar ekonomi tidak hanya menilai aktivitas usaha warga, tetapi juga kepedulian sosial dan kemandirian ekonomi masyarakat. Salah satu indikatornya adalah keberadaan donasi warga untuk membantu masyarakat yang membutuhkan sekaligus mendukung perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

"Di level RT dan RW bagaimana warga yang mampu bisa membantu warga yang kurang mampu, itu filosofinya, sampai pelaku UMKM dan lain sebagainya," ujar Irvan.

Untuk pilar sosial budaya, penilaian mencakup persoalan kesehatan dan pendidikan, termasuk kepedulian terhadap anak putus sekolah. "Di pilar sosial budaya, ini terkait dengan kesehatan, terkait juga dengan pendidikan dan sampai (perhatian) pada anak putus sekolah dan lain sebagainya," katanya.

Data aplikasi Sayang Warga ikut menentukan
Seluruh RW di 153 kelurahan akan menjadi peserta lomba. Pemkot Surabaya mendorong setiap RW mendaftarkan wilayahnya bersama seluruh RT yang berada di dalamnya. "Diharapkan peserta nantinya diikuti oleh seluruh RW di 153 kelurahan dan seluruh RW wajib daftar dengan seluruh RT yang ada di dalam RW itu," kata Irvan.

Pendaftaran dilakukan secara daring melalui formulir yang disiapkan Pemkot Surabaya. Rangkaian lomba dimulai dengan peluncuran pada September 2026 dan berlangsung hingga Desember. Tahapannya meliputi peluncuran, pendaftaran daring, seleksi administrasi, hingga verifikasi lapangan.

Menariknya, proses seleksi administrasi akan memanfaatkan data dari aplikasi Sayang Warga. Pengisian self assessment oleh RT dan RW yang dilakukan secara rutin setiap bulan menjadi salah satu bagian penting dalam proses penilaian. "Seleksi administrasi ini salah satunya terkait dengan isian pada aplikasi Sayang Warga. Jadi, Pak RT dan Pak RW kan setiap bulan mengisi yang namanya self assessment," ujar Irvan.

Karena itu, Irvan meminta RT dan RW memastikan pengisian data oleh Kader Surabaya Hebat (KSH) melalui aplikasi tersebut berjalan dengan baik. "Pak RT dan Pak RW harus mengecek pengisian di aplikasi Sayang Warga yang dilakukan oleh ibu-ibu KSH," pesannya.

Data self assessment tersebut nantinya akan menghasilkan skor yang menjadi salah satu komponen penilaian. "Pengisiannya seperti apa dari self assessment itu nanti akan muncul scoring-scoring yang nanti akan dinilai secara langsung," kata Irvan.

Setelah seleksi administrasi, peserta akan menjalani verifikasi lapangan. Tim juri akan melibatkan sejumlah unsur, mulai dari perangkat daerah (PD) Pemkot Surabaya, akademisi, media hingga praktisi. Dari 1.360 RW, verifikasi lapangan tahap pertama akan menyaring peserta menjadi 500 RW terbaik.

"Tahapan kompetisi nanti ada registrasi, kemudian ada verifikasi lapangan yang pertama, yaitu dari 1.360 RW nanti akan disaring menjadi 500 besar RW," ujar Irvan.

Sebanyak 500 RW terpilih kemudian kembali menjalani verifikasi lapangan tahap kedua untuk menentukan 200 RW terbaik. "Setelah terverifikasi menjadi 500 RW terbaik, maka akan ada verifikasi lapangan kedua untuk menyaring menjadi 200 RW yang menjadi terbaik atau alias juara," katanya.

Selanjutnya, 200 RW tersebut akan dibagi ke dalam dua kategori berdasarkan jumlah RT. RW A diperuntukkan bagi wilayah yang memiliki lebih dari 10 RT, sedangkan RW B untuk RW dengan jumlah kurang dari 10 RT. Pembagian kategori tersebut menjadi bagian dari proses menuju 165 besar RW terbaik.

"Dari 200 RW itu akan ditetapkan kategori RW A. Artinya RW tersebut jumlahnya lebih dari 10 RT. Kemudian yang RW B, jumlahnya kurang dari 10 RT untuk menuju ke 165 besar RW," tutur Irvan.
Lingkungan dan ekonomi mendapat bobot lebih besar

Meski seluruh pilar tetap menjadi bagian penilaian, Pemkot Surabaya memberikan perhatian lebih besar terhadap dua aspek, yakni lingkungan dan ekonomi. Menurut Irvan, kedua aspek tersebut berkaitan langsung dengan kualitas kehidupan masyarakat di tingkat kampung. "Untuk penilaian terbesar di Kampung Pancasila ini tidak mengucilkan pilar-pilar yang lain, semuanya tetap saling memengaruhi, tapi penilaian yang terbesar nanti berasal dari pilar lingkungan dan pilar ekonomi," jelasnya.

