Jurnas.net - Duka mendalam menyelimuti Balai Kota Surabaya. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi tampak tak kuasa menyembunyikan kesedihannya saat melayat ke rumah persemayaman Ketua DPRD Kota Surabaya, Dominikus Adi Sutarwijono, di Grand Heaven Surabaya, Rabu petang, 11 Februari 2026. Kedatangannya bersama sang istri, Rini Indriyani, bukan sekadar kewajiban seorang pejabat, melainkan perpisahan tulus seorang sahabat dan saudara seperjuangan.
Setibanya di lokasi, Eri langsung menemui keluarga almarhum dan menyampaikan belasungkawa secara pribadi sekaligus mewakili jajaran Pemerintah Kota Surabaya dan seluruh warga Kota Pahlawan. Suasana haru pun tak terelakkan. Di sisi peti jenazah, Wali Kota Surabaya itu tampak tertunduk lama, beberapa kali mengusap air mata.
Baca juga: Pemkot Surabaya Sikat Kabel FO Ilegal, 18 Tiang Tanpa Izin Dicopot
“Saya secara pribadi dan atas nama Pemerintah Kota Surabaya serta seluruh warga, merasa sangat kehilangan. Mas Adi Sutarwijono bukan hanya Ketua DPRD, tetapi sahabat, saudara, dan pemimpin luar biasa yang mendedikasikan hidupnya sepenuhnya untuk kepentingan masyarakat Surabaya,” jata Eri, dengan suara bergetar.
Bagi Eri Cahyadi, Mas Awi, sapaan akrab Dominikus Adi Sutarwijono, adalah sosok kunci penjaga harmoni demokrasi di Surabaya. Di tengah dinamika politik yang kerap memanas, almarhum dikenal mampu menjembatani perbedaan, meredam gesekan, serta menjaga komunikasi sehat antara lembaga legislatif dan eksekutif.
“Beliau adalah pemimpin yang bijak dan meneduhkan. Sosok yang bisa menyatukan semua pihak. Saya sering berdiskusi dan bertukar pikiran dengan beliau tentang bagaimana memberikan yang terbaik bagi warga Surabaya. Dari beliau, saya belajar arti kepemimpinan yang ngemong, membimbing tanpa harus meninggikan suara,” tutur Eri.
Baca juga: Kata Adalah Senjata: Mas Awi dan Jalan Sunyi Menjaga Demokrasi
Dalam kenangan Wali Kota, Mas Awi bukanlah tipe pemimpin yang reaktif. Ia memilih ketenangan dan kesabaran saat menghadapi berbagai ujian, termasuk fitnah dan tekanan politik. Sikap itulah yang menurut Eri menjadi pelajaran berharga dalam menjalankan pemerintahan.
“Beliau selalu mengajarkan kesabaran. Ada satu kalimat yang selalu saya ingat. Ketika kita tidak berbuat apa-apa tetapi disakiti dan dituduh, biarlah Tuhan yang membalas. Dan balasan itu pasti datang. Nasihat itu sederhana, tetapi sangat dalam maknanya,” ujar Eri.
Baca juga: Harga Cabai Tembus Rp85 Ribu per Kg, Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Pangan Jelang Ramadan
Lebih dari sekadar mitra kerja, Eri mengaku memandang almarhum sebagai kakak sekaligus guru kehidupan. Sosok yang memberi ketenangan di saat keputusan sulit harus diambil, serta menjadi penyangga moral dalam perjalanan pemerintahan Kota Surabaya.
Menutup pernyataannya, Eri Cahyadi berharap seluruh pengabdian dan ketulusan almarhum menjadi amal kebaikan di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.
“Harmoni yang kuat antara Pemkot dan DPRD Surabaya tidak lahir begitu saja. Itu hadir karena kepemimpinan Ketua DPRD yang mampu merangkul semua pihak. Dengan seluruh kebaikan dan dedikasinya, surga adalah tempat yang pantas bagi beliau,” pungkas Eri.
Editor : Rahmat Fajar