Tour de Java Film Roots Ditutup di Surabaya, Kisah Walter Spies Jadi Refleksi Pelestarian Budaya

Reporter : Insani
Suasana berbagi pengalaman dan diskusi setelah pemutaran Film Roots di Zumen Art Studio Surabaya. (Foto dok. Zumen Art Studio Surabaya)

Jurnas.net – Pemutaran film dokumenter fiksi Roots: Seratus Tahun Walter Spies di Bali menuntaskan rangkaian Roots Tour de Java di Surabaya, Jawa Timur. Setelah lebih dari sepekan berkeliling Jawa Timur, film karya sutradara Michael Schindhelm tersebut ditutup di Zumen Art Studio, Purimas, Surabaya, Minggu (6/9/2026).

Sebelumnya, film Roots diputar di sejumlah kota, termasuk Banyuwangi dan Jember. Rangkaian tersebut menjadi ruang pertemuan antara film, seni, sejarah, budaya, lingkungan, dan persoalan perkembangan pariwisata di berbagai daerah. Pemutaran film itu mendapat perhatian dari berbagai kalangan, mulai dari pelaku seni, pemerhati budaya, aktivis lingkungan dan pariwisata hingga akademisi seni.

Baca juga: Surabaya Jadi Lokasi Film Zombie 'Zona Merah' 2026, Pemkot Libatkan Ribuan Figuran Lokal

Film Roots mengangkat sosok seniman Jerman Walter Spies dan perjalanan panjang perubahan Bali hingga menjadi salah satu destinasi pariwisata dunia. Melalui pendekatan dokumenter fiksi, Schindhelm memotret hubungan antara seni, sejarah, budaya, lingkungan, dan perubahan sosial yang terjadi di Bali.

Kisah tersebut juga memperlihatkan bagaimana perkembangan pariwisata membawa peluang sekaligus tantangan bagi masyarakat Bali dalam mempertahankan identitas budaya di tengah arus globalisasi. Pemilihan Pulau Jawa sebagai bagian dari rangkaian Roots Tour de Java bukan sekadar agenda pemutaran film.

Perjalanan tersebut dirancang sebagai semacam napak tilas perjalanan Walter Spies sebelum menetap di Bali. Seniman Jerman kelahiran Moskwa tersebut pertama kali tiba di Batavia, yang kini menjadi Jakarta, pada 1923.

Dalam perjalanannya, Spies kemudian pernah singgah di sejumlah kota di Pulau Jawa, termasuk Bandung, Yogyakarta dan Surabaya, sebelum melanjutkan perjalanan hingga Bali. Project Director Roots Tour de Java Yudha Bantono mengatakan, rangkaian pemutaran film tersebut kini telah menyelesaikan perjalanan keliling Jawa dan ditutup di Surabaya.

Sebelumnya, film Roots juga telah diputar di Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, Magelang, Banyuwangi dan Jember. Menurut Yudha, setiap kota memberikan respons yang berbeda terhadap film tersebut. Perbedaan respons itu kemudian menjadi menarik ketika kisah Walter Spies dan perkembangan Bali digunakan sebagai bahan refleksi terhadap perubahan yang terjadi di masing-masing daerah.

"Di setiap tempat pemutaran film Roots yang telah disinggahi seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, Magelang, Banyuwangi, Jember dan Surabaya masing-masing memiliki respons yang beraneka ragam, termasuk ketika ditarik sebagai bahan refleksi perkembangan yang terjadi di daerahnya masing-masing," kata Yudha.

Yudha yang aktif dalam jejaring seni dan budaya internasional mengatakan, program Roots sebelumnya juga telah dibawa ke luar negeri, termasuk Australia Barat. Ia mengatakan, ke depan pemutaran film tersebut masih terbuka untuk diperluas agar dapat menjangkau lebih banyak penonton.

Salah satu refleksi menarik muncul dalam pemutaran di Surabaya. Akademisi Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya sekaligus pelukis, Agus Sukamto atau yang akrab disapa Agus Koecing, mengaitkan kisah dalam Roots dengan keberadaan kesenian tradisional Ludruk di Surabaya.

Menurut Agus, perkembangan zaman membuat keberadaan kelompok Ludruk di Surabaya yang dahulu cukup banyak kini semakin berkurang. "Dahulu Ludruk di Surabaya jumlahnya ada tiga ratusan, namun di era sekarang bisa dihitung dengan jari keberadaannya," ujar Agus.

