Jurnas.net - Rumah Sakit Islam (RSI) Masyithoh Bangil, Pasuruan, menorehkan babak baru dalam sejarah pelayanannya. Tak hanya menjadi rumah sakit rujukan berbasis umat, RSI Masyithoh kini resmi memiliki Ruang Vaksinasi Internasional, menandai transformasi layanan kesehatan Muslimat NU dari akar komunitas menuju standar global.
Peresmian dilakukan langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Minggu (4/1/2026), ditandai dengan penandatanganan prasasti. Turut mendampingi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dr. Erwin Astha Triyono, Direktur RSI Masyithoh Bangil dr. Handayanto, Ketua Muslimat NU Bangil Anisah Syakur, serta Ketua Yayasan Kesejahteraan Muslimat Nahdlatul Ulama (YKM NU) Bangil Asfihani.
Baca juga: Jelang Ramadan, Khofifah Gelar Pasar Murah untuk Jaga Harga Sembako Tetap Stabil
Kehadiran Ruang Vaksinasi Internasional ini bukan sekadar penambahan fasilitas, melainkan representasi lonjakan peran lembaga kesehatan berbasis umat dalam menjawab kebutuhan mobilitas global masyarakat—mulai dari ibadah umrah dan haji, perjalanan internasional, hingga kepentingan pendidikan dan kerja lintas negara.
Momentum peresmian tersebut dirangkai dengan Hari Lahir (Harlah) ke-61 RSI Masyithoh Bangil serta peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah, mempertegas kesinambungan nilai spiritual dan profesionalisme layanan kesehatan.
Gubernur Khofifah yang juga Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU menyampaikan rasa bangganya atas konsistensi dan daya tahan Muslimat NU dalam membangun layanan kesehatan sejak puluhan tahun lalu, khususnya yang berfokus pada ibu, anak, dan ketahanan keluarga.
“Alhamdulillah, hari ini kita menyaksikan bagaimana perjuangan panjang Muslimat NU di bidang kesehatan terus bertumbuh. Dari layanan kesehatan ibu dan keluarga, kini RSI Masyithoh Bangil mampu menghadirkan fasilitas vaksinasi bertaraf internasional,” ujar Khofifah, Senin, 5 Januari 2026.
Baca juga: Hampir 1000 Sapi Terinfeksi PMK, DPRD Sorot Lemahnya Pengawasan Pemprov Jatim
Menurutnya, capaian tersebut tak bisa dilepaskan dari visi jauh ke depan para pendiri YKM NU, salah satunya Nyai Solichah Wahid, ibunda Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur), serta Nyai Solihah Saifuddin Zuhri, istri tokoh nasional KH Saifuddin Zuhri.
Khofifah mengisahkan, sejak awal Nyai Solichah Wahid menanamkan pesan kuat tentang pentingnya kesehatan sebagai fondasi ketahanan keluarga. Bahkan, pada Kongres Muslimat NU tahun 1953, Nyai Solichah mendorong seluruh cabang Muslimat NU untuk mendirikan Bidan dan Klinik Ibu dan Anak (BKIA).
“Bu Nyai Solichah Wahid selalu berpesan: jaga keluargamu. Tahun 1953 beliau sudah meminta cabang-cabang Muslimat NU mendirikan BKIA. Dari situlah kemudian berkembang menjadi RSIA, hingga kini menjadi RSI seperti yang kita lihat hari ini,” tutur Khofifah.
Ia juga mengenang amanat Nyai Solichah saat dirinya masih menjadi anggota DPR RI, agar Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera benar-benar diimplementasikan hingga ke akar masyarakat. “Beliau selalu mengatakan, ‘Nak Khofifah, tolong disosialisasikan bagaimana membangun keluarga yang sejahtera dan maslahah’. Konsep keluarga maslahah yang hari ini dikenal luas di NU sejatinya lahir dari rahim pemikiran Muslimat NU,” ungkapnya.
Baca juga: Lindungi Siswa Miskin, Pemkot Surabaya Kucurkan Bansos Rp350 Ribu per Bulan ke SMA Swasta
Dalam konsep tersebut, lanjut Khofifah, terkandung nilai co-parenting, musyawarah keluarga, serta relasi suami-istri yang saling menguatkan, selaras dengan tuntunan Al-Qur’an dan relevan dengan tantangan keluarga modern.
Dengan bertambahnya fasilitas vaksinasi internasional, RSI Masyithoh Bangil diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan warga Pasuruan, tetapi juga model nasional layanan kesehatan berbasis organisasi keagamaan yang adaptif terhadap kebutuhan zaman.
“Mudah-mudahan RSI Masyithoh Bangil terus berkembang, memberi manfaat yang semakin luas, dan menjadi sumber keberkahan bagi masyarakat. Semoga seluruh tim tetap solid dan terus memberikan pelayanan terbaik,” pungkas Khofifah.
Editor : Andi Setiawan