Jurnas.net — Partai Demokrat menunjukkan tren peningkatan elektoral di Jawa Timur dalam setahun terakhir. Berdasarkan survei Accurate Research Consulting Indonesia (ARCI), elektabilitas Demokrat kini mencapai 12,5 persen, naik sekitar 5 poin persentase dibandingkan posisi pada pertengahan 2025 yang berada di angka 7,1 persen.
Temuan tersebut menunjukkan Demokrat menjadi salah satu partai yang mengalami progres cukup signifikan menjelang Pemilu 2029. Peneliti ARCI, Baihaki Sirajt, mengatakan peningkatan elektoral Demokrat terlihat dalam periode survei sejak September 2025 hingga Agustus 2026.
“Survei kami menunjukkan progres signifikan Demokrat selama satu tahun terakhir sejak September 2025 hingga Agustus 2026. Peningkatan elektoral mencapai 5 persen,” kata Baihaki, saat memaparkan hasil survei di Surabaya, Kamis, 3 September 2026.
Baihaki mengatakan peningkatan elektoral Demokrat tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah Jawa Timur. Penguatan paling signifikan terlihat di kawasan Mataraman. Demokrat juga mengalami peningkatan di wilayah Tapal Kuda dan kawasan Arek, meski kenaikannya tidak sebesar di Mataraman.
Sebaliknya, Demokrat masih menghadapi tantangan di kawasan Pantura. Sementara di Madura, elektabilitas partai tersebut cenderung stagnan. “Di Mataraman menguat sangat signifikan, lalu di wilayah Tapal Kuda, Arek ada progres meskipun kecil. Namun, di Pantura terus melemah, kalau di wilayah Madura stagnan,” ujar Baihaki.
Temuan ini sekaligus menunjukkan pekerjaan rumah Demokrat Jatim belum selesai. Kenaikan elektoral secara provinsi perlu diikuti dengan penguatan basis suara di wilayah yang masih lemah agar tren tersebut dapat dipertahankan hingga Pemilu 2029.
Menurut Baihaki, salah satu faktor yang turut mendorong peningkatan elektabilitas Demokrat adalah perubahan susunan kepengurusan DPD Demokrat Jawa Timur pada 2025. Perubahan tersebut dinilai membuat aktivitas partai di tingkat daerah menjadi lebih terlihat, terutama melalui berbagai program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
“Tentu adanya perombakan pada susunan kepengurusan DPD Demokrat Jatim pada tahun 2025 memberi dampak, sehingga Demokrat ini lebih hidup dengan berbagai program langsung ke masyarakat,” katanya.
Selain faktor organisasi, Baihaki menilai terdapat efek elektoral dari figur Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Ketua DPD Demokrat Jatim Emil Elestianto Dardak. AHY dinilai mendapatkan coattail effect dari posisinya sebagai salah satu menteri di pemerintahan, sementara elektabilitas Emil Dardak sebagai figur politik di Jawa Timur juga disebut mengalami peningkatan.
“Tentu yang juga sangat berdampak pada elektoral Demokrat ialah coattail effect dari AHY sebagai salah satu menteri dengan kinerja terbaik. Selain itu, elektoral terhadap Emil Dardak juga meningkat di Jatim,” ujar Baihaki.
Baihaki mengatakan peningkatan pengenalan publik terhadap Emil Dardak juga menjadi salah satu modal politik Demokrat menuju Pemilu 2029. Menurut dia, pada Pemilu 2024 masih banyak masyarakat Jawa Timur yang belum mengetahui posisi Emil sebagai Ketua DPD Demokrat Jatim.
Kondisi tersebut disebut berubah cukup signifikan dalam survei terbaru. “Saat ini sudah 98,7 persen responden mengetahui bahwa Emil Dardak adalah Ketua Demokrat Jatim,” kata Baihaki.
Tingkat pengenalan yang tinggi tersebut, lanjut dia, menjadi bekal bagi Demokrat untuk menghadapi kontestasi politik mendatang.
Sebab, selain elektabilitas partai, tren elektoral personal Emil Dardak juga disebut terus meningkat di Jawa Timur.
Dengan tren elektoral yang menunjukkan peningkatan, Baihaki menilai Demokrat memiliki peluang untuk memperbesar perolehan kursinya pada Pemilu 2029. Namun, peluang tersebut sangat bergantung pada kemampuan partai mempertahankan momentum hingga kontestasi berikutnya. “Kuncinya Demokrat harus konsisten. Apa yang sudah berjalan baik saat ini harus terus dijalankan agar perolehan suara partai di 2029 bisa bangkit kembali,” jelasnya.
Artinya, kenaikan elektabilitas dari 7,1 persen menjadi 12,5 persen belum bisa dianggap sebagai hasil akhir. Demokrat masih memiliki waktu untuk memperkuat mesin partai, memperluas basis pemilih, sekaligus mengatasi penurunan elektoral di kawasan Pantura dan stagnasi di Madura.
Dalam survei ARCI, Demokrat saat ini berada di posisi yang sama dengan Golkar dengan elektabilitas 12,5 persen. Partai Gerindra masih menjadi partai dengan elektabilitas tertinggi di Jawa Timur, yakni 16,3 persen. Posisi berikutnya ditempati PKB dengan 15,1 persen dan PDI Perjuangan (PDIP) 13,7 persen.
Berikut elektabilitas partai politik dalam survei ARCI, di mana elektabilitas Partai Gerindra 16,3%, PKB 15,1%, PDIP 13,7%, Golkar 12,5%, Demokrat 12,5%, PSI 5,1%, PAN 4,2%, NasDem 4,1%, PKS 4,1%, PPP 1,5%, Perindo 1,1%, dan partai lainnya 3,5%. Lalu yang tidak tahu/tidak menjawab 6,3%.
Survei ARCI tersebut dilakukan pada 18–28 Agustus 2026 dengan melibatkan 1.200 responden di Jawa Timur. Survei menggunakan metode stratified random sampling, dengan margin of error sekitar 2,8 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.
Editor : Amal