ITS Kembangkan Sistem Navigasi Cerdas, Bidik Penurunan Risiko Kecelakaan Kapal di Indonesia

author Wulansari

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Prof Dr Eng Muhammad Badrus Zaman ST MT (paling kanan) saat meninjau sistem navigasi kapal bersama kru KMP Wicita Dharma 3. (Humas ITS)
Prof Dr Eng Muhammad Badrus Zaman ST MT (paling kanan) saat meninjau sistem navigasi kapal bersama kru KMP Wicita Dharma 3. (Humas ITS)

Jurnas.net – Tingginya angka kecelakaan kapal masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia yang menyandang predikat sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi pelayaran, persoalan keselamatan justru masih didominasi oleh kesalahan manusia (human error), bukan semata-mata karena kerusakan kapal atau cuaca buruk.

Berangkat dari persoalan tersebut, Guru Besar ke-244 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Muhammad Badrus Zaman, menawarkan pendekatan baru berupa integrasi sistem navigasi kapal dengan analisis faktor manusia. Gagasan itu disampaikan dalam orasi ilmiah pengukuhannya yang berjudul Sistem Keselamatan Navigasi Kapal sebagai Pilar untuk Memperkuat Poros Maritim Nasional dan Global.

Guru Besar bidang Sistem Keselamatan Navigasi Kapal ITS itu, menegaskan bahwa kecelakaan pelayaran merupakan persoalan multidimensi. Berbagai faktor berkontribusi terhadap terjadinya kecelakaan, mulai dari kondisi kapal, lingkungan pelayaran, sistem permesinan dan kelistrikan, tata kelola operasional, hingga faktor manusia.

Namun, menurutnya, faktor manusia masih menjadi penyebab paling dominan. Karena itu, upaya meningkatkan keselamatan pelayaran tidak cukup hanya mengandalkan modernisasi perangkat navigasi.B"Penguatan keselamatan navigasi tidak hanya dilakukan melalui perangkat teknologi, tetapi juga harus mempertimbangkan kemampuan awak kapal dalam membaca situasi dan mengambil keputusan secara tepat," kata Badrus, Kamis, 2 Juli 2026.

Atas dasar itu, ia mengembangkan konsep sistem keselamatan navigasi yang mengintegrasikan teknologi navigasi dengan perilaku dan kemampuan kru kapal. Melalui pendekatan tersebut, perangkat navigasi tidak lagi sekadar menunjukkan posisi kapal, tetapi juga mampu membantu awak kapal mengidentifikasi tingkat risiko pelayaran secara lebih akurat serta memberikan dukungan dalam proses pengambilan keputusan.

Dalam risetnya, Badrus memanfaatkan Automatic Identification System (AIS) untuk memantau kepadatan lalu lintas kapal secara real-time. Data tersebut kemudian dipadukan dengan model M-SHEL, sebuah kerangka analisis yang mengevaluasi hubungan manusia dengan lima komponen utama sistem, yakni manajemen, perangkat lunak (software), perangkat keras (hardware), lingkungan, serta awak kapal.

Integrasi kedua sistem tersebut menghasilkan pemetaan tingkat risiko tabrakan kapal ke dalam tiga kategori, yakni rendah, sedang, dan tinggi. Tak hanya itu, sistem juga mampu menghasilkan rekomendasi tindakan mitigasi yang dapat langsung dijadikan acuan oleh nakhoda ketika menghadapi situasi berisiko di laut.

"Rekayasa sistem ini memberikan panduan berbasis data sehingga kru kapal dapat merespons kondisi pelayaran secara lebih cepat, tepat, dan terukur," katanya.

Menurut Badrus, inovasi tersebut tidak lahir secara instan. Pengembangannya dilakukan melalui kolaborasi riset dengan berbagai institusi internasional, di antaranya Kobe University Jepang, Universiti Teknologi Malaysia, serta Wismar University of Applied Sciences Jerman.

Di tingkat nasional, penelitian tersebut juga melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Perhubungan Republik Indonesia dan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), guna memastikan hasil riset memiliki peluang besar untuk diterapkan dalam sistem keselamatan pelayaran nasional.

