Jurnas.net - Jawa Timur kembali menegaskan posisinya sebagai pintu masuk strategis kerja sama Indonesia–Tiongkok, bukan hanya dalam perdagangan, tetapi juga pembangunan sumber daya manusia (SDM) jangka panjang. Hal ini mengemuka dalam pertemuan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dengan Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Ye Su di Kediaman Konsulat Jenderal RRT Surabaya.
Pertemuan tersebut tak sekadar bersifat seremonial, melainkan menjadi forum penjajakan konkret lintas sektor, mulai dari pendidikan, manufaktur, hingga ekspor komoditas unggulan daerah. Jawa Timur diposisikan sebagai mitra strategis yang siap menyuplai SDM kompeten sekaligus menjadi basis produksi dan ekspor.
Baca juga: Khofifah Klaim Pasokan dan Harga Kebutuhan Pokok Tetap Stabil di Bulan Ramadan
Gubernur Khofifah menyampaikan, Pemprov Jatim secara serius membangun ekosistem pendidikan berorientasi global, salah satunya melalui pengembangan sekolah-sekolah unggulan berasrama yang menitikberatkan pada karakter, kepemimpinan, dan daya saing internasional.
“Sekolah berasrama yang kami kelola memang dirancang untuk mencetak calon pemimpin masa depan. Karena itu, ketika ada peluang beasiswa internasional, termasuk ke Tiongkok, kami sudah menyiapkan talent pool dari hulu,” kata Khofifah, Senin, 5 Januari 2026.
Ia menjelaskan, penguatan pendidikan menengah di Jawa Timur dirancang sejalan dengan sistem pendidikan tinggi nasional, sehingga transisi siswa dari SMA ke perguruan tinggi berlangsung lebih efektif dan adil. Hasilnya terlihat dari capaian siswa Jawa Timur yang konsisten mendominasi penerimaan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), baik melalui jalur tes maupun prestasi.
“Sejak 2020 hingga 2025, siswa Jawa Timur tercatat paling banyak diterima di PTN secara nasional, baik jalur tes maupun non-tes. Ini menunjukkan kesiapan SDM Jatim untuk masuk ke level global,” tegasnya.
Selain pendidikan, diskusi juga mengerucut pada penguatan sektor manufaktur. Khofifah menegaskan, Jawa Timur memiliki fondasi industri yang kokoh dan siap menjadi mitra strategis bagi Tiongkok dalam pengembangan manufaktur bernilai tambah.
Baca juga: Khofifah Resmikan Jembatan Bubak, Warga Gondang Sambut Harapan Baru untuk Mobilitas dan UMKM
Pada triwulan III tahun 2025, kontribusi industri manufaktur Jawa Timur tercatat mencapai 31,16 persen, melampaui rata-rata nasional. Angka ini menegaskan peran Jatim sebagai motor industri nasional sekaligus hub potensial bagi investasi dan kolaborasi industri lintas negara.
Di sektor perdagangan, perhatian khusus diberikan pada ekspor sarang burung walet ke Tiongkok. Menurut Khofifah, Jawa Timur memiliki potensi besar sebagai pemasok utama, namun perlu didorong peningkatan kualitas, standardisasi, serta pemenuhan ketentuan karantina internasional.
“Sarang burung walet adalah peluang besar bagi Jawa Timur. Dengan standar yang tepat dan kerja sama yang kuat, ekspor ke Tiongkok bisa terus ditingkatkan. Tantangannya ada pada standar dan karantina, dan ini yang ingin kita perkuat bersama,” ujarnya.
Baca juga: MBG Jatim Jadi Motor Pertanian dan Standar Keamanan Pangan Nasional
Sementara itu, Konsul Jenderal RRT Ye Su menyampaikan apresiasi atas keseriusan Pemprov Jatim dalam membangun kerja sama yang terstruktur dan berjangka panjang. Ia menilai, kesiapan SDM, kekuatan industri manufaktur, serta potensi ekspor Jawa Timur menjadi fondasi kuat bagi kemitraan strategis yang saling menguntungkan.
“Kami melihat Jawa Timur memiliki komitmen kuat dalam pengembangan pendidikan dan SDM. Tiongkok terbuka untuk memperluas kerja sama, baik melalui beasiswa, pelatihan guru dan pelajar, maupun kolaborasi di bidang manufaktur dan perdagangan,” kata Ye Su.
Menurutnya, Jawa Timur berpeluang menjadi model kemitraan sub-nasional Indonesia–Tiongkok, di mana kerja sama tidak hanya berorientasi dagang, tetapi juga pada transfer pengetahuan, peningkatan kapasitas SDM, dan penguatan industri berkelanjutan.
Editor : Risfil Athon