Untuk aspek lingkungan, tim penilai akan melihat pengelolaan sampah, terutama pemilahan dan pengolahan sampah mulai dari tingkat rumah tangga hingga RT dan RW. Sementara aspek ekonomi mencakup geliat usaha masyarakat, UMKM serta kepedulian warga yang diwujudkan melalui dukungan kepada masyarakat yang membutuhkan. "Jadi, dua pilar ini dibantu dari pilar kemasyarakatan dan pilar sosial budaya," kata Irvan.

Dengan demikian, Kampung Pancasila tidak hanya dinilai berdasarkan tampilan fisik wilayah. Kondisi sosial, keamanan, kepedulian antarmasyarakat, pendidikan, kesehatan hingga kemampuan warga mengembangkan ekonomi turut menjadi ukuran.

Menjelang peluncuran lomba pada September, Irvan meminta seluruh perangkat daerah yang menjadi pengampu program mulai memberikan edukasi dan motivasi kepada RT serta RW. Menurut dia, persiapan dapat dilakukan sejak sekarang, termasuk memastikan data self assessment di aplikasi Sayang Warga terisi dengan baik.

"Para PD pengampu sudah bisa melakukan edukasi, motivasi terhadap RT dan RW terkait dengan Lomba Kampung Pancasila," pungkas Irvan.

Berita Terbaru

SIER Teken Dua LoI di EJIF 2026, Sinyal Kepercayaan Investor ke Kawasan Industri Jatim

SIER Teken Dua LoI di EJIF 2026, Sinyal Kepercayaan Investor ke Kawasan Industri Jatim

Sabtu, 03 Okt 2026 14:10 WIB

Sabtu, 03 Okt 2026 14:10 WIB

Jurnas.net — PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) kembali mencatatkan komitmen investasi melalui penandatanganan dua Letter of Intent (LoI) dengan PT F…

Bahaya Eksploitasi Digital di Balik Konten Lucu Anak

Bahaya Eksploitasi Digital di Balik Konten Lucu Anak

Jumat, 02 Okt 2026 16:20 WIB

Jumat, 02 Okt 2026 16:20 WIB

Jurnas.net - Maraknya konten lucu bersama anak di media sosial mendapat banyak perhatian warganet, namun konten tersebut memunculkan indikasi bentuk…

Kisah Biarawati Katholik Asal Timor Lester Beri Ceramah di Unisa Yogyakarta

Kisah Biarawati Katholik Asal Timor Lester Beri Ceramah di Unisa Yogyakarta

Jumat, 02 Okt 2026 09:10 WIB

Jumat, 02 Okt 2026 09:10 WIB

Jurnas.net - Suster Dulce Maria Guterres, FDCC, seorang biarawati Katolik asal Timor-Leste berdiri pada mimbar saat Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-27 di…

Tumpeng Raksasa 3 Meter Jadi Ikon HUT ke-20 SMAN 1 Kebomas, Sarat Makna Tradisi dan Kebersamaan

Tumpeng Raksasa 3 Meter Jadi Ikon HUT ke-20 SMAN 1 Kebomas, Sarat Makna Tradisi dan Kebersamaan

Rabu, 30 Sep 2026 21:15 WIB

Rabu, 30 Sep 2026 21:15 WIB

Jurnas.net – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-20 SMAN 1 Kebomas, Gresik, Jawa Timur, berlangsung meriah. Ribuan siswa larut dalam kemeriahan yang tidak hanya …

Gus Lilur: Saya Siap Perang Pidana, Tapi Ada 3 Syarat untuk Menepi dari Polemik NU

Gus Lilur: Saya Siap Perang Pidana, Tapi Ada 3 Syarat untuk Menepi dari Polemik NU

Selasa, 29 Sep 2026 13:18 WIB

Selasa, 29 Sep 2026 13:18 WIB

Jurnas.net - Polemik pasca-Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, belum sepenuhnya mereda. Warga…

MBG dan KDMP yang Gerus Ruang Fiskal Dinilai Bebani Kesejahteraan Masyarakat 

MBG dan KDMP yang Gerus Ruang Fiskal Dinilai Bebani Kesejahteraan Masyarakat 

Selasa, 29 Sep 2026 08:39 WIB

Selasa, 29 Sep 2026 08:39 WIB

Jurnas.net - Persoalan kesejahteraan masyarakat masih menjadi perhatian di tengah berbagai dinamika perekonomian nasional. Setahun setelah tujuh Desakan…