DKG 2026-2029 Dilantik, Budaya Gresik Didorong Jadi Fondasi Pembangunan Daerah

Reporter : M. Faizul
Wakil Bupati Gresik melantik pengurus Dewan Kebudayaan Gresik (DKG) periode 2026-2029. (Humas Pemkab Gresik)

Jurnas.net — Kabupaten Gresik selama ini lekat dengan citra sebagai salah satu kawasan industri besar di Jawa Timur. Namun, di balik kepulan asap pabrik dan geliat investasi, daerah tersebut menyimpan warisan sejarah dan kebudayaan yang panjang.

Potensi itulah yang kembali menjadi perhatian setelah pengurus Dewan Kebudayaan Gresik (DKG) periode 2026-2029 resmi dilantik di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Gresik, Kamis malam (20/8/2026).

Baca juga: Ribuan Pelajar Banyuwangi Meriahkan HUT Ke-81 RI Lewat Karnaval Budaya Nusantara

Pelantikan pengurus DKG dilakukan Wakil Bupati Gresik Alif. Sejumlah tokoh dan perwakilan lembaga turut hadir, di antaranya Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) Luhur, Ketua PWI Gresik, serta perwakilan Universitas Qomaruddin (Sunan Gresik), Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI), Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG), dan Plt Kepala Dinas Kominfo Gresik Kiki.

Pelantikan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat posisi DKG dalam pelestarian sejarah dan budaya lokal sekaligus memperluas kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, komunitas, hingga kalangan profesional.

Ketua DKG periode 2026-2029 Irfan Akbar Prawiro mengatakan, memasuki periode kepengurusan kedua, pihaknya ingin memperluas cara pandang terhadap kebudayaan Gresik. Menurut Irfan, hasil penelusuran pada periode sebelumnya menunjukkan bahwa Gresik memiliki keragaman budaya yang jauh lebih luas daripada sekadar warisan kesenian.

Keragaman itu terlihat dari bahasa, dialek lokal, tradisi, hingga peninggalan prasejarah yang tersebar dari kawasan utara hingga selatan. Di Gresik terdapat bahasa Jawa dengan karakteristik lokal serta bahasa Bawean. Selain itu, kawasan selatan Gresik juga memiliki jejak sejarah manusia purba yang menarik perhatian peneliti.

Irfan menyebut terdapat penelitian mengenai fosil Homo erectus yang dikaitkan dengan wilayah perairan Gresik. “Peneliti menemukan fosil Homo erectus di wilayah perairan Gresik. Saat ini terdapat sekitar 6.000 spesimen yang sedang diteliti di Belanda. Penemuan ini berpotensi mengubah sejarah dunia karena jejak manusia purba tersebut ditemukan di dasar laut, padahal sebelumnya hanya pernah ditemukan di daerah dataran tinggi,” ujar Irfan.

Atas berbagai potensi tersebut, DKG ingin menempatkan diri bukan sekadar sebagai lembaga pelestari seni dan tradisi, tetapi juga sebagai mitra strategis pemerintah dalam riset dan perencanaan pembangunan berbasis kebudayaan.

Irfan mengusulkan agar perspektif kebudayaan turut diperhitungkan dalam perencanaan tata ruang dan pembangunan wilayah Gresik. Menurut dia, kebudayaan seharusnya tidak ditempatkan sebagai pelengkap pembangunan. Sebaliknya, pengetahuan lokal dapat menjadi salah satu instrumen untuk membaca karakter wilayah dan menentukan kebijakan yang lebih sesuai dengan kondisi masyarakat.

DKG juga menaruh perhatian pada keberadaan serat atau naskah kuno yang dinilai menyimpan pengetahuan mengenai sejarah, lingkungan, dan kehidupan masyarakat Jawa. Salah satunya memuat kisah pelarian putra-putri Giri Kedaton sekaligus berbagai pengetahuan lokal dalam membaca kondisi alam.

“Kebudayaan kami pandang sebagai sebuah metode. Melalui pembacaan serat kuno, kita dapat mengetahui bahwa keberadaan ikan capung menjadi indikator air bersih,” kata Irfan.

Pengetahuan lokal tersebut, lanjut dia, juga tercermin dari cara masyarakat membaca potensi banjir. “Di wilayah selatan, masyarakat memahami banjir sebagai ingatan sejarah. Mereka membaca garis bekas banjir di tembok untuk menentukan seberapa tinggi fondasi batu rumah harus diangkat,” ujarnya.

Menurut Irfan, pengetahuan semacam itu penting untuk didokumentasikan dan dikaji sehingga tidak hilang seiring perubahan zaman. Untuk memperkuat peran tersebut, kepengurusan DKG periode 2026-2029 tidak hanya diisi kalangan seniman.

Irfan mengatakan, DKG kini melibatkan berbagai latar belakang profesional, mulai dari advokat, akademisi, ahli manuskrip, hingga periset multidisiplin. Komposisi tersebut diharapkan membuat kajian kebudayaan Gresik dapat dilakukan secara lebih komprehensif.

