Jurnas.net - Kebijakan pembatasan penggunaan gawai atau handphone (HP) di sekolah yang diterapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mulai menunjukkan dampak nyata. Setelah berjalan sekitar dua bulan, interaksi sosial siswa meningkat signifikan, sementara kasus perundungan (bullying) dilaporkan menurun.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyampaikan bahwa kebijakan ini bukan sekadar melarang penggunaan teknologi, melainkan langkah strategis membangun karakter, kedisiplinan, dan jiwa sosial peserta didik. Kebijakan tersebut melibatkan kolaborasi tiga unsur utama pendidikan: murid, guru, dan orang tua.
Baca juga: Surabaya Siapkan Skema Bencana Terpadu, Hadapi Rob hingga Ancaman Sesar Aktif
“Alhamdulillah, dengan pembatasan gawai ini proses belajar mengajar di sekolah menjadi jauh lebih interaktif. Anak-anak tidak lagi sibuk dengan HP, tapi terlibat langsung dalam diskusi dan aktivitas bersama guru,” kata Eri, Jumat, 30 Januari 2026.
Menurutnya, perubahan paling terasa terlihat dari pola interaksi antarsiswa. Anak-anak yang sebelumnya cenderung menyendiri karena sibuk bermain gawai kini mulai aktif berkomunikasi dan bersosialisasi. “Kasus bullying menurun. Anak-anak yang dulu lebih memilih diam dan bermain HP sendiri di pojok kelas, sekarang sudah mulai berinteraksi. Ini penting untuk membangun rasa percaya diri dan empati,” ungkapnya.
Eri menegaskan bahwa tujuan pendidikan tidak boleh semata-mata mengejar prestasi akademik, melainkan juga membentuk karakter dan kedisiplinan sejak dini. Pembatasan gawai dinilai mampu menciptakan suasana belajar yang lebih aman, fokus, dan bebas dari paparan konten digital yang tidak sesuai usia.
“Sekolah itu tempat membangun karakter. Fokus belajar meningkat, rasa aman tumbuh, dan anak-anak tidak lagi terpapar konten yang tidak dibutuhkan. Dampaknya luar biasa,” jelasnya.
Baca juga: Surabaya Perkuat Penegakan Hukum Lewat Satgas Anti Premanisme dan Mafia Tanah
Menariknya, kebijakan ini tidak hanya diberlakukan kepada siswa, tetapi juga kepada guru sebagai bentuk keteladanan. Eri menyebutkan, respons para orang tua pun mayoritas positif karena kebijakan tersebut disertai sosialisasi intensif di setiap kelas. “Kami kumpulkan orang tua dan guru. Kami jelaskan bahwa HP tidak bisa menggantikan peran orang tua,” katanya.
Namun demikian, Eri mengakui tantangan terbesar justru berasal dari rendahnya literasi digital sebagian orang tua. Banyak yang belum terbiasa mengawasi aktivitas digital anak, termasuk memeriksa riwayat penggunaan gawai. “Kami sampaikan ke orang tua, tolong lihat history HP anak. Banyak orang tua yang belum pernah melakukan itu, padahal anak-anak jauh lebih paham teknologi,” pesannya.
Ia menegaskan bahwa pembatasan gawai di sekolah harus diimbangi dengan pengawasan di rumah. Tanpa peran aktif orang tua, kebijakan tersebut tidak akan berjalan optimal. “Tidak bisa hanya dibatasi di sekolah. Di rumah juga harus dijaga oleh orang tuanya,” tegas Eri.
Baca juga: Satpol PP Surabaya Tertibkan Pelajar Nongkrong di Warkop Saat Jam Sekolah
Lebih jauh, Wali Kota Eri menilai kebijakan ini sebagai bagian dari visi besar menjadikan Surabaya sebagai Kota Ramah Anak sekaligus menyiapkan generasi pemimpin masa depan yang berkarakter kuat dan bijak dalam menggunakan teknologi.
“Teknologi tidak bisa dihindari, tapi harus dikendalikan. Tujuan akhirnya adalah membentuk anak-anak yang punya karakter, jiwa sosial tinggi, dan interaksi sosial yang sehat,” tandasnya.
Editor : Rahmat Fajar