Merdeka Carnival Jadi Panggung Warga Bawean Suarakan Krisis Transportasi Laut yang Lumpuh

author M. Faizul

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news

Jurnas.net — Semarak Merdeka Carnival yang digelar Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disparekrafbudpora) Kabupaten Gresik menjadi ruang bagi masyarakat Bawean untuk menyuarakan persoalan yang selama ini mereka hadapi.

Melalui organisasi Pemuda Bawean Gresik (PBG), warga dari Kecamatan Sangkapura dan Tambak membawa isu transportasi laut dalam karnaval untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Di tengah deretan kendaraan hias dengan warna-warni meriah, mobil karnaval PBG tampil dengan konsep berbeda. Mereka mengusung tema biru laut samudra yang menggambarkan kondisi Pulau Bawean ketika cuaca buruk dan gelombang tinggi.

Bagi peserta karnaval, laut bukan sekadar latar kehidupan masyarakat Bawean. Laut merupakan jalur utama yang menghubungkan pulau tersebut dengan daratan Gresik. Ketika gelombang tinggi membuat kapal tidak dapat beroperasi, aktivitas masyarakat ikut terdampak. Akses transportasi laut yang berjarak sekitar 81 mil laut dari Gresik pun dapat terputus.

Dampaknya merembet ke berbagai sektor, mulai dari distribusi kebutuhan pokok, perekonomian, kesehatan, hingga mobilitas warga. PBG menggambarkan kondisi tersebut melalui dekorasi mobil yang dipenuhi ornamen laut dan gelombang. Para peserta juga menyanyikan lagu Bawean serta menyampaikan orasi mengenai persoalan transportasi laut yang dinilai belum menemukan solusi permanen.

Ketua PBG Ramli Salim mengatakan pemilihan tema tersebut sengaja dilakukan untuk membawa persoalan yang selama ini menjadi keluhan masyarakat Bawean ke ruang publik. Menurut dia, persoalan transportasi laut Bawean bukan masalah baru. Bahkan, masalah tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun tanpa solusi jangka panjang.

"Hampir dua dekade masalah ini muncul dan tidak ada solusi panjang. Penanganannya hanya bersifat sementara. Sehingga saat seperti ini, ketika cuaca buruk, tidak ada kapal yang beroperasi. Sudah waktunya kapal yang lebih besar melayani penyeberangan Pulau Bawean," ujar Ramli.

Menurut Ramli, terhentinya transportasi laut tidak hanya menyulitkan warga yang hendak bepergian dari dan menuju Bawean. Terputusnya distribusi melalui jalur laut juga dapat berdampak pada ketersediaan dan harga berbagai kebutuhan masyarakat.

Ia mencontohkan harga LPG yang dapat melonjak hingga sekitar Rp70.000. Harga telur ayam juga disebut mencapai Rp20.000 untuk tiga butir ketika pasokan terganggu. Dampak lainnya bahkan menyentuh sektor kesehatan.

Menurut Ramli, kebutuhan oksigen harus didatangkan menggunakan perahu nelayan ketika akses kapal reguler terganggu. "Ini bukan hanya soal orang bisa berangkat atau tidak. Ketika kapal berhenti, ekonomi masyarakat ikut terganggu. Harga kebutuhan naik, bahkan kebutuhan kesehatan seperti oksigen juga harus dicari melalui jalur lain," katanya.

Persoalan juga dirasakan warga Bawean yang berada di luar pulau. Wisatawan maupun warga Bawean yang bekerja atau menetap di Malaysia dan hendak pulang melalui jalur laut dapat terpaksa membatalkan perjalanan ketika kapal tidak beroperasi.

Tiket yang sudah dibeli berpotensi hangus dan warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli tiket baru setelah kondisi memungkinkan. Belum lagi biaya hidup yang harus ditanggung warga ketika mereka tertahan selama berhari-hari di daratan Gresik karena tidak bisa kembali ke Bawean.

Ramli mengatakan keikutsertaan PBG dalam Merdeka Carnival juga menunjukkan bahwa masyarakat Bawean tidak ingin persoalan transportasi laut hanya dibicarakan ketika terjadi gangguan pelayaran. Dekorasi kendaraan karnaval bahkan dibuat secara swadaya oleh masyarakat.

"Secara swadaya masyarakat menggalang dana untuk pembuatan dekorasi karnaval. Mobil bak dihiasi dengan gambaran laut dan gelombang. Termasuk dukungan materi dari Camat Sangkapura dan Tambak," jelasnya.

