Jurnas.net — Di balik riuh kompetisi di Grand City Mall Surabaya, turnamen domino nasional yang digelar Higgs Games Island (HGI) pada 18–19 April 2026 menyimpan agenda besar, mengubah wajah domino dari permainan pinggir jalan menjadi industri olahraga berbasis komunitas yang terorganisir.
Ajang ini tidak sekadar mempertemukan 1.536 peserta dari 27 provinsi, tetapi juga menjadi eksperimen nyata bagaimana sebuah permainan rakyat “naik kelas” melalui standar kompetisi, regulasi, dan dukungan kelembagaan.
Baca juga: HGI Sulap Domino Jadi Mind Sport Nasional, Turnamen Surabaya Dongkrak Ekonomi Lokal
Namun, cerita paling menarik justru terjadi di luar meja pertandingan. Ribuan peserta yang datang menciptakan lonjakan aktivitas ekonomi mulai dari hotel, transportasi, hingga pelaku UMKM lokal. Dalam dua hari, efek ekonomi yang tercipta menunjukkan bahwa event komunitas mampu menjadi mesin perputaran uang yang konkret.
Ahmad, pedagang di sekitar lokasi, merasakan dampak langsung. Pendapatannya meningkat hingga dua kali lipat selama turnamen berlangsung. Fenomena ini memperlihatkan bahwa domino kini tidak hanya mencetak juara, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru berbasis keramaian event.
Di sisi lain, HGI bersama Persatuan Olahraga Domino Indonesia (PORDI) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) tengah menjalankan misi yang lebih strategis: membangun legitimasi domino sebagai mind sport.
Perwakilan HGI, Rey, menegaskan bahwa transformasi ini dirancang secara sistematis. “Domino bukan lagi sekadar hiburan. Kami membangun ekosistem yang serius—dengan aturan, sistem kompetisi, dan pembinaan atlet,” kata Rey, di sela turnamen, Minggu, 19 April 2026.
Baca juga: Gagal Sapu Bersih di Kandang, Bandung BJB Tandamata Takluk dari Phonska Plus di Proliga 2026
Upaya tersebut mendapat penguatan dari pemerintah daerah. Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elistianto Dardak, menilai turnamen seperti ini berpotensi menjadi jalur pembinaan atlet menuju level nasional hingga internasional.
Sementara Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, menegaskan bahwa domino kini telah memiliki struktur organisasi yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Meski demikian, tantangan terbesar bukan pada teknis kompetisi, melainkan persepsi publik. Selama bertahun-tahun, domino kerap dikaitkan dengan praktik perjudian.
Menjawab stigma itu, Ketua Umum PB PORDI, Andi Jamaro Dulung, menegaskan bahwa ekosistem domino yang dibangun saat ini sepenuhnya berada dalam koridor olahraga. “Tidak ada taruhan, tidak ada unsur judi. Semua berbasis kompetisi resmi dan menjunjung sportivitas,” tegasnya.
Baca juga: LavAni Livin’ Transmedia Sapu Bersih Putaran Pertama Proliga 2026
Pernyataan ini menjadi fondasi penting dalam upaya “pemutihan citra” domino di mata publik—sekaligus membuka jalan menuju pengakuan yang lebih luas. Dari sisi pembinaan, Ketua KONI Jawa Timur, Muhammad Nabil, melihat turnamen ini sebagai ruang untuk menemukan talenta-talenta tersembunyi yang selama ini tidak memiliki panggung.
Dengan hadiah mencapai Rp200 juta dan sistem kompetisi profesional, domino kini mulai memiliki daya saing dengan cabang olahraga lain yang lebih dulu mapan. Bagi peserta, perubahan ini terasa nyata. Marlina, peserta asal Samarinda, menilai domino kini menjadi sarana melatih pola pikir strategis yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. "Ini bukan sekadar permainan. Ini tentang strategi dan pengambilan keputusan,” tandasnya.
Kesuksesan di Surabaya melanjutkan rangkaian HGI setelah sebelumnya digelar di Sulawesi Selatan. Turnamen berikutnya direncanakan berlangsung di Padang dan Bekasi, sebagai bagian dari upaya membangun liga domino nasional yang berkelanjutan. Kini, domino tidak lagi berdiri di ruang abu-abu antara hiburan dan stigma. Ia mulai bergerak menuju identitas baru: olahraga, industri, sekaligus penggerak ekonomi berbasis komunitas.
Editor : Rahmat Fajar