Gus Kikin dan Tantangan Kebangkitan Gelombang Kedua NU

author jurnas.net

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Abdul Khalid Boyan, Peneliti LPPM Universitas Arya Wangsa (UAW). (Dok: Jurnas.net)
Abdul Khalid Boyan, Peneliti LPPM Universitas Arya Wangsa (UAW). (Dok: Jurnas.net)

Oleh : Abdul Khalid Boyan

Peneliti LPPM Universitas Arya Wangsa (UAW) 

 

Terpilihnya KH Abdul Hakim Mahfudz, yang akrab disapa Gus Kikin, sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU masa khidmat 2026–2031 dalam Muktamar Ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, terjadi tepat ketika Nahdlatul Ulama menginjak usia satu abad.

Momentum ini bukan sekadar pergantian kepengurusan biasa. Jika dibaca melalui pendekatan teori siklus sejarah Ibnu Khaldun, apa yang sedang dialami NU punya makna yang lebih dalam: bukan kelanjutan linear dari gelombang pertama, melainkan ambang gelombang kebangkitan kedua.

Dalam bukunya yang masyhur: Muqaddimah (1377 M), Ibnu Khaldun menegaskan bahwa hukum besi sejarah tidak akan lepas dari yang namanya siklus: yang merepresentasikan kelahiran, kebangkitan, dan keruntuhan.

Siklus itu  berlangsung sepanjang tiga hingga empat generasi—kurang lebih satu Abad. Ibnu Khaldun menandaskan, generasi pertama adalah generasi perintis yang membangun dan membangkitkan solidaritas kolektif lewat kerja keras dan perjuangan bersama.

Sementara generasi kedua merupakan generasi penikmat hasil, mulai mapan, tetapi masih mengingat asal perjuangan. Berbeda dengan dua generasi sebelumnya, generasi ketiga merupakan produk stutus qou yang mulai berjarak secara ingatan akan perjuangan pendahulu dan secara solidaritas sudah mulai luntur—tergantikan oleh perebutan kursi kekuasaan dan kemewahan duniawi. Pada titik inilah sebuah kelompok biasanya runtuh atau digantikan kelompok yang secara solidaritas sosial (ashabiyyah) lebih kuat.

Ibnu Khaldun menandaskan bahwa daya tahan sebuah kelompok sangat ditentukan oleh spirit solidaritas sosial kolektif (ashabiyyah), bukan kemewahan atau warisan.

Kelahiran: Dari Solidaritas dan Konsolidasi Identitas

Dalam kaitan ini, gelombang pertama NU berlangsung pada tahun 1926 M—tepat di saat KH Hasyim Asy'ari dan para kiai pesantren lain merumuskan wadah bersama untuk mempertahankan tradisi keagamaan di tengah tarikan modernisme dan mengkristalnya pergolakan politik kelompok salafi Wahabi di level global.

Tonggak ashabiyyah generasi pendiri ini di tandai lewat Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Suatu pergerakan perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan—berlanjut hingga pasang-surut keterlibatan NU dalam politik praktis di era Orde Baru.

Pada giliran berikutnya adalah fase pematangan yang datang bersamaan ketika NU memutudkan untuk kembali ke Khittah 1926 lewat Muktamar NU ke-27 di Situbondo pada 1984—sebuah sikap dan pilihan sadar NU dalam melepaskan diri dari jerat kekuasaan politik dan mengembalikan orientasi organisasi pada ranah dakwah, pendidikan, dan kemasyarakatan persis seperti cita-cita perintis NU (muassis). 

Era Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengisi ruang ini yang ditandai oleh peran dan kedudukan NU secara kelembagaan yang mengambil yang cukup sentra sebagai kekuatan masyarakat sipil yang disegani dan penggerak serta penjaga demokrasi yang konsisten.

Di era Gus Dur ini pula menjadi puncak dari gelombang pertama: ashabiyyah generasi pendiri yang berhasil diwariskan dan diperkuat generasi penerus terdekatnya (generasi ke 2).

Tantangan Generasi Ketiga dan Kelahiran Kembali

Siklus Ibnu Khaldun memperingatkan bahwa generasi ketiga adalah titik paling rawan. Organisasi yang tumbuh sangat besar—dengan jutaan warga, jaringan pesantren, lembaga ekonomi, dan kedekatan dengan kekuasaan negara—menghadapi godaan dan goncangan struktural dari dalam: perebutan pengaruh, jabatan, sumber daya, dan tarik-menarik kepentingan politik. 

