Jurnas.net - Kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu lahir dari laboratorium canggih atau proyek berskala besar. Dari dapur rumah dan sisa kulit bawang putih yang kerap terbuang, Raihan Jouzu Syamsudin, siswa SMP Negeri 57 Surabaya, justru memulai langkah kecil yang kini berkembang menjadi praktik ekonomi sirkular berbasis pelajar.
Sejak Februari 2024, Raihan secara konsisten mengolah limbah kulit bawang putih menjadi berbagai produk ramah lingkungan bernilai ekonomi. Proyek ini bermula dari keikutsertaannya dalam ajang Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup tingkat SMP yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, di mana ia mewakili sekolahnya. Namun, berbeda dari peserta lain, Raihan tidak berhenti pada konsep lomba semata.
Baca juga: Pemkot Surabaya Resmi Bentuk BRIDA Mandiri: Kebijakan Kota Kini Berbasis Riset dan Inovasi
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, menilai apa yang dilakukan Raihan mencerminkan tujuan besar pendidikan, yakni membentuk pola pikir kreatif, solutif, dan berkelanjutan sejak usia dini.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga peka terhadap masalah di sekitarnya dan mampu menghadirkan solusi. Inovasi Raihan menunjukkan bahwa siswa bisa berpikir melampaui kebiasaan umum,” kata Febrina, Selasa, 20 Januari 2026.
Menurutnya, pengolahan limbah organik selama ini sering berhenti pada pembuatan kompos. Raihan justru melihat celah lanjutan mengubah limbah menjadi produk fungsional yang bisa dipakai sehari-hari dan memiliki nilai jual.
Atas capaian tersebut, Raihan berhasil meraih predikat Pangeran II Lingkungan Hidup Kota Surabaya 2024. Namun bagi Dispendik, prestasi itu bukan titik akhir, melainkan pintu masuk pembinaan jangka panjang.
“Dengan hadirnya Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA), kami membuka peluang kolaborasi agar inovasi pelajar tidak berhenti sebagai proyek sekolah, tetapi bisa berkembang secara berkelanjutan,” kata Febrina.
Ia menambahkan, inovasi Raihan sekaligus membuka ruang wirausaha hijau bagi pelajar. Limbah yang semula tak bernilai kini menjadi sumber ekonomi, sekaligus media pembelajaran nyata tentang lingkungan dan kewirausahaan.
Dari Tinta Spidol hingga Sabun Cair
Raihan mengungkapkan, ide awalnya muncul dari keprihatinan melihat kulit bawang putih yang melimpah namun kerap dibuang begitu saja.
“Saat ikut Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup, saya mulai tertarik mengolah limbah kulit bawang putih yang selama ini dianggap tidak berguna,” tuturnya.
Pada tahap awal, ia memanfaatkan kulit bawang putih kering sebagai bahan baku tinta spidol ramah lingkungan. Seiring berjalannya waktu, jumlah limbah yang berhasil ia kumpulkan terus meningkat hingga mencapai sekitar 3,12 ton, mendorongnya mengembangkan produk lanjutan berupa eco enzyme dan sabun cair.
Riset kecil yang ia lakukan bersama guru pembina menunjukkan bahwa kulit bawang putih memiliki potensi besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, produksi bawang putih nasional mencapai sekitar 81.805 ton per tahun, yang berbanding lurus dengan volume limbah kulit yang dihasilkan.
“Dari riset, kulit bawang putih yang dibakar secara tertutup menghasilkan black carbon. Bahan ini bisa menjadi alternatif pigmen tinta spidol yang lebih ramah lingkungan,” jelas Raihan.
Proses produksinya dimulai dari penjemuran kulit bawang putih hingga kering, kemudian dihancurkan menggunakan blender. Bahan tersebut dibakar secara tertutup untuk menghasilkan pigmen hitam, lalu diayak dan dicampur dengan larutan tertentu hingga menjadi tinta siap pakai.
Sementara itu, kulit bawang putih yang lembab atau berjamur akibat hujan tidak dibuang, melainkan diolah menjadi eco enzyme. Dari bahan tersebut, Raihan mengembangkan produk ketiga berupa sabun cair yang dirancang tanpa bahan pembusa berlebihan, sehingga lebih aman bagi lingkungan perairan.
Dukungan Sekolah hingga Pasar Daring
Keberlanjutan proyek ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Guru menyediakan fasilitas laboratorium IPA, sementara orang tua dan mitra membantu proses pengumpulan bahan, pengolahan, hingga pemasaran. Produk Raihan telah dipamerkan dalam berbagai event lingkungan, termasuk bersama Tunas Hijau Indonesia, serta dipasarkan secara langsung dan melalui toko daring.
“Ada tetangga yang sudah beli sabun sampai tiga kali karena katanya wanginya enak dan eco enzyme-nya bagus untuk tanaman,” ujarnya.
Sebagai informasi, hasil penjualan produk digunakan kembali untuk pengembangan proyek. Saat ini, tinta spidol 30 mililiter dijual Rp15.000 per botol, sedangkan sabun cair 250 mililiter dipasarkan Rp10.000 per botol. Selain menambah uang saku, usaha ini menjadi sarana belajar langsung tentang manajemen, riset, dan tanggung jawab lingkungan.
Editor : Rahmat Fajar