Gus Lilur Bela Gus Kikin soal Lukman Edy: PBNU Harus Representasikan Indonesia

author Kurniawan

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Tokoh warga NU sekaligus Kyai Kampung, HRM Khalilur R Ab. S atau yang akrab disapa Gus Lilur. (Istimewa)
Tokoh warga NU sekaligus Kyai Kampung, HRM Khalilur R Ab. S atau yang akrab disapa Gus Lilur. (Istimewa)

Jurnas.net - Dinamika penyusunan kepengurusan baru Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali menjadi sorotan setelah Rapat Formatur Pertama digelar. Salah satu isu yang mencuat adalah munculnya narasi mengenai potensi kembalinya pengaruh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di lingkungan PBNU, menyusul pengusulan nama Lukman Edy sebagai calon Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU.

Tokoh warga NU sekaligus Kyai Kampung, HRM Khalilur R Ab. S atau yang akrab disapa Gus Lilur, menilai narasi tersebut tidak semestinya digunakan untuk menghakimi proses penyusunan kepengurusan yang sedang dilakukan Ketua Umum PBNU terpilih, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin.

Menurut Gus Lilur, isu "PKB Come Back" lebih mencerminkan kekecewaan pihak tertentu terhadap proses penyusunan struktur kepengurusan daripada fakta objektif mengenai arah PBNU ke depan. Ia meminta proses tersebut dilihat dari kapasitas dan kebutuhan organisasi, bukan semata-mata dari latar belakang politik seseorang.

"PKB Come Back itu sengaja dihembuskan sebagai wujud kekecewaan pihak tertentu yang kemudian disikapi dengan fitnah. Narasi tersebut tidak lebih dari sekadar gosip murahan yang tidak berbasis fakta objektif," kata Gus Lilur, Kamis, 10 September 2026.

Gus Lilur menilai, penyusunan kepengurusan PBNU semestinya mengedepankan dua prinsip utama, yakni kapabilitas dan keterwakilan wilayah. Menurut dia, seorang ketua umum membutuhkan orang-orang yang dinilai mampu bekerja dan memiliki pemahaman terhadap kebutuhan organisasi.

Karena itu, pengusulan Lukman Edy untuk posisi Sekjen PBNU dinilainya sebagai bagian dari kewenangan dan pertimbangan organisasi yang dilakukan Gus Kikin. Lukman Edy diketahui pernah menjabat Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) dan Sekjen PKB. Pengalaman tersebut, menurut Gus Lilur, menjadi modal manajerial yang dapat dipertimbangkan untuk mengelola organisasi sebesar PBNU.

"Rekam jejaknya matang. Mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal sekaligus mantan Sekjen PKB itu memiliki kapasitas manajerial yang kuat untuk mengelola administrasi organisasi sebesar PBNU," ujarnya.

Gus Lilur juga menyebut Lukman Edy memiliki pengalaman dalam kerja-kerja organisasi dan politik yang menurutnya dapat menjadi pertimbangan tersendiri bagi Gus Kikin. Ia bahkan menyebut Lukman Edy merupakan salah satu sosok yang bekerja di lapangan untuk mendukung proses terpilihnya Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU.

Karena itu, Gus Lilur menilai tidak aneh apabila seorang ketua umum mempertimbangkan orang yang dianggap memiliki kemampuan sekaligus memiliki hubungan kerja yang baik dengannya. "Sangat wajar jika seorang Ketua Umum memilih sosok tim suksesnya sendiri demi terciptanya kenyamanan kerja organisasi," katanya.

Di luar polemik mengenai Lukman Edy, Gus Lilur justru menyoroti persoalan yang menurutnya lebih penting dalam penyusunan kepengurusan PBNU, yakni keterwakilan wilayah. Ia mengingatkan bahwa PBNU merupakan organisasi tingkat nasional yang memiliki struktur hingga ke berbagai daerah di Indonesia.

Karena itu, komposisi kepengurusan PBNU seharusnya mampu menggambarkan keragaman kader NU dari berbagai wilayah, bukan terkonsentrasi pada satu daerah tertentu. "PBNU harus menjadi cermin Nusantara, bukan hanya Jawa Timur," tegasnya.

Gus Lilur menyoroti posisi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU yang saat ini sama-sama diisi tokoh asal Jawa Timur. Menurut dia, kondisi tersebut perlu menjadi pertimbangan ketika posisi strategis lain dalam struktur PBNU disusun.

Ia menilai prinsip representasi nasional perlu dijaga agar kader-kader NU dari luar Jawa juga memperoleh ruang yang proporsional untuk berkontribusi dalam kepengurusan pusat. "PBNU adalah wadah tingkat nasional, bukan sekadar PWNU Jawa Timur," ujarnya.

