Lompatan Hijau Indonesia: Perjuangan Panjang Menjemput Masa Depan Tanpa Emisi 2060

author Redaksi

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Ilustrasi dekarbonisasi industri. (istimewa)
Ilustrasi dekarbonisasi industri. (istimewa)

Jurnas.net - Di balik gemuruh mesin-mesin pabrik, di antara kepulan asap yang membubung tinggi ke langit, sebuah pertanyaan besar menggantung, mampukah Indonesia menjemput masa depan tanpa emisi?.

Tentu jawabannya bukan sekadar soal teknologi, melainkan tentang keberanian. Tentang bangsa yang memilih berjalan di jalan terjal, meninggalkan kenyamanan energi fosil, dan melangkah menuju masa depan yang lebih bersih.

Sejak COP27 di Mesir dan KTT G20 Bali 2022, Indonesia memantapkan tekadnya untuk menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 31,9�ngan usaha sendiri dan 43,2�ngan dukungan dunia internasional. Targetnya jelas, jalannya panjang menuju net-zero emission pada 2060, atau bahkan lebih cepat.

Tentu, perjalanan ini tak sederhana. Menurut data KLHK, pada 2019 Indonesia menghasilkan sekitar 1,86 miliar ton CO2e, dan sektor energi menjadi penyumbang terbesar dengan 638,8 juta ton CO2e, disusul sektor industri dengan 60,2 juta ton CO2e. Dengan angka sebesar itu, industri jelas berada di jantung pertempuran.

Awal Sebuah Transformasi

Di Annual Indonesia Green Industry Summit (AIGIS) 2025, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, berdiri di hadapan ratusan pelaku industri. Nada suaranya tegas, tapi sorot matanya menyimpan harapan.

“Transformasi industri hijau bukan pilihan, tapi keniscayaan. Jika kita ingin produk Indonesia bersaing di pasar global, kita harus bergerak sekarang,” kata Agus.

Dalam kesempatan itu, Kemenperin meluncurkan Peta Jalan Dekarbonisasi Industri - dokumen strategis yang akan menjadi kompas transformasi menuju industri rendah emisi. Targetnya ambisius, pengurangan 66,5 juta ton CO2e pada 2035 dan 289,7 juta ton pada 2050.

Peta jalan ini fokus pada sembilan subsektor industri penyumbang emisi terbesar, mulai dari semen, baja, pupuk, kimia, pulp dan kertas, tekstil, kaca dan keramik, otomotif, hingga makanan dan minuman.

“Ini adalah dokumen hidup. Kita akan terus menyempurnakannya, menyesuaikan dengan teknologi terbaru dan tantangan masa depan. Tanpa keberanian berinovasi, kita akan tertinggal," kata Kepala Pusat Industri Hijau Kemenperin, Apit Pria Nugraha.

Baca Juga : Jadi Kawasan Industri Percontohan Energi Hijau: SIER Terima Kunjungan Delegasi Internasional

Taruhan Besar: Antara Ekonomi, Lingkungan, Atau Energi Bersih Jantung Revolusi Industri

Dekarbonisasi bukan sekadar proyek lingkungan. Ini adalah taruhan besar atas masa depan ekonomi bangsa.

Di satu sisi, industri adalah penopang pertumbuhan, menyerap jutaan tenaga kerja dan mendorong investasi. Di sisi lain, dunia kini bergerak ke arah ekonomi hijau. Pasar global perlahan menutup pintu bagi produk dengan jejak karbon tinggi.

Namun, transformasi industri tak mungkin terjadi tanpa revolusi energi. Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, memaparkan langkah konkret, yakni pensiun dini PLTU batu bara, moratorium pembangunan pembangkit fosil baru, dan percepatan transisi menuju energi baru terbarukan (EBT).

“Masa depan industri Indonesia ada pada energi bersih. Ini bukan retorika, ini keharusan,” kata Darmawan.

PLN mengadopsi skema Energy Transition Mechanism (ETM), memadukan pembiayaan inovatif dengan teknologi terbarukan. Selain itu, PLN juga memperluas pemanfaatan co-firing biomassa, mempercepat pembangunan pembangkit listrik tenaga air dan panas bumi, hingga membangun ekosistem kendaraan listrik.

Langkah-langkah ini bukan hanya tentang menurunkan emisi, tetapi menciptakan peluang ekonomi baru dan membuka lapangan kerja hijau di sektor energi bersih.

