Jurnas.net - Musik menjadi ruang perjumpaan sekaligus sarana menyuarakan kepedulian terhadap isu lingkungan dan sosial dalam Yayaya Fest 2026 yang digelar di Lapangan Kridosono, Yogyakarta pada Minggu malam, 25 Oktober 2026. Festival ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga berupaya menciptakan ruang yang aman, nyaman, dan inklusif bagi semua orang, termasuk penyandang disabilitas.
Inisiator Yayaya Fest 2026, RA Yashinta Sekarwangi Mega, mengatakan festival ini dihadirkan untuk menyediakan ruang bagi masyarakat, khususnya anak muda di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), agar dapat berkumpul dan berekspresi tanpa terkecuali.
Baca juga: Yayaya Fest, Festival Musik Bentuk Kepedulian Sosial-Lingkungan
Menurutnya, setiap orang memiliki pengalaman dan perjuangan yang berbeda sepanjang 2026. Ada suka, luka, hingga duka yang dirasakan. Karena itu, apa pun bentuk perjuangan yang telah dilalui, setiap orang berhak merayakannya.
“Tujuannya agar kita bisa merasakan suka, luka, dan duka yang terjadi pada 2026. Apa pun perjuangannya, itu patut dirayakan,” ujarnya.
Yayaya Fest 2026 juga melibatkan sejumlah komunitas yang bergerak dalam isu sosial dan lingkungan, di antaranya SIGAB, KOPHI, dan Sadar Belajar. Melalui keterlibatan komunitas tersebut, pengunjung diharapkan dapat mengenal lebih dekat berbagai persoalan, mulai dari isu lingkungan, kekerasan, hingga perlindungan anak dan perempuan.
Yashinta menegaskan, upaya mengampanyekan isu-isu tersebut tidak akan berhenti setelah festival berakhir. Kolaborasi dengan berbagai komunitas akan terus diupayakan agar dampaknya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Ia berharap, keterlibatan komunitas dalam festival ini dapat mempertemukan anak-anak muda dengan berbagai gerakan sosial, memperluas jejaring, sekaligus mendorong lahirnya pemahaman yang lebih mendalam mengenai persoalan lingkungan dan sosial. Jejaring tersebut juga diharapkan dapat menjadi bekal untuk bersama-sama mengawal kebijakan yang berkaitan dengan isu-isu tersebut.
Semangat inklusivitas dalam festival ini turut dirasakan oleh Mitro, seorang penyandang tunanetra. Ia mengapresiasi penyelenggaraan acara yang memberikan perhatian kepada kelompok difabel dan berharap upaya serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan.
Tanggapan positif juga disampaikan Ani Vero (45), warga Suryodiningratan, Yogyakarta. Ia mengaku senang dapat menikmati konser dengan konsep yang inklusif. Menurutnya, selama ini konser kerap menghadirkan kekhawatiran bagi sebagian penyandang disabilitas, terutama ketika harus berdesakan atau berdiri dalam waktu lama.
“Senang sekali, ada konser yang inklusif. Selama ini takut mau ke konser karena berdesakan dan berdiri lama, jadi capek,” tuturnya.
Ani merasakan langsung kemudahan akses selama mengikuti festival. Sejak tiba di pintu masuk, ia mendapatkan pendampingan hingga ke area dalam acara. Petugas juga memberikan informasi mengenai keberadaan toilet khusus difabel.
Pengalaman tersebut membuatnya merasa lebih nyaman untuk menikmati konser. Ia menilai perhatian terhadap kebutuhan penyandang disabilitas merupakan langkah penting dalam mewujudkan ruang publik yang dapat diakses semua orang.
Baca juga: PSIM Yogyakarta Pecat Jean Paul van Gastel dari Kursi Pelatih
Ani juga mengungkapkan bahwa penyandang disabilitas masih menghadapi tantangan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk diskriminasi dalam dunia kerja. Ia berharap pengalaman positif yang dirasakannya di Yayaya Fest dapat menjadi bagian dari perubahan menuju masyarakat yang lebih terbuka.
“Harapannya Indonesia semakin inklusif,” katanya.
Melalui Yayaya Fest 2026, musik menjadi lebih dari sekadar hiburan. Festival ini menjadi ruang untuk merayakan perjuangan, mempertemukan komunitas, serta menumbuhkan kesadaran bahwa kepedulian terhadap lingkungan dan persoalan sosial perlu diwujudkan melalui kolaborasi yang berkelanjutan. Inklusivitas pun diharapkan tidak hanya hadir selama festival berlangsung, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
Editor : A. Mustaqim