Menurut Gus Lilur, keberadaan kader dari berbagai daerah penting untuk memastikan kebijakan PBNU tidak hanya merepresentasikan perspektif satu kawasan. "Jajaran PBNU harus mencerminkan wajah Indonesia yang inklusif, dengan memberi ruang proporsional bagi kader-kader potensial dari luar Pulau Jawa," katanya.

Gus Lilur juga mengaku meyakini bahwa sebagian besar pengurus NU di tingkat akar rumput menginginkan adanya penyegaran dalam kepengurusan PBNU, termasuk pada posisi Sekjen. Ia menyebut, apabila aspirasi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dihimpun, akan terlihat keinginan terhadap figur-figur yang dinilai mampu membawa organisasi ke arah baru.

Namun, ia menekankan bahwa proses tersebut tetap harus berjalan berdasarkan mekanisme organisasi dan pertimbangan objektif. Menurut dia, perbedaan pandangan dalam penyusunan kepengurusan merupakan hal yang wajar. Yang perlu dihindari adalah menjadikan perbedaan pilihan sebagai tuduhan politik tanpa dasar yang kuat.

Gus Lilur pun menyatakan dukungan terhadap Gus Kikin untuk melanjutkan proses penyusunan kepengurusan PBNU. Ia berharap ketua umum terpilih tetap berpegang pada prinsip profesionalisme, kemampuan kader, serta keterwakilan nasional.

Gus Lilur juga meminta Gus Kikin tidak gentar menghadapi tekanan selama keputusan yang diambil ditujukan untuk memperkuat organisasi. "Terus maju Gus Kikin, semoga para muassis (pendiri NU) senantiasa membersamai panjenengan," pungkasnya.

Berita Terbaru

El Niño Diprediksi Bertahan hingga 2027, Warga Surabaya Diminta Waspadai 3 Ancaman Ini

El Niño Diprediksi Bertahan hingga 2027, Warga Surabaya Diminta Waspadai 3 Ancaman Ini

Kamis, 10 Sep 2026 13:34 WIB

Kamis, 10 Sep 2026 13:34 WIB

Jurnas.net - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi…

SIER Bantu Tebus Ijazah dan Biaya Sekolah Warga Kurang Mampu, Dorong Pendidikan Berkelanjutan

SIER Bantu Tebus Ijazah dan Biaya Sekolah Warga Kurang Mampu, Dorong Pendidikan Berkelanjutan

Kamis, 10 Sep 2026 11:42 WIB

Kamis, 10 Sep 2026 11:42 WIB

Jurnas.net - Kesulitan ekonomi tidak seharusnya menjadi penghalang bagi anak-anak untuk melanjutkan pendidikan maupun menata masa depan. Semangat tersebut…

Guru Rohani Lintas Agama di Banyuwangi Dapat Insentif Rp700.000, Bupati Ipuk: Perkuat Karakter Anak

Guru Rohani Lintas Agama di Banyuwangi Dapat Insentif Rp700.000, Bupati Ipuk: Perkuat Karakter Anak

Rabu, 09 Sep 2026 18:16 WIB

Rabu, 09 Sep 2026 18:16 WIB

Jurnas.net - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi memberikan insentif kepada ratusan guru rohani lintas agama sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan…

Aset Rp124 Miliar Kembali ke Pemkot Surabaya, Disiapkan untuk UMKM dan Kepentingan Warga

Aset Rp124 Miliar Kembali ke Pemkot Surabaya, Disiapkan untuk UMKM dan Kepentingan Warga

Rabu, 09 Sep 2026 17:01 WIB

Rabu, 09 Sep 2026 17:01 WIB

Jurnas.net - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berhasil mengamankan kembali aset berupa lahan seluas 96.932 meter persegi di Kelurahan Jeruk, Kecamatan…

Air Baku Tercemar, PAM Surya Sembada Perkuat Sistem Deteksi Dini

Air Baku Tercemar, PAM Surya Sembada Perkuat Sistem Deteksi Dini

Rabu, 09 Sep 2026 16:31 WIB

Rabu, 09 Sep 2026 16:31 WIB

Jurnas.net - Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya memperkuat sistem antisipasi pencemaran air baku, setelah muncul keluhan…

Penjelasan Pakar Terkait Erupsi Sejumlah Gunung Berapi dalam Waktu Relatif Bersamaan

Penjelasan Pakar Terkait Erupsi Sejumlah Gunung Berapi dalam Waktu Relatif Bersamaan

Selasa, 08 Sep 2026 17:32 WIB

Selasa, 08 Sep 2026 17:32 WIB

Jurnas.net - Enam gunung api di Indonesia mengalami erupsi dalam waktu yang relatif hampir bersamaan. Fenomena yang melibatkan Gunung Anak Krakatau, Semeru, Ile…