Jurnas.net – Dinamika menuju Musyawarah Wilayah (Muswil) Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Jawa Timur 2026 mulai menghangat. Berbagai rangkaian kegiatan pra-Muswil seperti Semarak Muharram, lomba karya tulis, kompetisi desain logo, hingga sejumlah agenda konsolidasi organisasi terus digelar untuk menyemarakkan hajatan lima tahunan tersebut.
Namun di tengah berbagai kegiatan seremonial dan perlombaan, Steering Committee (SC) Muswil KAHMI Jawa Timur, Sugiharto, mengingatkan bahwa substansi utama Muswil sejatinya bukan terletak pada kemeriahan acara, melainkan pada lahirnya gagasan besar yang mampu menentukan arah masa depan KAHMI Jawa Timur.
Menurutnya, Muswil harus menjadi ruang intelektual yang mempertemukan berbagai pemikiran terbaik kader dan alumni HMI untuk merumuskan reposisi peran KAHMI di tengah perubahan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan yang terus berkembang.
“Semarak Muswil tahun ini bukan hanya soal pernak-pernik kegiatan, Gema Muharram, lomba karya tulis atau lomba logo. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana pemikiran keluarga besar alumni HMI bisa berkontribusi sejak awal melalui ide, gagasan dan adu pemikiran mengenai masa depan KAHMI Jawa Timur,” kata Totok, sapaan akrabnya, Rabu, 10 Juni 2026.
Ia menilai momentum Muswil harus dimanfaatkan untuk membangun tradisi intelektual yang selama ini menjadi ciri khas kader HMI. Karena itu, proses pemilihan Presidium KAHMI Jawa Timur tidak boleh hanya dipahami sebagai pergantian kepemimpinan organisasi semata, melainkan sebagai proses menghadirkan figur yang memiliki kapasitas intelektual, rekam jejak pengabdian, serta visi besar untuk organisasi.
Figur Presidium Harus Punya Rekam Jejak dan Legacy
Totok menegaskan bahwa calon-calon Presidium yang akan muncul dalam Muswil mendatang harus memiliki pengalaman organisasi yang memadai. Mereka idealnya pernah berkiprah dalam struktur HMI, mulai dari tingkat komisariat, cabang, badan koordinasi (Badko), Pengurus Besar (PB) HMI maupun lembaga-lembaga kekaryaan.
Menurutnya, pengalaman tersebut penting karena Presidium KAHMI bukan sekadar jabatan simbolik, melainkan posisi strategis yang menentukan arah gerak organisasi alumni terbesar di Indonesia itu. “Jangan sampai yang terpilih nanti hanya sekadar mentereng di struktur KAHMI Jawa Timur. Jangan hanya menjadi pajangan di etalase organisasi, hadir di foto-foto kegiatan, lalu selesai. Yang harus dilihat adalah kiprahnya, legacy yang sudah dibangun, kontribusinya kepada HMI dan KAHMI selama ini,” tegasnya.
Ia mengingatkan agar proses pemilihan Presidium tidak terjebak pada praktik-praktik pragmatis yang hanya mengedepankan representasi kelompok tertentu. “Jangan sampai terpilihnya Presidium hanya menjadi semacam dagang sapi atau perebutan representasi partai politik. Itu terlalu praktis. KAHMI memiliki banyak kader intelektual, akademisi, cendekiawan, budayawan, profesional hingga ulama yang bisa memberikan kontribusi besar bagi organisasi,” katanya.
Adu Gagasan Harus Dimulai Sejak Sekarang
Sebagai bagian dari SC Muswil, Totok berharap dinamika pemikiran sudah mulai dibangun jauh sebelum pelaksanaan Muswil. Ia mendorong para kandidat maupun tokoh-tokoh yang berpotensi diusulkan sebagai Presidium untuk mulai menyampaikan gagasan melalui tulisan, artikel, opini, maupun forum-forum diskusi publik.
Menurutnya, masyarakat KAHMI berhak mengetahui visi, paradigma, dan konsep yang ditawarkan setiap figur yang ingin memimpin organisasi. "Mulai sekarang calon-calon Presidium sudah harus aktif menulis, menyampaikan artikel, narasi, dan gagasan intelektual. Tema besar Muswil kali ini adalah reposisi paradigma KAHMI. Maka yang harus dikedepankan adalah gagasan dan pemikiran,” ujarnya.
Ia menilai media massa dan ruang publik harus dimanfaatkan sebagai arena pertukaran ide sehingga keluarga besar HMI dapat menilai kualitas calon pemimpin secara objektif. “Dinamika pemikiran itu harus hidup. Dari media, diskusi, tulisan dan berbagai forum intelektual. Sehingga nanti yang terpilih benar-benar sesuai harapan keluarga besar KAHMI, bukan hanya harapan segelintir orang,” katanya.
KAHMI Diharapkan Jadi Mitra Strategis Pembangunan Jawa Timur
Totok berharap Muswil KAHMI Jawa Timur 2026 mampu melahirkan kepemimpinan yang tidak hanya berorientasi pada kepentingan internal organisasi, tetapi juga mampu memberikan dampak yang lebih luas bagi pembangunan daerah dan nasional. Menurutnya, KAHMI memiliki sumber daya manusia yang tersebar di berbagai sektor strategis, mulai pemerintahan, akademisi, dunia usaha, hingga masyarakat sipil. Potensi tersebut harus dikonsolidasikan untuk memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Jawa Timur.
“Kita ingin Presidium yang terpilih nanti bukan hanya bermanfaat bagi KAHMI Jawa Timur, tetapi juga memiliki dampak nasional bahkan global,” ujarnya.
Ia menambahkan, visi pembangunan Jawa Timur sebagai gerbang baru Nusantara membutuhkan dukungan berbagai elemen strategis, termasuk KAHMI sebagai wadah berhimpunnya para alumni HMI. “KAHMI harus mampu menjadi sparring partner pemerintah. Kita mendukung seluruh kebijakan yang baik untuk masyarakat Jawa Timur, sekaligus memberikan kritik yang konstruktif demi kemajuan daerah dan organisasi,” tegasnya.
Muswil KAHMI Jawa Timur 2026 sendiri direncanakan digelar di kawasan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Sejumlah agenda besar tengah dipersiapkan panitia, termasuk konsolidasi organisasi, forum gagasan, diskusi kebangsaan, hingga upaya menghadirkan sejumlah tokoh nasional.
Muswil mendatang diproyeksikan menjadi salah satu forum strategis terbesar alumni HMI di Jawa Timur karena tidak hanya membahas pergantian kepemimpinan, tetapi juga merumuskan arah baru organisasi dalam menghadapi tantangan zaman.
Dengan semakin menghangatnya dinamika menjelang Muswil, pertarungan gagasan kini mulai menjadi sorotan. Harapan besar pun muncul agar forum tersebut benar-benar melahirkan kepemimpinan yang mampu menjaga tradisi intelektual HMI, memperkuat peran KAHMI di tengah masyarakat, serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Jawa Timur dan Indonesia.
Editor : Amal