[caption id="attachment_8412" align="alignnone" width="1080"] Ilustrasi dekarbonisasi industri. (Istimewa)[/caption]

Masa Depan yang Kita Bangun Bersama

Indonesia kini berdiri di persimpangan sejarah. Apakah kita akan terus berjalan di jalur lama, bergantung pada energi fosil dan industri padat karbon?. Atau, kita berani melompat, meninggalkan jejak lama, dan menjemput masa depan yang lebih hijau?

Jawabannya ada di tangan semua pemangku kepentingan pemerintah, dunia usaha, investor, akademisi, dan masyarakat. Dekarbonisasi bukan sekadar proyek pemerintah, tetapi mimpi kolektif tentang bumi yang layak dihuni generasi berikutnya.

Seperti dikatakan CEO IESR, Fabby Tumiwa.“Jika kita bekerja bersama, Indonesia bisa menjadi pemimpin industri hijau Asia Tenggara. Tantangannya besar, tapi peluangnya jauh lebih besar," kata Fabby.

Transformasi ini mungkin panjang dan penuh rintangan. Tetapi, setiap langkah kecil dari mengurangi jejak karbon pabrik semen, hingga mengganti energi PLTU dengan biomassa adalah bagian dari perjalanan besar menyelamatkan bumi. Dan sejarah akan mencatat, bahwa di awal abad ke-21, Indonesia memilih berubah.

Berita Terbaru

Gus Lilur: Muktamar NU Harus Bersih dari Intervensi Politik, Jangan Jadikan Jam’iyah Alat Kekuasaan

Gus Lilur: Muktamar NU Harus Bersih dari Intervensi Politik, Jangan Jadikan Jam’iyah Alat Kekuasaan

Rabu, 15 Apr 2026 11:13 WIB

Rabu, 15 Apr 2026 11:13 WIB

Jurnas.net – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama, suara kritis datang dari HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur. Ia mengingatkan bahwa f…

Nasdem DIY Tuntut Tempo Sajikan Pemberitaan Berimbang

Nasdem DIY Tuntut Tempo Sajikan Pemberitaan Berimbang

Rabu, 15 Apr 2026 06:12 WIB

Rabu, 15 Apr 2026 06:12 WIB

Jurnas.net - DPW Partai Nasdem Daerah istimewa Yogyakarta (DIY) membantah isi pemberitaan Tempo berjudul “PT Nasdem Indonesia Raya Tbk,”. Isi di dalam karya ter…

Pemkot Surabaya Hukum Pelaku Vandalisme, Empat Pemuda Dikerahkan Layani ODGJ di Liponsos

Pemkot Surabaya Hukum Pelaku Vandalisme, Empat Pemuda Dikerahkan Layani ODGJ di Liponsos

Selasa, 14 Apr 2026 15:43 WIB

Selasa, 14 Apr 2026 15:43 WIB

Jurnas.net — Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menunjukkan sikap tegas terhadap aksi perusakan estetika kota. Empat pemuda pelaku vandalisme di kawasan Viaduk G…

ASN Anak Buah Khofifah Terancam Dipecat Usai Terbukti Selingkuh, BKD Jatim Tunggu Putusan Inkrah

ASN Anak Buah Khofifah Terancam Dipecat Usai Terbukti Selingkuh, BKD Jatim Tunggu Putusan Inkrah

Selasa, 14 Apr 2026 13:29 WIB

Selasa, 14 Apr 2026 13:29 WIB

Jurnas.net – Skandal moral mengguncang birokrasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Badan Pengelolaan Keuangan d…

Arkeolog Desak Pemkab Gresik Serius Lestarikan Dhurung Bawean yang Terancam Punah

Arkeolog Desak Pemkab Gresik Serius Lestarikan Dhurung Bawean yang Terancam Punah

Selasa, 14 Apr 2026 11:05 WIB

Selasa, 14 Apr 2026 11:05 WIB

Jurnas.net - Meski telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada 2024, eksistensi Dhurung Bawean justru dinilai masih berada di ujung ancaman.…

Berburu Batik Otentik, Pusat Batik Banyuwangi Jadi Etalase Budaya dan Ekonomi Kreatif

Berburu Batik Otentik, Pusat Batik Banyuwangi Jadi Etalase Budaya dan Ekonomi Kreatif

Selasa, 14 Apr 2026 10:04 WIB

Selasa, 14 Apr 2026 10:04 WIB

Jurnas.net – Kain batik bukan sekadar busana bagi masyarakat Banyuwangi, melainkan representasi identitas budaya yang sarat makna. Kini, akses terhadap wastra k…