Asa Energi dari Gas Alam

Reporter : Ahmad M.
Salah satu sudut Press Regulating Station (PRS) PGN yang berlokasi di Jalan Affandi Mrican, Kelurahan Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman.

Jurnas.net - “Klek”. Suara kompor gas menyemburkan api biru. Di atas kompor gas tersebut terdapat panci dengan satu gagang yang telah terisi air. Air di dalam panci itu telah teris dari kran yang berjarak dua meter dari kompor.

Elin Arianita, sosok warga Karang Gayam, Kelurahan Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tersebut menunggu sesaat api yang menyala. Beberapa menit kemudian, gelembung kecil mulai tampak pada air di dalam panci sebagai tanda akan masak.

Api yang Elin gunakan memasak air berasal dari gas bumi atau gas alam. Gas alam itu bersumber dari Pressure Reducing Station (PRS) Perusahaan Gas Negara (PGN) di Kawasan Jalan Affandi Kabupaten Sleman. Dari stasiun gas PGN itulah Elin menggunakan gas alam yang bisa dinikmati beragam manfaatnya.

Elin memanfaatkan gas itu untuk kebutuhan rumah tangganya sudah sekitar satu tahun atau sedari 2025. Segala kebutuhan memasak ia memakai gas dari gas alam itu.

“Dulu pakai gas tabung, sebulan habisnya sekitar Rp400 ribuan-lah,” kata Elin ditemui di Karang Gayam, Kelurahan Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, pada Kamis, 13 Agustus 2026.

Berbagai kebutuhan memasak di rumah tangganya sudah menggunakan gas dari alam. Kebutuhan memasak besar maupun sekadar membuat mi instan sudah memakai gas alam itu.

Bagi Elin, gas alam yang kini digunakan sangat cocok bagi keluarganya. Secara ekonomi, angkanya sangat ramah di kantong.

Keluarga Elin sebelum 2025 lalu harus mengeluarkan kocek sekitar Rp400 ribu per bulan hanya untuk membeli gas tabung. Setelah menggunakan gas alam itu, biaya yang dikeluarkan turun menjadi hanya Rp180 ribu per bulan untuk membayar gas.

Tak banyak biaya yang Elin keluarkan untuk mengakses gas alam itu. Ia hanya memasang saluran instalasi pipa untuk memulai langkah itu. Bahkan, Elin tak hanya memanfaatkan gas alam itu untuk rumah tangganya, melainkan untuk usahanya.

Keluarga Elin memiliki usaha bernama “Nasi Goreng Mas Wit” yang juga beralamat di Gang Hortensia, Karang Gayam, Kelurahan Caturtunggal, Kecamatan Depok. Usaha tersebut dioperasionalkan pukul 10.00 hingga 24.00 WIB.

“Pakai gas ini untuk jualan nasi goreng ini juga sudah berjalan sekitar satu tahun,” kata dia.

Elin berujar sudah pernah gelapan mencari gas tabung dalam menjalankan roda usahakan, terlebih saat malam hari. Apalagi saat itu berbarengan melayani pesanan beberapa pembeli.

Situasi yang Elin alami sudah berubah saat memakai gas alam. Memanfaatkan empat kompor untuk menjalankan usaha, ia tak perlu galapan kehabisan gas. Pasalnya, gas yang digunakan selalu mengalir.

“Secara ekonomi juga sangat membantu. Kalau sebelumnya sebulan habis Rp1 juta untuk gas (tabung), sekarang hanya sekitar Rp680 ribu per bulan,” ucapnya.  

Secara matematis, ia memperkirakan penghematan yang dilakukan sekitar 1/3 dibanding beberapa tahun sebelumnya. Bahkan, ia mengaku tak khawatir terjadi kebocoran.

“Secara terjadwal biasanya ada pengecekan petugas. Harapannya ke depan tetap lancar dan tidak ada kebocoran sehingga tetap aman,” katanya.  

Gas alam yang dipasok dari Kabupaten Blora, Jawa Tengah tersebut juga mengalir hingga Rumah Makan Payakumbuah di Jalan Laksda Adisucipto Nomor 178, Papringan, Kelurahan Caturtunggal, Kecamatan Depok. Manajemen Payakumbuah memanfaatkan layanan Gaslink melalui PT Gagas Energi Indonesia.

