Kata Adalah Senjata
Obituari untuk Mas Awi (Adi Sutarwijono)
“Kata adalah senjata.”
Judul buku Subcomandante Marcos itu selalu terasa relevan setiap kali kita berbicara tentang perjuangan. Perubahan tidak selalu lahir dari benturan fisik. Ia sering tumbuh dari keberanian menyampaikan kebenaran dari kalimat yang disusun dengan kesadaran dan tanggung jawab.
Saya mengenal Mas Awi jauh sebelum namanya dipanggil dalam rapat paripurna DPRD Kota Surabaya. Jauh sebelum ia memegang palu sidang dan mengetuk keputusan-keputusan penting. Saya mengenalnya di jalanan, di masa-masa menjelang Reformasi 1998, ketika demokrasi belum sepenuhnya menjadi ruang yang aman.
Saat itu, jalanan adalah panggung politik yang nyata. Mahasiswa turun membawa tuntutan perubahan. Aparat berdiri dengan barikade. Gas air mata ditembakkan. Bentrokan pecah berulang kali. Represi bukan cerita, melainkan pengalaman yang dialami dari jarak dekat.
Dalam situasi seperti itu, kata benar-benar menjadi senjata.
Bagi kami yang berdiri sebagai aktivis, kata adalah teriakan aspirasi yang menuntut didengar. Tetapi bagi Mas Awi, yang berdiri beberapa meter dari kami sebagai wartawan lapangan, kata adalah tanggung jawab.
Kami berteriak lantang. Ia mencatat dengan tenang.
Di antara gas air mata yang menyengat dan kerumunan yang pecah berhamburan, ia berpindah dari satu titik ke titik lain, mencari sudut yang cukup aman untuk menulis. Ia memastikan peristiwa tidak hilang dalam kekacauan, tetapi terdokumentasi secara utuh dan jujur.
Pada masa ketika tekanan terhadap pers masih terasa dan satu kalimat bisa berakibat panjang, keberanian menyampaikan fakta adalah sikap yang tidak sederhana. Mas Awi memahami betul bahwa kata bisa menggerakkan publik dan membuka mata. Tetapi ia juga tahu, kata yang tidak dijaga bisa melukai lebih dalam daripada peluru karet.
Prinsip itulah yang ia bawa hingga ke panggung politik.
Dari Pena ke Panggung Politik
Lahir di Blitar, 4 Agustus 1968, dan ditempa di FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Mas Awi tumbuh dalam tradisi intelektual yang argumentatif sekaligus dialogis. Ia terbiasa membaca persoalan dari berbagai sisi. Ia percaya perbedaan tidak harus diselesaikan dengan suara keras.
Karier jurnalistiknya berlangsung di masa transisi demokrasi, masa ketika wartawan bukan sekadar pencatat peristiwa, tetapi saksi sejarah. Mereka memilih diksi dengan hati-hati, karena tahu satu judul bisa mengguncang keadaan.
Mas Awi paham benar hal itu.
Ia tahu satu paragraf dapat menenangkan situasi atau justru memperkeruhnya. Ia tahu satu pilihan kata bisa menjadi jembatan atau menjadi jurang. Karena itu ia tegas dalam substansi, tetapi lembut dalam penyampaian.
Bagi Mas Awi, kata memang senjata, tetapi bukan untuk melukai. Kata adalah alat untuk merapikan kenyataan, merawat akal sehat, dan menjaga agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.
Ketika ia memilih jalur politik melalui PDI Perjuangan, yang berubah hanyalah panggungnya. Wataknya tetap sama. Ia membangun karier secara bertahap, tanpa lompatan instan. Dipercaya memimpin DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, lalu menjadi Ketua DPRD Kota Surabaya selama dua periode.
Ia memegang jabatan besar dengan sikap yang tetap bersahaja.
Politisi yang Menurunkan Suhu
Dalam dinamika politik kota, Mas Awi dikenal sebagai figur yang kalem, dingin dalam arti yang menyejukkan. Ia mampu menjaga kejernihan berpikir ketika suhu ruang memanas.
