Jurnas.net – Sekolah Rakyat (SR) Banyuwangi kembali membuktikan perannya sebagai jembatan harapan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang sempat terputus akses pendidikannya. Tiga siswa yang sebelumnya putus sekolah karena keterbatasan ekonomi kini berhasil menuntaskan pendidikan setara SMA dan siap menatap masa depan dengan lebih optimistis.
Momen penuh haru itu tersaji dalam prosesi kelulusan siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 46 yang digelar di kompleks Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Muncar, Sabtu (20/6/2026). Acara tersebut turut dihadiri Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani serta menampilkan "Gelar Karya" sebagai wadah unjuk kreativitas dan hasil pembelajaran para siswa.
Baca juga: Banyuwangi BMX Supercross 2026 Siap Digelar Akhir Juni, 294 Rider dari Empat Negara Berebut Poin UCI
Tiga siswa yang resmi dinyatakan lulus adalah Auratul Hasanah, Dimas Kiki Andreansyah, dan Luis Cicko Putra Erdiyanto. Ketiganya memiliki kisah perjuangan yang serupa, yakni sempat terhenti dari dunia pendidikan akibat persoalan ekonomi keluarga.
Salah satu lulusan, Auratul Hasanah, mengaku pernah bekerja di perkebunan kopi setelah tidak lagi melanjutkan sekolah. Kesempatan bergabung dengan Sekolah Rakyat menjadi titik balik yang mengubah perjalanan hidupnya.
“Setelah tidak sekolah saya ikut bekerja di perkebunan kopi. Kemudian ada tawaran masuk Sekolah Rakyat. Alhamdulillah sekarang saya bisa lulus,” kata Aura, Sabtu, 20 Juni 2026.
Perjuangan tersebut kini berbuah manis. Setelah menyelesaikan pendidikan setara SMA, Aura berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan diterima di Universitas Jember (Unej). Sementara itu, dua lulusan lainnya memilih memasuki dunia kerja untuk membantu perekonomian keluarga. Salah satunya adalah Dimas yang mengaku sempat menganggur selama satu tahun setelah putus sekolah.
“Saya sempat tidak sekolah dan menganggur selama setahun. Setelah masuk Sekolah Rakyat, saya tidak perlu mengulang dari kelas 10 tetapi langsung melanjutkan sesuai jenjang terakhir. Alhamdulillah sekarang bisa lulus dan saya ingin bekerja membantu keluarga,” katanya.
Kepala Sekolah Rakyat Banyuwangi, Winarno, menjelaskan bahwa sistem pembelajaran di Sekolah Rakyat dirancang fleksibel sesuai riwayat pendidikan siswa. Anak-anak yang sebelumnya putus sekolah tidak harus mengulang dari awal, melainkan dapat melanjutkan sesuai jenjang terakhir yang pernah ditempuh.
“Kalau sebelumnya putus sekolah di kelas 3, maka tidak perlu kembali dari kelas 1. Mereka bisa langsung melanjutkan pada jenjang yang sesuai. Itu yang membuat anak-anak lebih termotivasi untuk kembali belajar,” jelas Winarno.
Baca juga: Luhut: Perlinsos Digital Banyuwangi Mampu Tutup Celah Korupsi dan Data Fiktif Bansos
Lebih dari sekadar memberikan akses pendidikan, Sekolah Rakyat juga menyiapkan masa depan para lulusannya. Bagi siswa yang memilih bekerja, sekolah bekerja sama dengan pemerintah daerah dan BPVP untuk memberikan pelatihan vokasi serta pendampingan keterampilan kerja.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa Sekolah Rakyat tidak hanya mengembalikan anak-anak ke bangku pendidikan, tetapi juga membuka jalan menuju kemandirian ekonomi dan masa depan yang lebih baik. "Alhamdulillah dua lulusan kami yang memilih bekerja saat ini sudah diterima bekerja di Toyota,” ungkap Winarno.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengaku bangga atas semangat dan ketekunan para siswa yang mampu bangkit dari keterbatasan untuk menyelesaikan pendidikan. “Hari ini kita tidak hanya menyaksikan prosesi kelulusan. Kita menyaksikan anak-anak yang terus tumbuh, belajar, berkarya, dan mempersiapkan diri meraih masa depan yang lebih baik,” kata Ipuk.
Menurut Ipuk, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi akan terus memperluas akses pendidikan yang inklusif dan berkualitas agar tidak ada anak yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan hanya karena faktor ekonomi. Berbagai program pendidikan telah dijalankan, mulai dari Siswa Asuh Sebaya (SAS), Gerakan Daerah Angkat Anak Putus Sekolah (Garda Ampuh), Banyuwangi Cerdas, hingga program pendampingan anak putus sekolah yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat.
Baca juga: Bupati Ipuk Laporkan Progres Sekolah Rakyat dan Digitalisasi Perlinsos Banyuwangi kepada Mensos
“Sekolah Rakyat menjadi pelengkap dari berbagai program pendidikan yang selama ini dijalankan Banyuwangi untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam mendapatkan hak pendidikan,” tegasnya.
Saat ini Sekolah Rakyat Banyuwangi memiliki 88 siswa yang terdiri dari 48 siswa jenjang SD dan 40 siswa jenjang SMA. Aktivitas pembelajaran sementara berlangsung di dua lokasi, yakni Balai Diklat milik Pemkab Banyuwangi di Kecamatan Licin dan BPVP Muncar.
Ke depan, seluruh aktivitas pembelajaran akan dipusatkan di Sekolah Rakyat Terintegrasi yang saat ini tengah dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum di Desa Blambangan, Kecamatan Muncar. Sekolah yang berdiri di atas lahan seluas tujuh hektare milik Pemkab Banyuwangi tersebut diharapkan menjadi pusat pendidikan inklusif yang mampu menjangkau lebih banyak anak-anak dari keluarga prasejahtera.
Keberhasilan tiga lulusan tahun ini menjadi bukti nyata bahwa ketika akses pendidikan dibuka seluas-luasnya, anak-anak yang sempat kehilangan harapan pun mampu bangkit, meraih cita-cita, dan membangun masa depan yang lebih cerah.
Editor : Andi Setiawan