“Kami sudah menggunakannya sejak November 2024,” kata PIC Mitra Manajemen Payakumbuah Cabang Yogyakarta, Adi Saputro.

Sebanyak delapan tabung Gaslink (CNG Cylinder) milik Pertamina Gas Negara (PGN) berada di sisi kiri Gedung RM Payakumbuah itu. Pasokan gas itu dikirim menggunakan moda transportasi truk berukuran 10 feet. Tabung Gaslink itu ditempatkan di ruangan khusus yang hanya bisa diakses pihak manajemen.

Adi mengatakan penggunaan Gaslink tersebut sangat efisien. Ia menyebut penghematan dibanding menggunakan gas tabung bisa hemat 30 persen. Adi menyebut penggunakan Gaslink tersebut juga lebih aman.

“Sudah bisa 30 persen. Kalau gas tabung habisnya bisa sampai di angka Rp35 juta sampai Rp40 jutaan. Rata-rata sekarang angkanya kurang lebih di Rp20 jutaan,” ujarnya.

Terus Berkembang

Gas yang digunakan keluarga Elin dan Rumah Makan Payakumbuah berasal dari Press Regulating Station (PRS) PGN yang berlokasi di Jalan Affandi Mrican, Kelurahan Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman. PRS tersebut menurunkan tekanan gas alam yang didatangkan dari wilayah Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Gas dari Blora dikirim ke PRS Sleman melalui Gas Transport Module (GTM) atau truk pengangkut khusus bertekanan tinggi yang membawa Compressed Natural Gas (CNG). Gas bertekanan sekitar 200 bar kemudian diturunkan untuk masukkan jaringan-jaringan yang ada di wilayah Kabupaten Sleman.

“Di wilayah Sleman saat ini jaringan gas bumi PGN mulai dikembangkan sejak 2023 telah melayani sebanyak 4.545 pelanggan rumah tangga” ujar Area Head Jogja PT Gagas Energi Indonesia, Miranti Dyah Pramesti.

Layanan ke pelanggan itu ditopang infrastruktur satu unit PRS dan lima unit Regulating Station (RS). Saat ini total panjang jaringan pipa mencapai sekitar 141,4 kilometer, terdiri atas pipa DTM sepanjang 15,9 kilometer dan pipa DTR sepanjang 125,5 kilometer.

Penurunan tekanan gas itu bertujuan memberikan kemanan ke para pengguna. Penurunan tekanan itu dari 200 bar hingga menjadi 3 bar. Gas yang masuk ke rumah-rumah pelanggan itu akan dibuat rendah hingga 0,3 bar, bahkan hingga 0,03 bar. Namun, untuk ketegori komersial industri tekanan gasnya dibuat di atas kategori rumah tangga. Beberapa pelanggan non rumah tangga itu seperti RSUP Dr Sardjito dan Hotel Loman.

Pelanggan yang berlokasi jauh dari jaringan pipa akan diatur dengan skema distribusi pengantaran, khususnya untuk rumah makan dan hotel. Gas tersebut disimpan di dalam tabung CNG dengan biaya tagihan sudah sekaligus layanan pengiriman.

"Jadi untuk pelanggan yang belum ada jaringan pipanya, gasnya kita antar," kata Miranti.

Area Head PT PGN Persero Area Semarang, Sugiyanto Eko Cahyono menambahkan di wilayah Jawa Tengah layanan itu sudah menjangkau Kabupaten Demak, Kota Semarang, Kabupaten Kendal, dan Kabupaten Bantang. Menurut dia, sudah 50 lebih pelanggan industri maupun komersial yang sudah terjamah layanan gas alam itu, baik produksi industri pengolahan maupun manufaktur.

“Terbanyak industri kaca dan industri keramik,” ucap Sugiyanto.

Sugiyanto berujar layanan gas alam itu tumbuh sekitar 25 persen dari 2024 hingga 2025. Ia menilai Masyarakat sangat antusias antisias, khususnya yang memiliki atau dekat jaringan pipa gas bumi.

“Karena Masyarakat tidak perlu repot cari bahan bakar. Bisa memakai kontinyu tanpa mencari gas tabung tiap bulan, cukup membayar tagihan. Kami juga akan mengembangkan wilayah Jateng Selatan, seperti Magelang,” tuturnya. 

Editor : A. Mustaqim

Politik & Pemerintahan
Berita Terpopuler
Berita Terbaru