Temu Karya Taman Budaya ke XXV, Menjaga Konsistensi dan Jiwa Peduli Inklusi

Reporter : Ahmad M.
Kembul bujana jelang Temu Karya Taman Budaya ke XXV se-Indonesia 2026.

Jurnas.net - Pameran dan pementasan kebudayaan dari berbagai daerah di Nusantara bakal terselenggara di Taman Budaya Yogyakarta pada 28 September hingga 1 Oktober 2026. Bukan sekadar pertunjukkan, namun juga mengusung semangat inklusivitas di Indonesia. 

Kegiatan tersebut bernama Temu Karya Taman Budaya ke XXV se-Indonesia 2026. Agenda tersebut diikuti daerah pemilik Taman Budaya di berbagai daerah di Indonesia. 

Baca juga: Filosofi Daun Kelor di Logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah

"Ada sebanyak 26 Taman Budaya se-Indonesia. Dari 26 itu, yang konfirmasi hadir 17 Taman Budaya. Ada satu Taman Budaya yang membawa 80 peserta," kata Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi di Taman Budaya Yogyakarta pada Selasa, 22 September 2026. 

Kegiatan yang mengusung tema Gyaning Rasa Mantraning Nusantara serta slogan Srawung Karya, Gulawenthah Budaya bakal menjadi reuni para pegiat budaya pada Taman Budaya seluruh Indonesia. Tema tersebut merefleksikan perjumpaan pengetahuan, rasa, dan kekuatan budaya Nusantara. Sementara, slogannya menegaskan semangat untuk mempertemukan karya sekaligus merawat, mengembangkan, dan meregenerasikan kebudayaan melalui interaksi antardaerah.

Hampir seluruh pengelola Taman Budaya bakal menampilkan penampilan dalam kegiatan selama empat hari itu. 

"Kami tuan rumah juga menampilkan penampilan. Tak menampilkan pertunjukkan, tapi juga manajemen konsepnya," katanya. 

Kegiatan itu dibuka dengan pameran seni bertajuk Suluh Sumurup Art Festival dengan tema "Maneges" yang berlangsung 24 September–2 Oktober 2026. Pameran seni rupa tersebut memberikan ruang inklusif bagi seniman difabel dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Yogyakarta. Total ada 193 karya dari 131 seniman difabel yang dipamerkan. Ratusan seniman itu tergabung dalam 13 komunitas, sanggar, dan sekolah dari 14 provinsi, serta diperkuat dengan partisipasi 6 Taman Budaya se-Indonesia. 

Baca juga: Memulai dengan Kekalahan, PSS Sleman Disebut dalam Masa Transisi

"Seluruh karya tersebut dipresentasikan di galeri/ruang Pameran Taman Budaya Yogyakarta, sebagai ruang perjumpaan dan apresiasi terhadap keberagaman ekspresi seni para seniman difabel sekaligus bagian dari upaya membangun ekosistem seni yang semakin inklusif dan setara," ujarnya. 

Kemudian, juga terdapat Pojok Kreatif Taman Budaya (27 September–2 Oktober 2026), yang menghadirkan produk kreatif, kerajinan, cendera mata, kuliner, serta karya pelaku ekonomi kreatif, disertai berbagai aktivasi workshop seni dan panggung kesenian; Konser Musik Orkestra Taman Budaya Yogyakarta (28 September 2026), yang mempertemukan musisi, komponis, arranger, dan konduktor dalam sajian harmoni orchestra; dan Gelar Karawitan "Ndang Tak Gong" (29 September 2026); Aksi Membatik Bersama Kain 25 Meter (2 Oktober 2026). 

"Pengalaman di Yogyakarta menjadi tuan rumah diharapkan memberikan dampak dengan menularkan pengalamannyan di daerah. Praktik-praktik baik terus dilakukan oleh teman-teman seluruh Indonesia," ucapnya. 

Baca juga: PSS Sleman Tampung Masukan Suporter Jelang Kompetisi Super League Bergulir

Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Purwiati mengungkapkan kegiatan nasional dengan menampilkan kesenian dari berbagai daerah juga menunjukkan kekayaan masing-masing. Tak hanya itu, ia melanjutkan, pertemuan pelaku seni dan kebudayaan diharapkan sekaligus jadi barometer kerja sama antarwilayah. 

"Harapan kami menjadi barpmeter dengan kolaborasi sejumlah kegiatan sehingga bersampak pada ekonomi kreatif. Kami sudah memasang fasad dan karya," kata dia. 

Salah satu kurator Suluh Sumurup Art, Budi Irawanto menambahkankan kegiatan melibatkan kelompok difabel tersebut menjadi yang keempat kalinya. Ia menegaskan poin pentingnya yakni membawa dan melestarikan semangat inklusi, serta menjadi ruang mengekspresikan identitas dan kepedulian disabilitas melalui kesenian.

Editor : A. Mustaqim

Politik & Pemerintahan
Berita Terpopuler
Berita Terbaru