Data DCC Sebut 522 Anak dan Pelajar Positif HIV, Dinkes Sidoarjo Klaim Angka Itu Tak Benar

Reporter : Syaikhul
Ilustrasi pelajar positif HIV. (Dok: Jurnas.net)

Jurnas.net – Perbedaan data mengenai jumlah anak dan pelajar yang hidup dengan HIV di Kabupaten Sidoarjo menjadi sorotan. Yayasan Delta Crisis Center (DCC) mencatat terdapat 522 anak dan pelajar yang hidup dengan HIV hingga 1 Juli 2026. Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo menyatakan angka tersebut tidak dapat dimaknai sebagai 522 pelajar di Sidoarjo terpapar HIV.

Perbedaan penyajian data itu memunculkan pertanyaan mengenai basis pendataan yang digunakan masing-masing lembaga, sekaligus pentingnya penyampaian informasi yang utuh agar tidak menimbulkan kepanikan maupun salah persepsi di masyarakat.

Baca juga: Kasus HIV di Jatim Tertinggi Nasional Tembus 65.238, PKS Mendesak Pemerintah Perkuat Pencegahan

Kepala Dinkes Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakshmie Herawati Yuwantina, menjelaskan angka 522 yang dirilis DCC merupakan akumulasi kelompok usia yang lebih luas, mulai anak usia dini hingga mahasiswa, serta berasal dari data kumulatif selama bertahun-tahun. Menurut dia, apabila yang dimaksud adalah pelajar usia sekolah, Dinkes menggunakan klasifikasi usia 11–17 tahun.

"Kalau pelajar kami klasifikasikan usia 11 sampai 17 tahun. Berdasarkan data Dinkes, jumlahnya 60 kasus secara kumulatif sejak 2001 hingga Juni 2026. Dari jumlah itu, tujuh orang telah meninggal dunia sehingga saat ini terdapat 53 orang yang masih hidup dan menjalani pendampingan," kata Lakshmie, Kamis, 23 Juli 2026.

Data DCC: 522 Berasal dari Kelompok Usia Sekolah

Sebelumnya, Direktur Program Yayasan Delta Crisis Center (DCC), Ferry Efendi, menyampaikan bahwa dari total 7.129 Orang dengan HIV (ODHIV) di Kabupaten Sidoarjo hingga 1 Juli 2026, sebanyak 522 orang berasal dari kelompok usia sekolah. Rinciannya terdiri atas sekitar 13 anak usia PAUD/TK, 44 anak usia SD hingga SMP sederajat, serta 465 pelajar SMA sederajat hingga mahasiswa.

Menurut Ferry, kasus HIV pada kelompok usia tersebut berasal dari berbagai jalur penularan, mulai dari penularan ibu kepada anak, penggunaan jarum suntik pada penyalahgunaan narkotika, hingga hubungan seksual berisiko. "HIV hanya menular melalui darah, hubungan seksual, penggunaan jarum suntik, dan ASI. Karena itu masyarakat perlu mendapatkan edukasi yang benar agar memahami cara penularan maupun pencegahannya," ujar Ferry.

Baca juga: Pemkot Surabaya Klaim Kasus AIDS Turun 10 Persen: Tapi Angka Pastinya Dirahasiakan

Lakshmie menegaskan, perbedaan angka tersebut muncul karena adanya perbedaan pengelompokan data, sehingga masyarakat diminta tidak menarik kesimpulan bahwa terdapat 522 pelajar aktif di bangku sekolah yang hidup dengan HIV. Ia mengatakan, data epidemiologi harus dibaca sesuai klasifikasi usia, periode pencatatan, dan definisi yang digunakan.

Selain kelompok usia 11–17 tahun, Dinkes juga mencatat terdapat 117 kasus HIV pada anak usia 0–10 tahun sejak 2001 hingga Juni 2026. Dari jumlah tersebut, 35 anak meninggal dunia, 50 anak berstatus lost to follow-up (LFU), sedangkan 32 anak masih menjalani terapi antiretroviral (ARV). Menurut Lakshmie, seluruh pasien yang masih menjalani pengobatan mendapat pendampingan dari tenaga kesehatan bersama komunitas agar tetap disiplin mengonsumsi ARV sekaligus mengurangi stigma yang masih melekat terhadap ODHIV.

"Pendampingan dilakukan agar mereka tetap rutin menjalani terapi dan stigma di masyarakat dapat terus ditekan," ujarnya.

Baca juga: Fakta Mengejutkan! 29 dari 34 Peserta Pesta Sesama Jenis Positif HIV

Ia menambahkan, kepatuhan mengonsumsi ARV menjadi faktor penting karena dapat menekan jumlah virus hingga tidak terdeteksi (undetectable), sehingga risiko penularan kepada orang lain dapat ditekan secara signifikan.

Secara kumulatif, Dinkes Kabupaten Sidoarjo mencatat 7.230 kasus HIV sejak 2001 hingga Juni 2026. Dari jumlah tersebut, 1.708 pasien meninggal dunia, sedangkan 810 lainnya berstatus lost to follow-up, terdiri atas 565 orang berdomisili di luar Kabupaten Sidoarjo, 52 orang menolak melanjutkan pengobatan, dan 193 orang belum berhasil ditemukan.

Meski terdapat perbedaan angka antara DCC dan Dinkes, kedua pihak sama-sama menekankan pentingnya edukasi, deteksi dini, dan kepatuhan menjalani terapi sebagai langkah utama mengendalikan penyebaran HIV serta mengurangi stigma terhadap orang yang hidup dengan HIV.

Editor : Andi Setiawan

Politik & Pemerintahan
Berita Terpopuler
Berita Terbaru