Rapat yang tegang tidak membuatnya reaktif. Kritik keras tidak membuatnya defensif. Ia lebih memilih dialog daripada konfrontasi, percaya bahwa kebijakan yang kokoh lahir dari percakapan yang sabar.
Di banyak ruang politik, orang berlomba menjadi yang paling keras bersuara. Mas Awi justru menurunkan volume. Ia mendengarkan lebih lama daripada berbicara, merangkum sebelum menyimpulkan.
Namun ketenangan itu tidak pernah berubah menjadi jarak.
Gaya hidupnya sederhana. Ia tidak membangun tembok simbolik antara dirinya dan rakyat. Tidak ada kemewahan yang dipamerkan. Tidak ada citra yang dibuat-buat. Ia mudah disapa dan tidak keberatan duduk lama mendengarkan keluhan.
Kemampuannya berdialog dengan warga bukan retorika panggung. Ia membiarkan orang menyelesaikan cerita tanpa dipotong. Ia menjelaskan dengan bahasa yang bisa dipahami, bukan dengan istilah yang menjauhkan.
Banyak orang mungkin lupa detail kebijakan yang ia bahas. Tetapi mereka ingat satu hal, ia mau mendengar tanpa memberi janji kosong. Ia mampu berdialog dengan partai lain tanpa kehilangan ideologi. Ia menjaga komunikasi dengan eksekutif tanpa kehilangan sikap kritis. Ia tetap membumi tanpa kehilangan wibawa.
Kesederhanaan itu bukan strategi komunikasi. Itu karakter.
Generasi Reformasi yang Menjaga Akal Sehat
Mas Awi adalah bagian dari generasi yang ditempa oleh turbulensi Reformasi generasi yang tahu kebebasan berbicara bukan hadiah, melainkan hasil perjuangan panjang.
Kami dulu berdiri di jalanan dengan teriakan. Ia berdiri dengan catatan.
Tahun 1998 mengajarkan bahwa kata bisa mengguncang kekuasaan. Mas Awi membuktikan bahwa kata juga bisa merawat demokrasi.
Kepergiannya bukan sekadar kehilangan bagi keluarga dan partai. Surabaya kehilangan seorang politisi yang memilih penyelesaian daripada sensasi, yang menjaga etika dalam ruang publik ketika banyak orang tergoda oleh panggung.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat mendatangi rumah duka di Grand Heaven. (Istimewa)
Grand Heaven dan Perjalanan Terakhir
Kabar wafatnya Mas Awi pada Selasa malam, 10 Februari 2026 pukul 20.36 WIB di Jakarta, menyisakan keheningan panjang bagi Surabaya.
Jenazahnya disemayamkan di Grand Heaven. Sejak pagi, pelayat datang silih berganti, keluarga, sahabat, kader, tokoh lintas partai, hingga warga yang pernah ia dengarkan keluhannya.
Deretan bunga papan memenuhi pelataran. Ucapan duka mengalir dari berbagai kalangan. Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan belasungkawa. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi hadir langsung memberi penghormatan. Bahkan Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya mengirimkan surat dukacita resmi, penanda bahwa penghormatan terhadapnya melampaui batas politik.
Misa penutupan peti berlangsung khidmat. Dari sana, Mas Awi dibawa ke Gedung DPRD Surabaya, ruang yang selama ini menjadi saksi pengabdiannya. Lalu iring-iringan bergerak menuju Taman Pemakaman Keputih.
Di tanah yang ia layani, ia dimakamkan.
Selamat jalan, Mas Awi.
Kata-katamu mungkin telah selesai ditulis di dunia ini. Tetapi ketenangan yang kau wariskan akan terus hidup dalam ruang-ruang yang pernah kau jaga di antara perbedaan yang tetap bisa duduk bersama.
Surabaya, 12 Februari 2026
Didik Prasetiyono, Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPD PDI Perjuangan Jatim.
Editor : Redaksi