Rembug Anak Banyuwangi, Gen Z dan Gen Alpha Usulkan Green Ranger hingga Edukasi Sampah untuk PKK

Reporter : Wulansari
Pemkab Banyuwangi menggelar rembug anak di kawasan wisata Pantai Pulau Santen. (Humas Pemkab Banyuwangi)

Jurnas.net – Puluhan pelajar dari berbagai sekolah di Banyuwangi memanfaatkan forum Rembug Anak 2026 untuk menyampaikan beragam gagasan tentang pelestarian lingkungan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi. Mulai dari pembentukan Green Ranger, perluasan edukasi pengelolaan sampah hingga kelompok PKK, hingga penegakan sanksi terhadap pelaku penebangan pohon liar menjadi sejumlah aspirasi yang mengemuka.

Forum yang digelar di kawasan wisata Pantai Pulau Santen itu, menjadi ruang dialog antara pemerintah daerah dengan generasi Z dan generasi Alpha dalam merumuskan kebijakan yang lebih ramah anak sekaligus berorientasi pada pembangunan berkelanjutan. Sebanyak 50 pelajar tingkat SMP dan SMA, termasuk siswa sekolah luar biasa (SLB), mengikuti kegiatan bertema "Anak Beraksi, Lingkungan Lestari, Hak Anak Terpenuhi" tersebut. Mereka berdiskusi mengenai berbagai persoalan lingkungan, mulai dari pengelolaan sampah, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, penghijauan, pelestarian sumber daya air, hingga pentingnya pendidikan lingkungan sejak usia dini.

Baca juga: Komunitas Nelayan Jadi Kunci Ekonomi Biru, Delegasi ASEAN-ID Blue Puji Transformasi Bangsring Banyuwangi

Sekretaris Daerah Banyuwangi, Suyanto Waspo Tondo, mengatakan Rembug Anak merupakan agenda tahunan yang menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam melibatkan anak-anak pada proses perencanaan pembangunan. Menurut dia, forum tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi wadah bagi anak-anak untuk menyampaikan ide, kritik, dan harapan yang nantinya akan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan daerah.

"Silakan sampaikan apa yang menjadi keinginan, harapan, maupun keresahan kalian. Semua masukan akan kami dengarkan, kami catat, dan menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan ke depan," kata Suyanto yang akrab disapa Yayan, Sabtu, 25 Juli 2026.

Salah satu gagasan yang menarik perhatian datang dari Reyhan Iftitan Ramadhanu, pelajar SMA Muhammadiyah 2 Genteng. Bersama kelompoknya, Reyhan mengusulkan pembentukan Green Ranger, yakni kelompok duta lingkungan yang melibatkan pelajar hingga masyarakat di tingkat desa dan kelurahan untuk mengampanyekan kepedulian terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan.

"Kami mengusulkan Green Ranger agar bisa mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan melalui sosialisasi sekaligus aksi nyata," kata Reyhan.

Sementara itu, Thalita Elok Safitri, siswi MAN 1 Banyuwangi, menilai edukasi mengenai pengelolaan sampah perlu diperluas, tidak hanya menyasar pelajar di sekolah, tetapi juga kelompok ibu-ibu PKK. Menurut dia, pelatihan memilah dan mendaur ulang sampah dapat memberikan manfaat ganda, yakni meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi keluarga.

Baca juga: Banyuwangi Jadi Tuan Rumah Konsolidasi Delegasi Indonesia di ASEAN Smart Cities Network, Bagikan Inovasi Smart Village

"Kalau ibu-ibu PKK diberi pelatihan memilah dan mendaur ulang sampah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi, tentu mereka akan lebih tertarik karena bisa sekaligus menambah penghasilan keluarga," ujarnya.

Thalita juga mengusulkan agar kampanye peduli lingkungan memanfaatkan media sosial dan videotron sehingga lebih efektif menjangkau generasi muda. Selain itu, ia mendorong adanya sistem pemantauan hingga tingkat desa agar pengelolaan sampah dapat berjalan secara berkelanjutan.

Aspirasi lainnya disampaikan Hafis Maulana Akbar, siswa SMP Negeri 4 Banyuwangi. Ia meminta pemerintah memperkuat pengawasan sekaligus memberikan sanksi tegas terhadap pelaku penebangan pohon secara ilegal. Menurut Hafis, keberadaan pohon memiliki fungsi penting dalam menjaga kualitas udara, menyerap air, dan mengurangi risiko banjir sehingga harus dilindungi.

"Pohon sangat bermanfaat untuk menjaga kualitas udara, mencegah banjir, dan menyimpan cadangan air. Karena itu tidak boleh ada yang menebangnya sembarangan," katanya.

Baca juga: Koperasi Nelayan Merah Putih Banyuwangi Jadi Percontohan ASEAN, Delegasi Asing Belajar Hilirisasi Perikanan Berbasis Wis

Menanggapi antusiasme para peserta, Yayan mengaku bangga melihat kepedulian anak-anak Banyuwangi terhadap isu lingkungan yang kini menjadi perhatian dunia. Ia menegaskan seluruh aspirasi yang disampaikan akan menjadi bahan evaluasi sekaligus masukan dalam penyusunan program pemerintah daerah ke depan.

"Kami bangga karena anak-anak sangat antusias menyampaikan ide-ide tentang lingkungan dan pengelolaan sampah yang memang menjadi isu global saat ini," ujarnya.

Melalui Rembug Anak, Pemkab Banyuwangi berharap partisipasi anak tidak berhenti pada forum diskusi semata, tetapi menjadi bagian dari proses pembangunan daerah. Pemerintah menilai anak-anak bukan hanya penerima manfaat kebijakan, melainkan juga mitra strategis yang mampu menghadirkan gagasan kreatif untuk mewujudkan Banyuwangi yang lebih hijau, berkelanjutan, dan ramah anak.

Editor : Risfil Athon

Politik & Pemerintahan
Berita Terpopuler
Berita Terbaru