Jurnas.net - Penjaga gawang andalan PSIM Yogyakarta, Cahya Supriadi menasbihkan diri mendapat gelar man of the match (MOTM) saat menghadapi Persija Jakarta. Cahya berhasil menciptakan momen penting bagi Laskar Mataram dengan menepis tendangan penalti Persija yang dieksekusi oleh Emaxwell Souza di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar Bali pada Rabu, 22 April 2026.
“Bersyukur bisa menjadi MOTM dalam laga kemarin. Ini sebuah pencapaian yang baik untuk saya secara pribadi," ujar Cahya.
Baca juga: Persib Unggul Head to Head, Arema Masih Jadi Lawan Sulit Jelang Duel di GBLA
Penampilan apik di bawah mistar gawang terasa spesial sebab ia harus melawan mantan klub asalnya. Pemain kelahiran Karawang ini mengaku bahwa laga kemarin merupakan salah satu pertandingan sulit yang ia lakoni pada kompetisi BRI Super League 2025/26 musim ini.
"Pastinya sangat senang bisa bertemu kembali dengan mantan tim saya, yaitu Persija, dan menjadi kini melawan mereka. Kualitas pemain Persija tidak perlu diragukan lagi. Mereka juga banyak menciptakan serangan-serangan berbahaya ke gawang kami," kata dia.
Cahya harus bekerja keras digempur lini serang Persija. Bagi Cahya, penampilan solid tim dengan mendapat satu poin harus disyukuri.
Pelatih PSIM, Jean-Paul Van Gaste mengapresiasi tinggi atas kontribusi sang kiper. Juru taktik asal Belanda tersebut melihat potensi besar dalam diri anak asuhnya tersebut.
Baca juga: PSIM Imbangi Persija, Putus Catatan Kekalahan Tiga Laga Beruntun
"Saya puas dengan performa Cahya. Ia masih muda dan terpilih masuk ke tim nasional, sehingga masa depannya sangat cerah," ujarnya.
Meski memuji performa Cahya, ia tetap memberi catatan bagi sang pemain. Salah satunya yakni berkaitan dengan kesalahan keputusan saat di lapangan dan itu harus jadi pembelajaran. Pelatih kelahiran 28 April 1972 tersebut terus memotivasi Cahya agar mau belajar dari pengalaman.
"Ketika seorang penjaga gawang membuat kesalahan, hal itu biasanya berujung pada gol bagi lawan, tetapi ia harus belajar untuk menghadapinya, menjadikannya pelajaran, dan terus melangkah maju," katanya.
Baca juga: Suporter Protes Laga PSIM Lawan Persija Dipindahkan ke Bali
Van Gastel melihat proses pendewasaan alami ini bermanfaat bagi perjalanan karier sepak bola profesional bagi Cahya.
"Perlahan-lahan, ia menjadi lebih dewasa. Seperti yang saya katakan, membuat kesalahan adalah bagian dari proses untuk menjadi versi dirinya yang lebih baik," jelasnya.
Editor : A. Mustaqim