Jurnas.net - Beroperasinya KMP Drajat Paciran di tengah cuaca buruk membawa harapan baru bagi masyarakat Pulau Bawean. Di saat gelombang laut mencapai lebih dari satu meter dan sejumlah kapal cepat maupun kapal Ro-Ro menghentikan pelayaran, kapal milik PT ASDP Indonesia Ferry itu menjadi satu-satunya moda transportasi yang mampu melayani penyeberangan dari dan menuju Pulau Bawean.
Keberhasilan pelayaran tersebut kini memunculkan aspirasi baru dari masyarakat. Mereka meminta Pemerintah Kabupaten Gresik tidak lagi menjadikan KMP Drajat sekadar kapal bantuan saat kondisi darurat, melainkan mengupayakan kerja sama jangka panjang agar kapal tersebut dapat melayani rute Paciran-Bawean secara reguler.
Pada Selasa (4/8/2026), KMP Drajat mengangkut 350 penumpang, terdiri atas 274 penumpang umum dan 76 pengendara, serta membawa 82 kendaraan termasuk 18 ekor sapi sebagai bagian dari distribusi logistik ke Pulau Bawean. Kapal bertolak dari Pulau Bawean pukul 10.15 WIB dan bersandar di Pelabuhan Paciran, Lamongan, sekitar pukul 17.26 WIB setelah menempuh perjalanan sekitar tujuh jam.
Ketua Umum Pemuda Bawean Gresik (PBG), Ramli Salim, mengatakan operasional KMP Drajat membuktikan bahwa rute Paciran-Bawean layak dijadikan alternatif layanan penyeberangan permanen. Menurut dia, selama beberapa hari terakhir pihaknya menerima banyak aspirasi dari masyarakat Bawean, baik yang tinggal di pulau maupun para perantau, agar pemerintah daerah segera membangun kerja sama dengan operator kapal.
"Kami menerima banyak aspirasi dari masyarakat Bawean agar pemerintah daerah serius menjalin kerja sama dengan operator KMP Drajat sehingga layanan ini tidak hanya hadir saat kondisi darurat," kata Ramli, Rabu, 5 Agustus 2026.
Senada dengan itu, tokoh masyarakat sekaligus pengusaha asal Bawean, Safir Yakub, menilai keberadaan KMP Drajat perlu dipermanenkan melalui kontrak kerja sama antara pemerintah dan operator kapal. Menurut dia, tambahan armada akan memberikan lebih banyak pilihan transportasi bagi masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan pada kapal cepat.
"Tidak hanya sebagai kapal bantuan, tetapi sebaiknya juga melayani secara reguler. Dengan begitu masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk bepergian ke Bawean maupun ke daratan Jawa," katanya.
Ia menjelaskan, saat ini layanan penyeberangan Bawean masih sangat bergantung pada dua kapal cepat milik swasta. Kondisi tersebut dinilai belum ideal, terlebih salah satu armada sempat mengalami insiden sehingga operasionalnya belum kembali normal.
Di sisi lain, KMP Gili Iyang yang selama ini melayani angkutan Ro-Ro juga masih menjalani docking tahunan. Akibatnya, ketika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan gelombang tinggi dengan status kuning atau gelombang di atas satu meter, seluruh armada yang tersedia tidak dapat beroperasi.
"Meskipun ada tiga kapal, ketika gelombang tinggi semuanya berhenti beroperasi. Karena itu sudah saatnya KMP Drajat melayani rute Paciran-Bawean secara rutin, minimal satu atau dua kali dalam seminggu," ujar Safir.
Harapan serupa disampaikan pelaku usaha asal Bawean, Kiki. Menurut dia, keberadaan layanan reguler KMP Drajat tidak hanya menguntungkan penumpang, tetapi juga memperlancar distribusi logistik menuju Pulau Bawean.B"Bila beroperasi secara reguler, distribusi logistik ke Bawean akan lebih lancar dan masyarakat tidak lagi bergantung pada kapal bantuan," katanya.
Kedatangan KMP Drajat di Pelabuhan Paciran juga disambut suasana haru dan penuh syukur.
Sesaat setelah kapal sandar, ratusan penumpang turun membawa barang bawaan masing-masing dan langsung disambut keluarga yang telah menunggu di area pelabuhan.
Salah seorang warga, Ahmad Hadiyanto, mengaku lega karena masyarakat Bawean akhirnya kembali memiliki akses transportasi laut di tengah cuaca yang kurang bersahabat. "Alhamdulillah warga Bawean sangat bersyukur KMP Drajat bisa beroperasi. Kehadiran kapal ini benar-benar membantu masyarakat," ujarnya.
Operasional KMP Drajat dinilai menjadi bukti bahwa jalur Paciran-Bawean dapat menjadi alternatif penting dalam memperkuat konektivitas Pulau Bawean. Masyarakat pun berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar layanan tersebut tidak hanya hadir ketika cuaca ekstrem, tetapi menjadi bagian dari sistem transportasi laut yang berkelanjutan.
"Kalau pemerintah serius, KMP Drajat Paciran bisa menjadi alternatif layanan Bawean-Gresik, Bawean-Paciran," pungkasnya.
Editor : Andi Setiawan