Periode turbulensi itu bisa kita saksikan secara seksama dan sangat kasat mata di era kepemimpinan PBNU masa KH. Yahya Cholil Tsaquf (Gus Yahya)—yang baru saja demisioner dalam Muktamar NU ke 35 di Tambakberas, Jombang 27-31 Agustus 2026.

Lengsernya Gus Yahya dan terpilihnya Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin)—sosok yang menggabungkan akar kepesantrenan dengan jiwa etos kerja profesional usaha.

Kepemimpinannya menandai upaya sadar menghadirkan kembali ashabiyyah generasi pendiri, bukan mengulang bentuknya, melainkan menerjemahkan nilai yang sama ke bahasa zaman: di tangan Gus Kikin NU diharapkan makin menuju kemandirian dalam segala aspek dengan penguasaan teknologi tanpa meninggalkan moralitas.

Memasuki abad kedua bukan kelanjutan otomatis dari abad pertama, melainkan pilihan sadar memutus arah keruntuhan generasi ketiga dan menggantinya dengan kebangkitan baru. Itulah sebabnya periode Gus Kikin lebih tepat disebut gelombang kebangkitan kedua—bukan sekadar pergantian pengurus, melainkan titik kelahiran ashabiyyah baru di atas fondasi lama.

Pergantian kepemimpinan biasa terjadi di dalam siklus yang sama— generasi kedua meneruskan arah generasi pertama tanpa mengubah sumber ashabiyyah-nya. Namun ketika sebuah kelompok mencapai ujung siklus tiga-generasinya dan sengaja merombak sumber solidaritasnya—bukan sekadar berganti wajah, tetapi mengubah cara merawat akar sekaligus menumbuhkan cabang baru—itu bukan lagi kelanjutan, melainkan kelahiran gelombang baru. 

Bingkai "abad kedua NU" yang diusung Gus Kikin bukan retorika kosong, melainkan proyeksi eksplisit yang mempertemukan dua kekuatan kultural yang kerap dianggap berseberangan: dunia santri penjaga tradisi dan dunia profesional-pengusaha yang bergerak cepat mengikuti zaman.

Gelombang dari Luar dan Gelombang dari Dalam

Ibnu Khaldun mengingatkan bahwa keruntuhan sebuah ashabiyyah jarang datang dari satu sumber saja, melainkan pertemuan antara tekanan eksternal dan pelapukan internal. Tekanan dari luar berwujud disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan, perubahan geopolitik, ketimpangan ekonomi, krisis iklim, serta pergeseran cara generasi muda memaknai agama dan otoritas—lautan yang jauh berbeda dari yang dihadapi generasi pendiri seabad silam.

Namun ancaman yang lebih halus datang dari dalam: godaan kekuasaan, rebutan pengaruh dan sumber daya, serta kedekatan berlebihan dengan kekuatan politik yang bisa menggerus independensi organisasi. 

Inilah gejala generasi ketiga menurut Ibnu Khaldun—lahir dalam kemapanan, mulai lupa kerasnya perjuangan pendahulu, dan mengutamakan kenyamanan di atas solidaritas kolektif. Gelombang dari luar bisa dihadapi dengan strategi, tetapi gelombang dari dalam hanya bisa diatasi dengan kesadaran kolektif merajut kembali ashabiyyah—dan di titik inilah kepemimpinan Gus Kikin sesungguhnya diuji.

Satu Abad, Dua Gelombang

Ibnu Khaldun tidak menjanjikan kelahiran kembali ashabiyyah itu otomatis berhasil. Ia hanya mungkin terjadi jika generasi pemimpin sungguh menyadari ancaman kemewahan dan perpecahan, lalu sengaja merajut kembali solidaritas kolektif lewat kerja nyata, bukan retorika. 

Karena, menurut saya, ujian sesungguhnya NU hari ini bukan lagi soal faksionalisasi akibat kerasnya pertarungan di Muktamar, melainkan pada kemampuan navigasi NU dalam menjawab kemiskinan, ketimpangan, kualitas pendidikan, dan godaan kekuasaan yang terus membayangi organisasi.

