Jurnas.net – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Tambak, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur, berlangsung berbeda. Warga tidak hanya menggelar berbagai pertunjukan seni dan budaya untuk memeriahkan momentum kemerdekaan, tetapi juga menghidupkan kembali tradisi Molod Jeannah, atau tradisi Maulid Nabi tempo dulu yang menjadi bagian dari budaya masyarakat Bawean.
Tradisi tersebut dihadirkan melalui kegiatan bertajuk “Parade Molod Bujaannah” yang dipusatkan di lapangan sepak bola Desa Tambak. Warga secara serentak membawa berkat molod atau hidangan untuk peringatan Maulid Nabi dengan kemasan tradisional.
Salah satu ciri khasnya adalah penggunaan ceppo, wadah berbahan anyaman bambu yang dibuat secara kreatif oleh warga setempat. Tradisi itu kemudian dipadukan dengan beragam makanan tradisional dan hasil bumi khas masyarakat Bawean.
Ketua Panitia PHBN Desa Tambak, Yudistiana, mengatakan pelaksanaan peringatan HUT ke-81 RI tahun ini sengaja dipadukan dengan perayaan Maulid Nabi. Menurut dia, momentum tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kembali tradisi lama kepada generasi muda.
“Yang membedakan peringatan HUT RI tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya adalah penggabungan kegiatan HUT RI dengan perayaan Maulid Nabi,” kata Yudistiana.
Ia menjelaskan, penggabungan dua momentum tersebut dilakukan karena peringatan HUT RI tahun ini beriringan dengan bulan Maulid Nabi. “Karena masyarakat Desa Tambak itu antusias dengan perayaan Maulid Nabi, maka digabung dalam kegiatan ini,” ujarnya.
Namun, bukan sekadar menggabungkan dua perayaan, panitia juga sengaja mengangkat konsep “Molod Bhebian Jeannah” untuk mengembalikan bentuk tradisi Maulid yang pernah berkembang di tengah masyarakat Bawean. “Tujuannya adalah untuk mengenalkan kepada generasi-generasi muda saat ini dan generasi yang akan datang bahwa budaya molod yang sebenarnya itu adalah seperti ini,” kata Yudistiana.
Dalam tradisi tersebut, warga membawa berkat molod menggunakan wadah ceppo. Ceppo merupakan wadah yang dibuat dari anyaman bambu dan dikerjakan secara tradisional oleh masyarakat Desa Tambak. Isinya juga tidak sekadar makanan siap santap. Warga memasukkan berbagai hasil bumi, seperti buah-buahan, sayuran, serta makanan tradisional khas Bawean.
“Alatnya adalah alat-alat tradisional, ceppo. Ceppo ini terbuat dari anyaman yang dibuat oleh warga Desa Tambak sendiri. Kemudian isinya adalah hasil bumi, terdiri dari buah-buahan, sayur-sayuran, dan lain sebagainya,” tutur Yudistiana.
Makanan yang disajikan pun sebagian besar merupakan hasil olahan masyarakat setempat dengan menggunakan resep dan jenis makanan tradisional yang berkembang di Pulau Bawean.
Menurut Yudistiana, konsep tersebut membuat tradisi Molod Jeannah relatif sederhana dan terjangkau bagi masyarakat. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya nguri-nguri atau merawat kembali tradisi yang diwariskan masyarakat terdahulu.
“Tradisi yang bisa muncul kembali dan bisa dibudayakan kembali. Termasuk seni budaya yang dibangkitkan kembali, yang selama ini seni budaya itu sudah hampir punah, bahkan mungkin ada yang sudah mati,” ujarnya.
Upaya menghidupkan kembali budaya Bawean tidak hanya terlihat dari tradisi molod.
Dalam Parade Molod Bujaannah, warga juga menampilkan berbagai kesenian tradisional dan bernuansa Islami. Sejumlah kesenian yang ditampilkan antara lain gambus bersholawat, zafin mandailing, tarian Islami, korcak, kercengan, zamrah, samman, dhungka, dan nasyid. Pertunjukan tersebut membuat lapangan Desa Tambak dipenuhi warga yang datang untuk menyaksikan sekaligus mengikuti rangkaian kegiatan.
Yudistiana mengatakan antusiasme masyarakat dalam kegiatan tersebut sangat tinggi. Menurut dia, keterlibatan masyarakat menjadi modal penting untuk memastikan tradisi dan seni budaya Bawean tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu.
Yudistiana berharap tradisi yang kembali ditampilkan dalam peringatan HUT RI tersebut tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia ingin generasi muda mengenal, memahami, dan kemudian melanjutkan tradisi tersebut. “Kami sebagai pelaku sejarah hari ini, yang saat ini masyarakat Desa Tambak sudah mampu menghidupkan kembali melalui momen perayaan HUT RI ini, saya berharap ke depannya generasi-generasi yang akan datang melestarikan budaya yang sudah ada saat ini,” katanya.
Menurut dia, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan masyarakat secara langsung. Dengan demikian, tradisi tidak hanya disimpan sebagai cerita masa lalu, tetapi tetap dipraktikkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pembagian berkat molod kepada warga sekitar.
Bagi masyarakat Desa Tambak, perayaan tersebut akhirnya tidak sekadar menjadi peringatan kemerdekaan, tetapi juga menjadi momentum untuk merawat identitas budaya Bawean sekaligus memperkenalkan kembali tradisi Molod Jeannah kepada generasi muda.
Editor : Risfil Athon