Sidak Proyek Bozem Tanjungsari, Eri Cahyadi Targetkan Kawasan Bebas Banjir November 2026

Reporter : Kurniawan
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat sidak proyek Bozem Tanjungsari. (Humas Pemkot Surabaya)

Jurnas.net — Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, kembali menunjukkan keseriusannya dalam mempercepat penanganan banjir di Kota Pahlawan. Eri melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke proyek pembangunan bozem di kawasan Jalan Tanjungsari, dan meminta seluruh pekerjaan dipercepat agar dampaknya sudah dirasakan warga sebelum musim hujan tiba.

Dalam peninjauan tersebut, Eri memberikan sejumlah instruksi teknis kepada Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya serta kontraktor pelaksana agar pembangunan dilakukan lebih efektif, cepat, dan minim dampak bagi masyarakat sekitar.

Baca juga: HJKS 2026: Parkir di Surabaya Cukup Bayar Rp733 Pakai QRIS

Menurut Eri, pembangunan bozem di kawasan Tanjungsari menjadi salah satu solusi utama mengatasi banjir tahunan yang selama ini terjadi di wilayah Simorejo Sari 1A dan 1B. Ia menjelaskan, posisi permukiman warga di kawasan tersebut lebih rendah dibandingkan elevasi Jalan Tanjungsari sehingga air hujan kerap tertahan dan menimbulkan genangan cukup lama.

“Kampung Simorejo Sari 1A dan 1B ini posisinya lebih rendah. Saya minta aliran dari jembatan Kali Kerambangan dibagi dua. Sebagian dialirkan ke arah bozem, kemudian dibuang ke Diversi Gunungsari,” kata Eri, di lokasi proyek, Senin, 11 Mei 2026.

Untuk mempercepat pengendalian debit air, Eri juga meminta perubahan spesifikasi teknis pada saluran penampungan sementara atau storage. Saluran yang semula direncanakan berukuran kecil diminta diperbesar menjadi 4 x 3 meter agar daya tampung air meningkat dan tidak kembali meluber ke jalan maupun permukiman warga.

“Kalau storagenya tidak besar, maka percuma karena air bisa meluber lagi ke jalan. Jadi saya minta harus dibuat lebih lebar,” tegasnya.

Selain pembangunan bozem di kawasan Tanjungsari, Pemkot Surabaya juga tengah melakukan koordinasi pemanfaatan lahan di sisi jalan tol arah Perak untuk dijadikan tampungan air sementara. Nantinya, air akan dialirkan melalui crossing yang melintasi rel kereta api dan terhubung menuju Bozem Dupak.

Baca juga: Pemkot Surabaya Perluas Parkir Digital, 819 Juru Parkir Kini Layani Pembayaran Non Tunai

Eri menilai integrasi sistem drainase dan penampungan air menjadi langkah penting untuk mengurangi beban genangan di wilayah Surabaya Barat, khususnya kawasan padat permukiman yang selama ini menjadi titik rawan banjir. Dalam sidak tersebut, Eri juga memberikan evaluasi keras terhadap metode pengerjaan proyek yang dinilai masih menggunakan pola konvensional dan kurang efisien.

Ia menyoroti dampak pengerjaan yang menyebabkan jalan rusak, berdebu, serta mengganggu aktivitas warga. Menurutnya, pelaksanaan proyek harus mulai menggunakan pendekatan berbasis teknologi dan manajemen modern agar pekerjaan lebih cepat sekaligus tetap menjaga kenyamanan masyarakat.

“Saya tanya tadi cara pelaksanaannya bagaimana, ternyata metodenya masih tradisional. Dikeruk semua baru dipasang. Itu bikin jalan hancur dan berdebu,” katanya.

Baca juga: Surabaya Jadi Lokasi Film Zombie 'Zona Merah' 2026, Pemkot Libatkan Ribuan Figuran Lokal

Eri meminta proses pengerjaan dilakukan bertahap dengan metode yang lebih terukur, yakni penggalian dilakukan per segmen, langsung dipasang box culvert, kemudian ditutup dan dibersihkan di hari yang sama agar jalan tetap dapat digunakan masyarakat. “Harusnya dikeruk, pasang box culvert, langsung ditutup dan dibersihkan hari itu juga. Jadi jalan tetap bisa dimanfaatkan warga,” ujarnya.

Ia juga meminta DSDABM dan kontraktor mulai memanfaatkan sistem digital seperti aplikasi MS Project untuk menghitung kebutuhan tenaga kerja, alat berat, serta target waktu pekerjaan secara lebih akurat dan terukur. Proyek bozem dengan kapasitas sekitar 20 ribu meter kubik tersebut diperkirakan rampung dalam dua hingga tiga bulan ke depan.

Pemkot Surabaya menargetkan hasil pembangunan sudah efektif mengurangi banjir saat musim hujan mulai meningkat pada akhir tahun 2026. “Insyaallah akan ada perubahan cepat. Saya minta bulan November nanti, saat hujan turun, daerah Tanjungsari hingga Simorejo Sari 1A dan 1B sudah tidak boleh ada banjir lagi. Kasihan warga kalau terus-terusan terdampak,” pungkas Eri.

Editor : Rahmat Fajar

Politik & Pemerintahan
Berita Terpopuler
Berita Terbaru