Badrus yang juga tergabung dalam Science Techno Park (STP) Maritim ITS menilai kolaborasi lintas disiplin ilmu menjadi kunci agar inovasi keselamatan navigasi tidak berhenti sebagai hasil penelitian di laboratorium, melainkan benar-benar diterapkan di dunia pelayaran. Penelitian ini juga sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan ke-9 mengenai pembangunan industri, inovasi, dan infrastruktur, serta tujuan ke-14 tentang perlindungan ekosistem laut.

Ia berharap sinergi antara perguruan tinggi, industri maritim, dan pemerintah terus diperkuat agar inovasi keselamatan navigasi dapat menjadi fondasi dalam memperkuat daya saing sektor maritim Indonesia. "Kolaborasi yang berkelanjutan diperlukan agar riset keselamatan navigasi ini benar-benar dapat diimplementasikan untuk mendukung kemajuan maritim Indonesia," pungkasnya.

Berita Terbaru

Gus Lilur: Saya Siap Perang Pidana, Tapi Ada 3 Syarat untuk Menepi dari Polemik NU

Gus Lilur: Saya Siap Perang Pidana, Tapi Ada 3 Syarat untuk Menepi dari Polemik NU

Selasa, 29 Sep 2026 13:18 WIB

Selasa, 29 Sep 2026 13:18 WIB

Jurnas.net - Polemik pasca-Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, belum sepenuhnya mereda. Warga…

MBG dan KDMP yang Gerus Ruang Fiskal Dinilai Bebani Kesejahteraan Masyarakat 

MBG dan KDMP yang Gerus Ruang Fiskal Dinilai Bebani Kesejahteraan Masyarakat 

Selasa, 29 Sep 2026 08:39 WIB

Selasa, 29 Sep 2026 08:39 WIB

Jurnas.net - Persoalan kesejahteraan masyarakat masih menjadi perhatian di tengah berbagai dinamika perekonomian nasional. Setahun setelah tujuh Desakan…

Raih Suara Terbanyak di Muswil VI, Lutfi J. Kurniawan Dorong Reposisi KAHMI Jatim sebagai Kekuatan Intelektual dan Civil

Raih Suara Terbanyak di Muswil VI, Lutfi J. Kurniawan Dorong Reposisi KAHMI Jatim sebagai Kekuatan Intelektual dan Civil

Senin, 28 Sep 2026 08:16 WIB

Senin, 28 Sep 2026 08:16 WIB

Jurnas.net – Lutfi J. Kurniawan, peraih suara terbanyak dalam pemilihan Presidium Majelis Wilayah (MW) Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Jawa Timur …

NU, GUS DUR, DAN BROMOCORAH POLITIK

NU, GUS DUR, DAN BROMOCORAH POLITIK

Minggu, 27 Sep 2026 19:15 WIB

Minggu, 27 Sep 2026 19:15 WIB

Oleh: HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy Warga NU, Kiai Kampung Penulis buku _Prabowo untuk Indonesia Raya_ Untuk memahami judul di atas, kita perlu lebih …

Sistem Zonasi Muswil KAHMI Jatim Bisa Jadi Contoh bagi MN dan MW se-Indonesia

Sistem Zonasi Muswil KAHMI Jatim Bisa Jadi Contoh bagi MN dan MW se-Indonesia

Minggu, 27 Sep 2026 18:05 WIB

Minggu, 27 Sep 2026 18:05 WIB

Jurnas.net – Musyawarah Wilayah (Muswil) VI KAHMI Jawa Timur tidak hanya menjadi momentum memilih kepemimpinan baru periode 2026-2031. Forum yang digelar di T…

Bukan Sekadar Silaturahmi, PKS Jatim Minta Nasihat Para Kiai untuk Perkuat Kedekatan dengan Warga

Bukan Sekadar Silaturahmi, PKS Jatim Minta Nasihat Para Kiai untuk Perkuat Kedekatan dengan Warga

Minggu, 27 Sep 2026 15:34 WIB

Minggu, 27 Sep 2026 15:34 WIB

Jurnas.net — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Jawa Timur membuka ruang dialog dengan para kiai dan tokoh masyarakat melalui Silaturahmi Tokoh Agama dan Tokoh M…