Musim Kemarau Mulai Berdampak, BPBD Jatim Waspadai Kekeringan di Lima Daerah dan Siapkan Dropping Air Bersih

Reporter : Insani
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto. (Insani/Jurnas.net)

 

Jurnas.net - Musim kemarau mulai menunjukkan dampaknya di sejumlah wilayah Jawa Timur. Meski sebagian daerah seperti Surabaya dan Sidoarjo masih diguyur hujan akibat anomali cuaca, beberapa kabupaten lain justru mulai menghadapi ancaman kekeringan yang berpotensi mengganggu kebutuhan air bersih masyarakat hingga sektor pertanian.

Baca juga: Tak Hanya Tanggap Bencana, BPBD Jatim Juga Hadir Berbagi Melalui 10 Hewan Kurban

Mengantisipasi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur meningkatkan kesiapsiagaan bersama BPBD kabupaten/kota melalui berbagai langkah mitigasi, mulai dari penyaluran air bersih hingga pendampingan bagi petani dalam menyesuaikan pola tanam.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, mengatakan fenomena cuaca saat ini masih dipengaruhi anomali yang telah diperingatkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Akibatnya, kondisi cuaca di Jawa Timur tidak merata.

"BMKG telah mengingatkan adanya anomali cuaca. Meski saat ini seharusnya sudah memasuki musim kemarau, beberapa wilayah seperti Surabaya dan Sidoarjo masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat," kata Gatot, Selasa, 30 Juni 2026.

Di sisi lain, wilayah Bangkalan, Pasuruan, Lumajang, Banyuwangi, dan Bondowoso mulai merasakan dampak berkurangnya curah hujan yang memicu kekeringan di sejumlah kawasan. Menurut Gatot, BPBD bersama pemerintah daerah telah menyiapkan langkah antisipatif agar dampak kekeringan tidak semakin meluas.

"Kami menyiapkan dropping air bersih untuk daerah yang membutuhkan. Selain itu, kami juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait penyesuaian pola tanam agar masyarakat, khususnya petani, dapat mengurangi risiko gagal panen selama musim kemarau," katanya.

Baca juga: Perda Baru Perkuat Relawan Bencana, BPBD dan FPRB Jatim Konsolidasi di Lima Bakorwil

Fenomena anomali cuaca membuat BPBD Jawa Timur harus menghadapi dua kondisi yang berbeda dalam waktu bersamaan. Saat wilayah selatan dan timur mulai mengalami kekeringan, Surabaya dan Sidoarjo justru masih berpotensi dilanda hujan yang memicu genangan hingga banjir.

Untuk wilayah yang masih diguyur hujan, BPBD bersama pemerintah kabupaten/kota mempercepat penanganan genangan melalui penyedotan air dan koordinasi dengan dinas pekerjaan umum untuk memperlancar saluran drainase serta normalisasi sungai.

"Kami harus menyesuaikan penanganan dengan kondisi masing-masing daerah. Di satu sisi melakukan mitigasi kekeringan, di sisi lain tetap siaga terhadap potensi banjir akibat hujan yang masih terjadi," jelas Gatot.

Baca juga: BPBD Jatim Bentuk Destana di 38 Kabupaten/Kota, Perkuat Kesiapsiagaan Warga Hadapi Bencana

BPBD Jawa Timur mengimbau masyarakat agar tidak lengah terhadap perubahan cuaca yang terjadi secara cepat. Warga diminta rutin memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini yang dikeluarkan BMKG agar dapat mengantisipasi potensi bencana, baik kekeringan maupun hujan ekstrem.

Menurut Gatot, perubahan iklim menyebabkan pola musim menjadi semakin sulit diprediksi sehingga kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko bencana.

"Kami mengajak masyarakat untuk selalu mengikuti informasi resmi dari BMKG. Kondisi cuaca saat ini bisa berubah sewaktu-waktu, sehingga kewaspadaan menjadi langkah terbaik untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan," pungkasnya.

Editor : Amal

Politik & Pemerintahan
Berita Terpopuler
Berita Terbaru