Desa Wisata Kemiren Banyuwangi, Ekonomi Warga Bergerak dari Lansia hingga Generasi Muda

Reporter : Wulansari
Desa Wisata Kemiren yang merupakan suku adat Osing Banyuwangi. (Humas Pemkab Banyuwangi)

Jurnas.net - Pariwisata di Banyuwangi tidak hanya menghadirkan arus wisatawan, tetapi juga membentuk ekosistem ekonomi yang menggerakkan seluruh lapisan warga. Di Desa Wisata Adat Osing Kemiren, Kecamatan Glagah, geliat pariwisata menjelma menjadi ruang pemberdayaan lintas generasi—dari anak muda hingga warga lanjut usia.

Di dapur-dapur rumah warga, denyut ekonomi itu terasa nyata. Mbah Ning (81), salah satu warga lansia Desa Kemiren, kini tetap produktif meski usia tak lagi muda. Sejak Kemiren berkembang sebagai desa wisata, ia terlibat aktif menyiapkan kuliner khas Osing bagi wisatawan yang berkunjung.

Baca juga: Banyuwangi Kunci Inflasi dari Hulu: Ipuk Gerakkan 4K dan 97 Toko Inflasi Jelang Ramadan

“Kalau ada tamu, saya ikut masak. Biasanya mereka minta Pecel Pitik atau Ayam Kesrut. Dari situ sudah bisa dapat penghasilan,” kata Mbah Ning, Senin, 2 Februari 2026.

Bagi warga lansia, pariwisata memberi alternatif penghidupan yang lebih ringan dibanding bekerja di sektor pertanian. Keahlian tradisional yang selama ini hanya diwariskan secara turun-temurun kini berubah menjadi sumber ekonomi yang bernilai. “Bagi orang tua seperti saya, ini sangat membantu. Kalau ke sawah sudah terlalu berat,” katanya.

Sementara itu, bagi generasi muda, pariwisata membuka ruang untuk bertahan di desa tanpa harus meninggalkan akar budaya. Rika, salah satu pemuda Desa Kemiren, mengaku geliat wisata justru menjadi pemantik kesadaran untuk menjaga tradisi Osing. “Sejak desa kami jadi desa wisata, tamu sering datang. Itu mendorong kami yang muda-muda untuk ikut melestarikan budaya,” ujarnya.

Rika terlibat dalam pelayanan wisata, mulai dari membantu promosi desa hingga menerima pesanan kuliner khas Osing dari wisatawan. Banyak anak muda Kemiren yang kini memilih mengembangkan potensi lokal ketimbang merantau ke kota. “Dari wisata, keluarga kami dapat tambahan penghasilan. Dampaknya benar-benar terasa,” sambungnya.

Baca juga: Banyuwangi Kembangkan Ekonomi Sirkular, Ubah Sampah Rumah Tangga Jadi Bahan Bakar Industri

Desa Wisata Kemiren yang merupakan suku adat Osing Banyuwangi. (Humas Pemkab Banyuwangi)

Secara ekonomi, Desa Kemiren tumbuh sebagai ekosistem pariwisata berbasis warga. Data Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) mencatat, terdapat 22 usaha mikro dan kecil yang bergerak di sektor kuliner dan sandang. Selain itu, tersedia 40 homestay yang sebagian besar merupakan rumah tinggal warga yang disewakan saat musim kunjungan.

“Pariwisata juga menjaga sanggar kesenian tetap hidup. Di Kemiren ada 18 sanggar seni yang semuanya melestarikan budaya adat suku Osing,” kata Ketua Pokdarwis Desa Kemiren, Moh Edy Saputro.

Baca juga: Pabrik Bioetanol 30 Ribu KL Dibangun di Banyuwangi, Tekan Impor BBM dan Emisi Karbon

Setiap tahun, Desa Wisata Kemiren dikunjungi ribuan wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat budaya Osing. Berdasarkan catatan buku tamu, jumlah kunjungan berkisar antara 2.000 hingga 4.000 orang per tahun. Sebelum pandemi Covid-19, angka kunjungan bahkan sempat menyentuh 18.000 wisatawan pada 2019.

“Pasca pandemi, kami terus berupaya menghadirkan pengalaman budaya yang otentik agar kunjungan kembali meningkat,” kata Edy.

Tak hanya berdampak ekonomi, pengembangan pariwisata berbasis budaya juga mengantarkan Desa Kemiren meraih berbagai penghargaan prestisius. Di antaranya Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024, The 5th ASEAN Homestay Award dalam ajang ASEAN Tourism Award (ATA) 2025, serta pengakuan sebagai bagian dari Jaringan Desa Wisata Terbaik Dunia melalui The Best Tourism Villages Upgrade Programme dari United Nations Tourism.

Editor : Rahmat Fajar

Politik & Pemerintahan
Berita Terpopuler
Berita Terbaru