Jurnas.net - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah laporan serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah target di Iran, termasuk ibu kota Teheran, Sabtu, 28 Februari 2026. Situasi tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan serta korban sipil dan memperkeruh stabilitas kawasan.
Merespons perkembangan itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi langsung menggelar rapat internal guna membahas langkah antisipasi bagi warga Kota Pahlawan. Eri mengimbau masyarakat Surabaya untuk sementara waktu menunda rencana perjalanan ke luar negeri, terutama ke wilayah yang berpotensi terdampak konflik.
Baca juga: Eri Cahyadi Tegaskan Dana Rp5 Juta per RW untuk Gen Z Harus Berdampak Nyata, Ini Syaratnya
“Kemarin sudah kami rapatkan. Dalam kondisi Timur Tengah yang sedang panas seperti ini, saya berharap warga Surabaya tidak bepergian ke luar negeri dulu. Keselamatan harus menjadi prioritas,” ujar Eri, Selasa, 3 Maret 2026.
Selain imbauan bagi warga di dalam negeri, Pemerintah Kota Surabaya juga memberi perhatian khusus kepada warga Surabaya yang saat ini berada di kawasan Timur Tengah. Eri meminta mereka untuk meningkatkan kewaspadaan, aktif memantau perkembangan situasi, serta mengikuti arahan otoritas setempat maupun perwakilan resmi pemerintah Indonesia.
Baca juga: Jalankan Instruksi Presiden, Wali Kota Eri Cahyadi Perkuat Rantai Pasok Hotel dan UMKM
“Warga Surabaya yang berada di Timur Tengah agar benar-benar berhati-hati. Situasi perang tidak bisa diprediksi, serangan bisa terjadi sewaktu-waktu dan di berbagai titik,” tegasnya.
Menurutnya, dinamika konflik bersenjata sering berkembang cepat dan sulit diperkirakan. Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak meremehkan eskalasi yang sedang berlangsung.
Sebagai langkah konkret, Pemkot Surabaya telah berkoordinasi dengan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Surabaya untuk memastikan data warga Surabaya yang berada di kawasan terdampak, termasuk jamaah maupun warga yang sedang menjalankan aktivitas pendidikan dan pekerjaan.
“Kami berkoordinasi dengan Kemenag untuk mengetahui jumlah warga Surabaya yang ada di sana, sehingga jika dibutuhkan langkah lanjutan bisa segera diantisipasi,” pungkas Eri.
Editor : Rahmat Fajar