Banyu Kuwung: Wisata Alam Baru di Lereng Ijen yang Menghidupkan Ekonomi Desa

Reporter : Wulansari
Destinasi wisata pemandian alam Banyu Kuwung di Kabupaten Banyuwangi tampak dari udara. (Humas Pemkab Banyuwangi)

Jurnas.net - Di kaki Gunung Ijen, sebuah desa kecil di Licin menunjukkan bagaimana kreativitas warga mampu mengubah lahan kurang produktif menjadi magnet wisata baru. Destinasi itu bernama Banyu Kuwung, pemandian alami yang kini menjadi salah satu spot favorit wisatawan yang mencari ketenangan alam khas lereng Ijen.

Berada di Dusun Panggang, Desa/Kecamatan Licin, Banyu Kuwung menawarkan kolam alami berair jernih yang langsung muncul dari sumber mata air pegunungan. Suasana sejuk, pepohonan rimbun, dan panorama hijau membuat pengunjung merasakan keteduhan yang sulit ditemukan di kawasan wisata mainstream.

Baca juga: Ngerandu Buko di Marina Boom Banyuwangi, Ramadan Jadi Panggung UMKM dan Wisata Senja

Yang membuat Banyu Kuwung berbeda bukan hanya keindahannya, tetapi juga kisah pembentukannya. Destinasi ini dibangun pada 2020 di atas lahan warga yang semula hanya dimanfaatkan untuk menanam selada air. Hasilnya tidak memadai, hingga akhirnya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat mengajukan gagasan untuk mengubahnya menjadi ruang wisata berbasis potensi mata air.

“Semula hanya lahan biasa dan kurang produktif. Kami tawarkan konsep wisata, dan alhamdulillah pemilik lahan setuju bahkan menghibahkan kepada pokdarwis,” kata Ketua Pokdarwis Banyu Kuwung, Heriyanto, Selasa, 9 Desember 2025.

Banyu Kuwung resmi dibuka untuk publik pada 2022, dan sejak itu antusiasme wisatawan langsung tinggi. Pada masa awal pembukaan, kunjungan akhir pekan bahkan bisa mencapai 1.200 orang, menciptakan dampak ekonomi langsung bagi warga setempat.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, yang meninjau Banyu Kuwung dalam agenda Bunga Desa menilai tempat ini bukan sekadar kolam alami, melainkan ruang pemulihan mental bagi wisatawan.

Baca juga: Banyuwangi Bergerak Cepat Dukung Program Prabowo, Ribuan Warga Deklarasi Gerakan ASRI

“Banyu Kuwung sangat alami. Cocok untuk berlibur bersama keluarga maupun sekadar refreshing dari hiruk-pikuk perkotaan,” ujar Ipuk.

Ia menekankan bahwa melimpahnya mata air di desa tersebut harus dikelola dengan penuh tanggung jawab agar tetap memberi manfaat jangka panjang bagi ekonomi lokal.

“Desa ini sangat diberkahi sumber mata air. Silakan dikelola untuk meningkatkan perekonomian warga, dan bersama-sama menjaganya,” pesannya.

Baca juga: Bupati Ipuk Wajibkan Pegawai Pemkab Banyuwangi Gunakan Transportasi Umum Tiap Jumat

Kolam alami di Banyu Kuwung memiliki kedalaman 60–120 sentimeter, cocok untuk wisata keluarga. Pengunjung juga bisa beristirahat di gazebo, menikmati suasana hijau, atau mencoba area camping ground yang disiapkan oleh pengelola.

Fasilitas yang tersedia meliputi area parkir luas, warung makan, musala, toilet, hingga ruang bilas. Destinasi ini buka setiap hari kecuali Jumat untuk pembersihan, yakni Senin–Kamis dibuka mulai pukul 08.00–16.00 WIB, dan Sabtu–Minggu mulai pukul 07.00–16.00 WIB. "Harga tiket masuk Rp5.000," tandasnya.

Editor : Rahmat Fajar

Politik & Pemerintahan
Berita Terpopuler
Berita Terbaru