“Harapan kami, kebudayaan dapat dipelajari secara utuh dan terpadu. Semoga kami dapat terus bermitra secara erat dengan seluruh komunitas, baik secara struktural maupun kultural,” katanya.

Baca juga: Karang Taruna di Gresik Kembangkan Industri Kreatif untuk Dorong Kemandirian Ekonomi Pemuda

Wakil Bupati Gresik Alif mengatakan, tantangan pelestarian budaya lokal semakin besar di tengah perubahan gaya hidup dan derasnya arus budaya populer. Menurut dia, citra Gresik sebagai kota industri tidak boleh menghilangkan identitas daerah sebagai salah satu kawasan yang memiliki akar religius dan kebudayaan kuat.

Alif menyebut keberadaan tradisi masyarakat yang masih lekat dengan nilai-nilai keagamaan menjadi salah satu keunikan Gresik. “Banyak hal unik di Gresik meskipun wilayah kita terkenal sebagai kota industri. Para investor yang datang kerap merasa heran. Di pusat kota, begitu warga keluar rumah, mereka mengenakan sarung. Hal ini membuktikan bahwa nuansa agamis masyarakat di sini sangat kuat,” ujar Alif.

Menurut dia, warisan sejarah dan spiritual Gresik juga menjadi modal sosial yang harus dirawat. Namun, pada saat yang sama, pemerintah tetap memiliki pekerjaan besar dalam membenahi infrastruktur dasar. Pembangunan fisik, kata Alif, harus berjalan beriringan dengan pembangunan karakter masyarakat melalui pelestarian budaya lokal.

“Kami mengucapkan selamat kepada seluruh pengurus DKG yang telah dilantik. Tugas kita bersama adalah mengonsep Gresik agar senantiasa mengikuti nilai-nilai budaya yang baik,” tuturnya.

Salah satu pekerjaan besar yang disoroti Alif adalah bagaimana membuat budaya lokal kembali dekat dengan generasi muda. Ia menilai pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui kegiatan seremonial. Pengetahuan mengenai budaya Gresik harus masuk ke ruang pendidikan agar anak-anak mengenal identitas daerah sejak dini.

Salah satu warisan yang menjadi perhatian ialah Damar Kurung, seni tradisional khas Gresik yang telah menjadi bagian penting dari identitas budaya daerah. Alif mengakui, tantangan tersebut tidak mudah. Anak-anak dan remaja kini lebih mudah terpapar budaya populer global melalui media digital.

“Bagaimana caranya agar saat anak-anak melihat gambar damar kurung, rasa cinta terhadap daerahnya langsung muncul?” ujarnya.

Baca juga: Lomba Karapan Sapi Jelang HUT Ke-25 Demokrat, AHY Tegaskan Budaya Nusantara Harus Terus Dilestarikan

Karena itu, ia meminta DKG mengembangkan metode pengenalan budaya yang kreatif dan relevan dengan generasi muda. Alif bahkan mendorong agar budaya Gresik tidak hanya dikenalkan di tingkat lokal, tetapi dipromosikan hingga tingkat nasional dan internasional.

Menurut dia, langkah tersebut menjadi semakin penting di tengah tingginya aktivitas investasi asing di Gresik. “DKG harus mengenalkan budaya ini secara masif, mulai dari tingkat nasional hingga internasional. Terlebih lagi, nilai Penanaman Modal Asing (PMA) di Kabupaten Gresik saat ini lebih tinggi daripada Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN),” katanya.

Dukungan terhadap kepengurusan baru DKG juga disampaikan Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparekrafbudpora) Kabupaten Gresik Saifudin Ghozali. Ia mengapresiasi terpilihnya kembali Irfan Akbar Prawiro sebagai Ketua DKG untuk periode kedua.

“Semoga Mas Irfan tetap istiqomah dan bersemangat di jalan perjuangan ini. Menjadi Ketua DKG pasti menghadapi banyak kesulitan karena ini merupakan organisasi perjuangan,” kata Saifudin.

Menurut dia, DKG memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan Gresik di tengah perubahan zaman. Sebagai instansi teknis yang membidangi kebudayaan, Disparekrafbudpora berharap DKG semakin aktif membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah.

Pemerintah juga membuka ruang koordinasi terkait penguatan dukungan anggaran bagi kegiatan DKG serta sinergi lintas lembaga bersama Dewan Kesenian Jawa Timur.

Dengan kepengurusan baru, DKG diharapkan tidak berhenti pada upaya merawat warisan masa lalu. Lembaga tersebut ditantang menjadikan kebudayaan sebagai bagian dari strategi pembangunan Gresik, sehingga identitas daerah tetap kuat di tengah ekspansi industri, investasi, dan perubahan budaya yang semakin cepat.

Editor : Amal

Politik & Pemerintahan
Berita Terpopuler
Berita Terbaru