Dukungan juga datang dari sejumlah donatur, termasuk anggota dan pengurus PBG serta Persatuan Saudagar Bawean (PSB). Bagi PBG, partisipasi dalam karnaval menjadi cara untuk menyampaikan aspirasi dengan pendekatan budaya dan kreativitas masyarakat.

Mereka tidak hanya ingin meramaikan perayaan kemerdekaan, tetapi juga mengingatkan bahwa persoalan konektivitas masih menjadi pekerjaan rumah bagi masyarakat di wilayah kepulauan.

Ramli berharap momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi titik untuk kembali membicarakan masa depan konektivitas Bawean. Menurut dia, masyarakat membutuhkan sistem transportasi laut yang lebih mampu menghadapi kondisi perairan, bukan sekadar solusi sementara setiap kali terjadi gangguan pelayaran.

"Apa yang kami sampaikan merupakan aspirasi masyarakat di Pulau Bawean. Semoga menjadi perhatian bersama, terlebih Pemerintah Kabupaten Gresik," tandasnya.

Ia berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi jangka panjang, termasuk memastikan tersedianya kapal dengan kapasitas dan kemampuan yang lebih sesuai untuk melayani rute Gresik-Bawean.

Bagi masyarakat Bawean, kemerdekaan bukan hanya tentang perayaan dan karnaval. Di balik semarak merah putih, mereka masih menyimpan harapan sederhana: konektivitas yang lebih aman, tersedia, dan tidak mudah terputus ketika cuaca buruk datang.

Berita Terbaru

RSUD Kartini Jepara Disasar Revitalisasi Pemerintah Pusat

RSUD Kartini Jepara Disasar Revitalisasi Pemerintah Pusat

Selasa, 13 Okt 2026 17:34 WIB

Selasa, 13 Okt 2026 17:34 WIB

Jurnas.net -  Pemerintah pusat merencanakan merevitalisasi 441 rumah sakit umum daerah (RSUD) di seluruh Indonesia. RSUD RA Kartini Jepara menjadi salah satu …

Gus Lilur Laporkan Dugaan Suap Muktamar NU ke KPK, Sebut Nama Nusron Wahid dan Gus Ipul

Gus Lilur Laporkan Dugaan Suap Muktamar NU ke KPK, Sebut Nama Nusron Wahid dan Gus Ipul

Selasa, 13 Okt 2026 13:38 WIB

Selasa, 13 Okt 2026 13:38 WIB

Jurnas.net – Kiai kampung asal Situbondo, HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, melaporkan dugaan tindak pidana korupsi terkait jual beli suara d…

Bersama Bisa Bekerja Sama, Menuju Swasembada, Petani Sejahtera

Bersama Bisa Bekerja Sama, Menuju Swasembada, Petani Sejahtera

Senin, 12 Okt 2026 22:51 WIB

Senin, 12 Okt 2026 22:51 WIB

Oleh: Ahmad Ajib Ridlwan Wakil Dekan Bidang II Fakultas Ketahanan Pangan Unesa, serta Guru Besar Bidang Kewirausahaan Sosial Islam FEB Unesa Sekitar pukul…

Gus Lilur Soroti Dugaan Transaksi Suara Muktamar NU, Minta KPK Telusuri Aliran Dana

Gus Lilur Soroti Dugaan Transaksi Suara Muktamar NU, Minta KPK Telusuri Aliran Dana

Minggu, 11 Okt 2026 15:34 WIB

Minggu, 11 Okt 2026 15:34 WIB

Jurnas.net - Tokoh masyarakat sekaligus kiai kampung Nahdlatul Ulama (NU), HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, melontarkan dugaan adanya praktik…

Rais Aam PBNU Buruk, Ngamuk ala Cakades Terpuruk

Rais Aam PBNU Buruk, Ngamuk ala Cakades Terpuruk

Minggu, 11 Okt 2026 12:11 WIB

Minggu, 11 Okt 2026 12:11 WIB

Jurnas.net - Kita sering melihat dalam kontestasi Pilkades, banyak calon kepala desa (cakades) membangun jalan dan membantu memasang lampu penerangan di…

Tekanan dan Misi Mendulang Poin Perdana PSS Sleman di Kandang  

Tekanan dan Misi Mendulang Poin Perdana PSS Sleman di Kandang  

Minggu, 11 Okt 2026 09:18 WIB

Minggu, 11 Okt 2026 09:18 WIB

Jurnas.net - PSS Sleman membawa misi meraih poin perdana saat menjamu PSM Makassar pada pekan keempat Super League di Stadion Maguwoharjo Kabupaten Sleman,…