Jurnas.net - Bukan sekadar kembali masuk radar nasional, Banyuwangi kini diposisikan pemerintah pusat sebagai role model pariwisata berkelanjutan Indonesia. Hal itu terlihat setelah Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menembus tiga besar nominasi Most Inspiring Tourism Leader (MITL) dalam ajang Wonderful Indonesia Award (WIA) 2025 yang digelar Kementerian Pariwisata.
WIA 2025 bukan penghargaan seremonial. Ajang ini merupakan barometer pemerintah pusat dalam menilai kepemimpinan daerah yang mampu menciptakan ekosistem pariwisata berkualitas, inklusif, dan tahan banting.
Dan Ipuk menjadi salah satu figur yang dinilai berhasil menghadirkan terobosan nyata, bukan hanya destinasi indah.
Baca juga: RSUD Blambangan Banyuwangi Buka Poli Eksekutif, Pasien Bisa Langsung Pilih Dokter Spesialis
Sekretaris Menteri Pariwisata, Bayu Aji, yang membuka sesi penilaian daring, menyebut WIA sebagai sarana identifikasi praktik terbaik pengembangan pariwisata daerah di Indonesia.
“Award ini adalah bentuk apresiasi bagi pemerintah daerah yang inovatif dan visioner dalam mengembangkan pariwisata berkelanjutan. Kami ingin daerah terus terpacu menghadirkan terobosan yang berdampak luas,” kata Bayu, Jumat, 28 November 2025.
Ia menjelaskan hanya tiga besar daerah di tiap kategori—provinsi, kota, dan kabupaten—yang mampu menembus tahap akhir penilaian dari ratusan peserta. “Para nominator ini adalah yang terbaik,” ujarnya.
Ditemui selepas pemaparan, Ipuk menyatakan apresiasi atas dipilihnya Banyuwangi sebagai nominator nasional. "Bagi kami, penghargaan ini bukan seremoni. Ini suntikan energi agar terus berinovasi dan memperkuat kolaborasi demi pariwisata yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Ipuk.
Baca juga: Data Bansos Dinilai Tak Sesuai, Warga Banyuwangi Ajukan Sanggah ke Sistem Perlinsos
Ia menegaskan bahwa Banyuwangi tidak sekadar membangun pariwisata, tetapi ketahanan ekonomi masyarakat melalui inovasi dan keberanian mengambil keputusan.
“Kami menegaskan visi lima tahun: Banyuwangi sebagai pariwisata unggul, berdaya saing, dan memberi manfaat besar bagi warga. Semua program daerah bermuara pada satu hal: kesejahteraan dan penurunan kemiskinan,” katanya.
Ipuk mengakui awal kepemimpinannya ditempa pandemi Covid-19. Namun Banyuwangi memilih tidak berhenti. Lewat Program Banyuwangi Rebound, sektor wisata diselamatkan melalui bantuan ekonomi bagi pelaku wisata, pengaktifan kembali event daerah, dan pengembalian sport tourism berlevel internasional seperti Tour de Banyuwangi Ijen dan World Surf League (WSL).
Baca juga: Beasiswa Banyuwangi Progresif Dibuka April 2026, Prioritas Kedokteran dan Jurusan Kesehatan
Selain itu, Banyuwangi menumbuhkan ekosistem desa wisata yang kini mencapai 99 desa, serta meluncurkan inovasi rute wisata baru Ijen Golden Route. Rangkaian strategi tersebut berdampak langsung pada peningkatan ekonomi daerah.
Pendapatan per kapita naik dari Rp58,08 juta (2023) menjadi Rp62,09 juta (2024). PDRB daerah melonjak dari Rp101,29 triliun (2023) menjadi Rp108,92 triliun (2024). "Kenaikan ini menunjukkan bahwa pariwisata kami tidak hanya hidup, tetapi menghidupi,” pungkas Ipuk.
Editor : Andi Setiawan