Jika ditanya sudah memasuki gelombang kebangkitan keberapa NU saat ini menurut siklus Ibnu Khaldun, jawabannya: NU baru saja menuntaskan satu putaran penuh gelombang pertama—dari ashabiyyah perjuangan generasi pendiri hingga konsolidasi identitas di era Gus Dur—dan kini berdiri di ambang gelombang kedua, yang sengaja dirancang untuk mencegah keruntuhan generasi ketiga.

Kepemimpinan Gus Kikin adalah taruhan atas keberhasilan proyek itu: kapakah ashabiyyah baru benar-benar tumbuh, atau abad kedua NU hanya mengulang pola lama.

Berita Terbaru

SIER Gerak Cepat Tangani Insiden Kebakaran di TPST Lestari PIER, Seluruh Pekerja Dipastikan Selamat

SIER Gerak Cepat Tangani Insiden Kebakaran di TPST Lestari PIER, Seluruh Pekerja Dipastikan Selamat

Jumat, 30 Okt 2026 19:42 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 19:42 WIB

Jurnas.net – PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) bergerak cepat menangani insiden kebakaran yang terjadi di area Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (…

Bangun Platform Ekspor Kopi, Wisudawan Universitas Ciputra Hubungkan 50 Petani ke Pasar Global

Bangun Platform Ekspor Kopi, Wisudawan Universitas Ciputra Hubungkan 50 Petani ke Pasar Global

Jumat, 30 Okt 2026 17:10 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 17:10 WIB

Jurnas.net – Memulai bisnis kopi dari pasar lokal, Aryasetya Kanaka Dumadi berhasil mengembangkan usahanya hingga menembus pasar internasional. Wisudawan p…

Data KTP dan KK Warga 4 Wilayah Diduga Dipakai untuk Penipuan dan Judol, Polisi Tangkap Pria Sidoarjo

Data KTP dan KK Warga 4 Wilayah Diduga Dipakai untuk Penipuan dan Judol, Polisi Tangkap Pria Sidoarjo

Jumat, 30 Okt 2026 10:27 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 10:27 WIB

Jurnas.net – Direktorat Siber Polda Jawa Timur mengungkap dugaan penyalahgunaan data kependudukan berupa kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK) y…

Alit Kelakan Terpilih sebagai Ketua Umum DPP GPM Periode 2026–2030

Alit Kelakan Terpilih sebagai Ketua Umum DPP GPM Periode 2026–2030

Kamis, 29 Okt 2026 20:35 WIB

Kamis, 29 Okt 2026 20:35 WIB

Jurnas.net - I Gusti Ngurah Kesuma Kelakan atau Alit Kelakan terpilih sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Marhaenis (DPP GPM) periode…

Fakta Persidangan: Eks Kadis ESDM Jatim Nur Kholis Diduga Terima Rp 687,5 Juta Hasil Pungli Izin Tambang

Fakta Persidangan: Eks Kadis ESDM Jatim Nur Kholis Diduga Terima Rp 687,5 Juta Hasil Pungli Izin Tambang

Kamis, 29 Okt 2026 17:21 WIB

Kamis, 29 Okt 2026 17:21 WIB

Jurnas.net – Dugaan aliran dana pungutan liar (pungli) senilai Rp 687,5 juta kepada mantan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Timur, Nur K…

Eddy Soeparno Sebut Transmisi Kunci Transisi Energi, Dorong Investasi dan Kerja Sama Indonesia-Jepang

Eddy Soeparno Sebut Transmisi Kunci Transisi Energi, Dorong Investasi dan Kerja Sama Indonesia-Jepang

Rabu, 28 Okt 2026 21:55 WIB

Rabu, 28 Okt 2026 21:55 WIB

Jurnas.net - Penguatan jaringan transmisi listrik menjadi kunci keberhasilan transisi energi Indonesia. Pembangunan pembangkit energi terbarukan harus diiringi…

Hasto Kristiyanto: Marhaenisme adalah Ideologi Pembebasan

Hasto Kristiyanto: Marhaenisme adalah Ideologi Pembebasan

Rabu, 28 Okt 2026 20:56 WIB

Rabu, 28 Okt 2026 20:56 WIB

Jurnas.net - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menegaskan pentingnya menghidupkan kembali pemikiran Bung Karno dan menempatkan Marhaenisme…

