Jurnas.net – Karakter Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau menghadirkan tantangan besar dalam menjaga konektivitas, keamanan, serta pengelolaan sumber daya maritim. Menjawab tantangan tersebut, Guru Besar ke-256 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. Ir. Ari Santoso, DEA, menggagas sistem kendaraan otonom terintegrasi untuk wilayah laut dan udara yang diharapkan mampu memperkuat konektivitas sekaligus menjaga kedaulatan nasional.
Dalam pidato ilmiahnya, dosen Departemen Teknik Elektro ITS itu menjelaskan bahwa luasnya wilayah perairan Indonesia menuntut hadirnya teknologi yang mampu bekerja secara mandiri dan saling terhubung dalam mendukung berbagai kebutuhan, mulai dari keselamatan pelayaran, inspeksi infrastruktur bawah laut, pemantauan sumber daya kelautan, hingga penanggulangan bencana.
"Indonesia membutuhkan sistem otonom yang mampu beroperasi secara terintegrasi agar berbagai tantangan di wilayah kepulauan dapat diatasi secara lebih efektif dan efisien," kata Ari, Jumat, 7 Agustus 2026.
Sebagai solusi, Ari mengembangkan konsep tiga pilar kendaraan otonom yang bekerja pada tiga domain berbeda, yakni Autonomous Underwater Vehicle (AUV) untuk bawah laut, Unmanned Surface Vehicle (USV) di permukaan laut, dan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) di wilayah udara. Menurut Ari, ketiga wahana tersebut merupakan hasil integrasi berbagai disiplin ilmu, seperti mekanika, hidrodinamika, aerodinamika, elektronika, teknologi sensor, sistem kendali, hingga kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
"Ketiganya merupakan integrasi dari berbagai disiplin ilmu, antara lain mekanika, hidrodinamika, aerodinamika, elektronika, sensor, dan kecerdasan buatan," katanya.
Ia menjelaskan, sistem kendaraan otonom tersebut dirancang menggunakan mekanisme closed-loop system atau sistem kendali tertutup. Sistem ini terdiri atas enam komponen utama, yaitu measurement, perception, guidance, control, actuator, dan environment, yang saling terhubung dalam siklus pengambilan keputusan secara berkelanjutan.
Pada tahap measurement, sistem mengumpulkan data melalui berbagai sensor. Data tersebut kemudian diproses pada tahap perception untuk mengenali kondisi lingkungan. Selanjutnya, guidance menentukan arah dan lintasan yang harus ditempuh, sedangkan control menjaga stabilitas dan ketepatan gerak kendaraan.
Perintah tersebut diteruskan ke actuator yang menggerakkan kendaraan secara fisik. Seluruh proses berlangsung dengan mempertimbangkan faktor environment, yakni kondisi lingkungan yang dapat memengaruhi kinerja sistem sehingga kendaraan mampu beradaptasi secara otomatis.
Ari menjelaskan, setiap kendaraan memiliki fungsi yang berbeda namun saling melengkapi. AUV dirancang untuk melakukan inspeksi bawah laut, seperti pemeriksaan kabel listrik, pipa bawah laut, hingga pemantauan terumbu karang.
Sementara itu, USV bertugas melakukan pengamatan di permukaan laut sekaligus mendukung komunikasi antarsistem. Adapun UAV berfungsi memperluas jangkauan pemantauan dari udara sehingga seluruh operasi dapat berlangsung secara terpadu.
Melalui integrasi ketiga teknologi tersebut, ITS menawarkan solusi untuk meningkatkan efektivitas pengawasan wilayah laut Indonesia, memperkuat keselamatan pelayaran, mendukung pengelolaan sumber daya kelautan, hingga mempercepat respons terhadap bencana.
Ari menilai pengembangan kendaraan otonom tidak hanya menjadi lompatan teknologi, tetapi juga merupakan instrumen strategis dalam memperkuat kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai negara maritim.
"Laut Indonesia bukan hanya batas wilayah, melainkan ruang ekonomi, energi, data, inovasi, sejarah, dan kedaulatan," tandasnya.
Editor : Rahmat Fajar