Karhutla Kepung 5 Kawasan Gunung di Jatim, Semeru Terparah Capai 600 Hektare

Reporter : Insani
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno. (Insani/Jurnas.net)

Jurnas.net - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di lima kawasan pegunungan di Jawa Timur secara bersamaan. Yaitu kawasan di Gunung Semeru Lumajang, Gunung Wilis di Nganjuk, Cagar Alam Merapi Ungup-Ungup atau kawasan Kawah Ijen di Banyuwangi, Gunung Arjuno Welirang di Pasuruan, serta Bukit Sariwani di Probolinggo.

Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla menjadi tantangan tersendiri bagi tim gabungan, terutama karena sebagian lokasi kebakaran berada di kawasan dengan kontur pegunungan yang curam dan sulit dijangkau.

Baca juga: Karhutla Ijen Sulit Dijangkau, Helikopter Water Bombing Dikerahkan Padamkan Api

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno, mengatakan seluruh unsur gabungan masih dikerahkan untuk menangani kebakaran di sejumlah titik tersebut.
"Seluruh elemen tim gabungan terus dikerahkan untuk memadamkan api," kata Satriyo, Senin, 7 September 2026.

Dari lima lokasi tersebut, kebakaran di kawasan Gunung Semeru menjadi yang paling luas. Lahan yang terdampak kebakaran di kawasan Semeru diperkirakan mencapai sekitar 600 hektare.

Upaya pemadaman juga sebelumnya dilakukan melalui udara menggunakan metode water bombing. Namun, operasi tersebut harus ditunda setelah helikopter PK-DAP mengalami gangguan.

Helikopter tersebut dilaporkan mengalami kerusakan pada sistem kelistrikan serta gangguan pada bucket air yang digunakan untuk menjatuhkan air ke titik kebakaran. Akibatnya, helikopter ditarik menuju Lanud Abdulrachman Saleh untuk menjalani perbaikan.

Sementara itu, penanganan kebakaran melalui jalur darat terus dilakukan oleh tim gabungan. Dampak kebakaran juga berimbas terhadap aktivitas wisata dan pendakian. Aktivitas pendakian Gunung Semeru dan Kawah Ijen ditutup total hingga waktu yang belum ditentukan demi keselamatan masyarakat.

Kebakaran juga terjadi di kawasan Cagar Alam Merapi Ungup-Ungup, kawasan Kawah Ijen.
Kebakaran tersebut mulai muncul sejak Kamis (3/9/2026). Api kemudian dilaporkan mulai merembet dari wilayah Banyuwangi menuju kawasan Bondowoso.

Baca juga: Jatim Kirim Tim Reaksi Cepat ke NTT, Fokus Evakuasi dan Assessment Pascagempa M 7,7

Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan penutupan akses pendakian Kawah Ijen. Penutupan dilakukan sebagai langkah antisipasi mengingat aktivitas pendakian berpotensi membahayakan wisatawan apabila berada terlalu dekat dengan area yang terdampak kebakaran.

Sementara itu, kebakaran di kawasan Gunung Wilis menghanguskan sekitar 16 hektare vegetasi di wilayah perbatasan Nganjuk dan Kediri. Kata Satriyo, kebakaran di kawasan tersebut diduga kuat dipicu ulah oknum yang tidak bertanggung jawab. "Diduga kuat akibat ulah oknum yang tidak bertanggung jawab," ujarnya.

Di kawasan Gunung Arjuno Welirang, kepulan asap masih terlihat di sekitar Pecalukan, Pasuruan. Tim Tahura Raden Soerjo masih melakukan penyisiran melalui jalur darat sekaligus pembasahan di kawasan Lembah Kidang untuk mencegah api kembali meluas.

Adapun di Bukit Sariwani, Probolinggo, kepulan asap masih terdeteksi dari kawasan lereng bukit. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan belum sepenuhnya selesai dan pemantauan terhadap titik-titik rawan masih terus dilakukan.

Baca juga: Pemprov Jatim Gelar Peralatan Bencana 2026 di Pacitan, Perkuat Sinergi dan Kesiapsiagaan

Satriyo memastikan hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa akibat lima kejadian karhutla tersebut. Meski demikian, proses pemadaman menghadapi tantangan berat di lapangan.

Salah satu kendala utama adalah kondisi geografis lokasi kebakaran yang berada di kawasan perbukitan dan pegunungan. Sejumlah titik api berada di medan dengan kemiringan sangat curam, licin dan terjal sehingga sulit dijangkau oleh petugas melalui jalur darat.

Kondisi tersebut membuat tim gabungan harus menyesuaikan strategi penanganan berdasarkan karakteristik masing-masing lokasi. Selain melakukan pemadaman, petugas juga melakukan penyisiran dan pembasahan untuk mencegah bara api kembali menyala dan meluas ke kawasan lain.

BPBD Jawa Timur bersama seluruh unsur terkait terus melakukan pemantauan dan penanganan di lima lokasi tersebut. Penutupan sementara aktivitas pendakian di kawasan terdampak juga menjadi bagian dari langkah mitigasi untuk melindungi masyarakat dari potensi bahaya kebakaran hutan dan lahan.

Editor : Amal

Politik & Pemerintahan
Berita Terpopuler
Berita Terbaru