Ia menilai kisah Walter Spies dan masyarakat Bali dalam mempertahankan tradisi di tengah perkembangan global menjadi pengingat penting bagi daerah lain untuk kembali melihat akar kebudayaannya. Menurut dia, tradisi tidak cukup hanya dipertahankan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi harus terus dikembangkan agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Baca juga: Film Lokal Surabaya Jadi Gerakan Perkuat Ekonomi Kreatif Anak Muda

"Bila menengok film Roots melalui kisah Walter Spies dan perjuangan masyarakat Bali mempertahankan tradisi dan budayanya di tengah gempuran arus global, ini sangat penting bagi kita untuk menengok kembali apa itu akar, lalu akar yang berupa tradisi budaya itu agar tumbuh dan berkembang, kemudian menjadi milik generasi berikutnya untuk mengembangkannya," katanya.

Founder Zumen Art Studio Surabaya, Venta, mengatakan pemutaran Roots sejalan dengan program pendidikan seni yang dikembangkan lembaganya. Zumen Art Studio selama ini bergerak dalam pengembangan pengetahuan dan keterampilan seni rupa, khususnya melukis dan menggambar bagi anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.

Menurut Venta, Roots memberikan perspektif bahwa sejarah, ingatan, seni, tradisi, budaya dan perubahan sosial saling berkaitan dalam membentuk cara pandang generasi muda. "Film Roots saya kira dapat menempatkan peran penting bagaimana sejarah, ingatan, seni, tradisi, budaya, dan perubahan sosial dalam membentuk cara pandang generasi muda terhadap dunia, sehingga dapat menginspirasi kaum muda agar lebih peka terhadap perubahan di sekitar mereka," kata Venta.

Ia menilai film tersebut tidak hanya mengajak penonton memahami sejarah Bali dan perkembangan pariwisatanya, tetapi juga mendorong penonton melihat kembali kondisi sosial dan lingkungan di daerah masing-masing. "Lebih penting lagi, film ini menunjukkan bahwa seni dapat menjadi sarana untuk merespons perubahan secara positif," imbuhnya.

Refleksi serupa muncul dalam pemutaran Roots di Jember dan Banyuwangi. Pelukis asal Jember Ahmad Pandi mengatakan film tersebut memberikan inspirasi bagi perkembangan ekosistem seni di daerahnya.

Menurut dia, kisah yang diangkat dalam Roots dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat Jember untuk menggali kembali sejarah daerah sekaligus membaca perubahan yang terjadi saat ini. Film tersebut, kata Ahmad, juga mengajak komunitas kreatif untuk lebih kritis terhadap perubahan yang berpotensi berdampak pada kehidupan sosial, budaya dan lingkungan.

Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Blambangan Banyuwangi Hasan Basri menilai Roots memberikan pelajaran penting tentang hubungan antara seni, budaya dan pariwisata. Menurut pemerhati budaya Osing tersebut, kisah Walter Spies menunjukkan bagaimana seorang seniman asing turut berkontribusi terhadap perkembangan seni dan budaya Bali yang kemudian ikut mendukung perkembangan pariwisata.

Namun, menurut Hasan, perkembangan pariwisata juga perlu dibaca secara kritis karena setiap perkembangan memiliki konsekuensi. "Semua kebaikan juga ada sisi gelapnya," ujar Hasan.

Karena itu, ia berharap Banyuwangi yang kini berkembang sebagai salah satu tujuan pariwisata memiliki cetak biru pengembangan seni, budaya dan pariwisata yang berkelanjutan. Ia menilai pertumbuhan sektor pariwisata perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga identitas budaya serta lingkungan.

Yudha mengatakan tingginya minat masyarakat, khususnya dari kalangan pemerhati sejarah, seni, budaya dan lingkungan, menunjukkan bahwa Roots masih memiliki ruang untuk dipertemukan dengan publik yang lebih luas. Menurut dia, pihaknya tengah merancang program lanjutan agar film tersebut dapat kembali diputar di berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri.

"Minat masyarakat khususnya penggiat sejarah, seni, budaya dan lingkungan untuk menantikan film ini diputar kembali di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa sangat tinggi. Ke depan sedang dirancang program agar film ini juga bisa dinikmati kembali oleh penonton secara luas," pungkas Yudha.

Rangkaian Roots Tour de Java yang berakhir di Surabaya dengan demikian tidak hanya menjadi perjalanan pemutaran film. Perjalanan tersebut menjadi ruang dialog tentang bagaimana masyarakat di berbagai daerah dapat membaca kembali hubungan antara akar budaya, perkembangan ekonomi dan pariwisata, serta tantangan menjaga identitas di tengah perubahan zaman.

Editor : Amal

Politik & Pemerintahan
Berita Terpopuler
Berita Terbaru