Jurnas.net — Di tengah laju modernisasi kota, keberadaan Balai Pemuda Surabaya kembali menjadi sorotan. Bukan sekadar gedung tua bersejarah, ruang ini kini dipertaruhkan sebagai episentrum regenerasi seniman sekaligus simbol keberpihakan kota terhadap kebudayaan.
Melalui kegiatan melukis bersama On The Spot (OTS) bertajuk “Beauty of Balai Pemuda Surabaya”, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mencoba menegaskan bahwa ruang seni masih memiliki tempat di tengah pembangunan kota. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kartini 21 April 2026.
Baca juga: Pemkot Surabaya Pasang CCTV di 179 Titik, Integrasikan Kamera Swasta untuk Keamanan Kota
Namun di balik perayaan tersebut, tersimpan pesan kuat dari para pelaku seni: Balai Pemuda bukan sekadar ruang pamer, melainkan “rumah” yang membentuk sejarah panjang kesenian Surabaya.
Ketua Sanggar Merah Putih, M. Anis, mengingatkan bahwa sejak 1970-an, Balai Pemuda telah melahirkan banyak nama besar seperti Gombloh, Leo Kristi, hingga Franky Sahilatua. “Balai Pemuda ini bukan hanya gedung, tapi pusat lahirnya seniman. Ini harus dipertahankan sebagai kuasa kesenian,” kata Anis, Minggu, 19 April 2026.
Menurutnya, kesenian memang sering dipandang tidak berdampak langsung pada pendapatan daerah. Namun justru di situlah peran pemerintah dibutuhkan menjaga keseimbangan pembangunan agar tidak semata berorientasi ekonomi. “Kesenian itu bukan soal PAD. Ini soal identitas kota dan keseimbangan pembangunan,” tegasnya.
Anis juga mengapresiasi sikap Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, yang dinilai tetap membuka ruang bagi semua cabang seni untuk tampil di Balai Pemuda. Kebijakan ini dianggap penting di tengah kekhawatiran sempat munculnya isu penggusuran ruang seni.
Baca juga: 147.545 KK Surabaya Masih Nonaktif, Ribuan Warga Belum Bisa Akses Layanan Publik
Di sisi lain, denyut kesenian tetap hidup. Galeri Merah Putih yang dikelola Anis menjadi contoh bagaimana ruang kecil mampu menghadirkan intensitas tinggi dengan hampir 40 agenda pameran setiap tahun. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan pada minimnya pelaku seni, melainkan pada keberlanjutan ruang ekspresi.
Senada, pelaku seni tari Sri Mulyani melihat perubahan pendekatan kelembagaan dari kesenian ke kebudayaan sebagai langkah strategis. Menurutnya, budaya memiliki spektrum lebih luas dan mampu mengakomodasi lebih banyak ekspresi kreatif.
Ia yang telah berkarya sejak 1982 mengaku merasakan langsung dukungan Pemkot Surabaya, mulai dari penyediaan fasilitas pertunjukan hingga dukungan kegiatan lintas daerah. “Fasilitas gedung, pencahayaan, sampai sound system sangat membantu kami untuk menampilkan karya, bahkan hingga skala internasional,” ujarnya.
Baca juga: Eri Cahyadi Luncurkan ISOPLUS Marathon 2026, Surabaya Bidik Status Kota Lari Kelas Dunia
Sri Mulyani juga menyoroti semakin hidupnya atmosfer seni di Surabaya. Berbagai festival dan agenda kota dinilai tidak hanya menjadi ruang ekspresi, tetapi juga menarik wisatawan dan memperkuat identitas budaya kota.
Di tengah geliat itu, Balai Pemuda berdiri sebagai simbol penting apakah kota akan terus memberi ruang bagi seni, atau justru mendorongnya ke pinggiran. Kini, para pelaku seni berharap komitmen pemerintah tidak berhenti pada seremoni, melainkan hadir dalam kebijakan yang konsisten. Sebab bagi mereka, menjaga Balai Pemuda berarti menjaga denyut kebudayaan Surabaya itu sendiri.
Editor : Rahmat Fajar