Gerakan Pemuda Marhaenis Hidupkan Kembali Pemikiran Bung Karno

Gerakan Pemuda Marhaenis Hidupkan Kembali Pemikiran Bung Karno

Rabu, 28 Okt 2026 18:48 WIB

Rabu, 28 Okt 2026 18:48 WIB

Jurnas.net - Ketua Umum DPP Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM), Ir. Izedrik Emir Moeis, M.Sc., menekankan pentingnya mengenalkan kembali pemikiran Bung Karno…

Puguh Wiji Pamungkas: Penanganan Pengangguran Tak Cukup Andalkan Job Fair

Puguh Wiji Pamungkas: Penanganan Pengangguran Tak Cukup Andalkan Job Fair

Selasa, 27 Okt 2026 17:51 WIB

Selasa, 27 Okt 2026 17:51 WIB

Jurnas.net – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas, menilai penanganan pengangguran tidak cukup hanya mengandalkan program bursa kerja atau j…

Motif Suami Siri Bunuh Ibu dan Anak di Madiun, Karena Takut Kejahatannya Terbongkar

Motif Suami Siri Bunuh Ibu dan Anak di Madiun, Karena Takut Kejahatannya Terbongkar

Selasa, 27 Okt 2026 14:33 WIB

Selasa, 27 Okt 2026 14:33 WIB

Jurnas.net - Kekhawatiran aksinya terbongkar diduga menjadi motif Dwi Bagus Martono (40) membunuh anak tirinya, AGM, yang baru berusia empat tahun di Kota…

Gresik Bidik Peringkat Tiga POPDA Jatim 2026, Bonus Emas Naik Jadi Rp 10 Juta

Gresik Bidik Peringkat Tiga POPDA Jatim 2026, Bonus Emas Naik Jadi Rp 10 Juta

Selasa, 27 Okt 2026 13:09 WIB

Selasa, 27 Okt 2026 13:09 WIB

Jurnas.net — Kabupaten Gresik membidik posisi tiga besar dalam Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) XV dan Pekan Paralimpik Pelajar Daerah (PEPARPEDA) III J…

Ibu dan Anak Dibunuh di Dua Lokasi, Suami Siri di Madiun Terancam Hukuman Mati

Ibu dan Anak Dibunuh di Dua Lokasi, Suami Siri di Madiun Terancam Hukuman Mati

Selasa, 27 Okt 2026 12:38 WIB

Selasa, 27 Okt 2026 12:38 WIB

Jurnas.net - Penyidik Polda Jawa Timur menjerat Dwi Bagus Martono (DBM), pria berusia 40 tahun asal Kota Madiun, dengan pasal pembunuhan berencana atas dugaan…

Gus Lilur Jajaki Bisnis Batu Bara dan Lobster di Vietnam, Tetap Desak KPK Usut Dugaan Jual Beli Suara Muktamar NU

Gus Lilur Jajaki Bisnis Batu Bara dan Lobster di Vietnam, Tetap Desak KPK Usut Dugaan Jual Beli Suara Muktamar NU

Selasa, 27 Okt 2026 11:27 WIB

Selasa, 27 Okt 2026 11:27 WIB

Jurnas.net - Pengusaha Nahdlatul Ulama (NU), HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, menjajaki peluang bisnis batu bara dan budi daya benih bening…

Ibu dan Anak Dibunuh di Hotel Madiun, Polisi Dalami Dugaan Jasad Dihancurkan dengan Mesin Giling

Ibu dan Anak Dibunuh di Hotel Madiun, Polisi Dalami Dugaan Jasad Dihancurkan dengan Mesin Giling

Senin, 26 Okt 2026 10:01 WIB

Senin, 26 Okt 2026 10:01 WIB

Jurnas.net - Polisi mengungkap kasus dugaan pembunuhan terhadap seorang perempuan berinisial DH (30) dan anaknya yang masih berusia empat tahun, AG, di Kota…

Jelang Hari Sumpah Pemuda, PLN Perkuat Infrastruktur Listrik Kawasan Industri JIIPE

Jelang Hari Sumpah Pemuda, PLN Perkuat Infrastruktur Listrik Kawasan Industri JIIPE

Senin, 26 Okt 2026 09:04 WIB

Senin, 26 Okt 2026 09:04 WIB

Jurnas.net – PT PLN (Persero) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali (UIT JBM) memperkuat infrastruktur kelistrikan untuk mendukung kebutuhan industri …