NU Digdaya dan Tantangan Tata Kelola Pengetahuan di Era Kecerdasan Buatan

author jurnas.net

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Ir. La Mema Parandy, S.T., M.M., CBPA., IPM. Dosen Institut Agama Islam Attarmasi Pacitan / AI Enthusiast. (Istimewa)
Ir. La Mema Parandy, S.T., M.M., CBPA., IPM. Dosen Institut Agama Islam Attarmasi Pacitan / AI Enthusiast. (Istimewa)

Oleh : Ir. La Mema Parandy, S.T., M.M., CBPA., IPM. Dosen Institut Agama Islam Attarmasi Pacitan / AI Enthusiast

Nahdlatul Ulama (NU) saat ini menunjukkan kapasitas adaptif terhadap perubahan zaman melalui berbagai inisiatif, salah satunya adalah Digdaya NU. Langkah ini menegaskan bahwa NU tidak sekadar mengikuti arus digitalisasi, melainkan berupaya membangun fondasi transformasi yang tetap berlandaskan nilai, tradisi, dan identitas organisasi.

Dalam perspektif tersebut, NU dapat dipahami sedang merekonstruksi cara menghadirkan sejarah dan tradisinya kepada generasi masa kini. Rekonstruksi ini bukan berarti mengubah substansi ajaran, melainkan menyesuaikan cara mengelola, mendokumentasikan, dan mentransmisikan pengetahuan agar tetap relevan di tengah perkembangan teknologi dan dinamika masyarakat modern.

Pada saat yang sama, keberagaman wajah NU, baik yang tumbuh dalam tradisi pesantren salaf, pesantren modern, maupun berbagai corak sosial keagamaan lainnya, merupakan kekayaan yang perlu dipandang secara lebih terbuka dan inklusif. Perbedaan corak tersebut tidak mengurangi kesatuan identitas NU yang berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Namun demikian, terdapat satu prinsip yang tidak dapat dikompromikan, yaitu sanad keilmuan para masyayikh dan para pendahulu NU. Sanad bukan sekadar rantai transmisi ilmu, melainkan warisan intelektual yang menjadi fondasi otoritas keilmuan Aswaja NU. Karena itu, nilai nilai tersebut merupakan aset intelektual yang harus dijaga keaslian, kesinambungan, dan otentisitasnya.

Di sisi lain, transformasi digital melalui Digdaya NU menghadapi tantangan dalam menjembatani tradisi keilmuan dengan perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Apabila digitalisasi hanya dipahami sebagai proyek teknologi dari kalangan tertentu, maka ia berpotensi dipersepsikan sebagai sesuatu yang jauh dari kebutuhan warga NU. Padahal, banyak kiai, santri, dan warga NU yang telah memahami perkembangan AI serta menyadari manfaatnya apabila diterapkan secara tepat.

Karena itu, transformasi digital NU sebaiknya diarahkan pada pembangunan ekosistem tata kelola pengetahuan (knowledge governance) yang terintegrasi, antara lain melalui:

1. Knowledge Repository.
2. Knowledge Graph.
3. Document Repository.
4. Academic Repository.
5. SOP Repository.
6. Research Repository.
7. Institutional Repository.

Seluruh komponen tersebut berfungsi sebagai sumber pengetahuan resmi yang dapat menjaga konsistensi informasi, memperkuat kelembagaan, serta memastikan bahwa pengetahuan organisasi terdokumentasi secara sistematis dan berkelanjutan.

Dalam konteks ini, AI seharusnya diposisikan sebagai asisten pendamping, bukan sebagai pengganti otoritas keilmuan maupun pengambil keputusan. Prinsip dasarnya adalah bahwa AI tidak boleh mengandalkan hafalan atau menghasilkan jawaban berdasarkan dugaan apabila pengetahuan resmi telah tersedia dalam repositori organisasi. AI bertugas membantu pengguna menemukan, menghubungkan, dan menyajikan informasi yang telah tervalidasi, sementara keputusan, interpretasi, dan pemanfaatan akhir tetap berada di tangan manusia sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Dengan pendekatan tersebut, transformasi digital NU tidak menggeser tradisi keilmuan yang telah diwariskan para masyayikh, melainkan justru memperkuat proses pelestarian, pengembangan, dan penyebaran pengetahuan Aswaja melalui teknologi yang aman, terukur, dan tetap berorientasi pada kemaslahatan umat.

Berita Terbaru

PCNU Garut Tegaskan Tetap Dukung Said Aqil sebagai Rais Aam PBNU

PCNU Garut Tegaskan Tetap Dukung Said Aqil sebagai Rais Aam PBNU

Jumat, 28 Agu 2026 16:29 WIB

Jumat, 28 Agu 2026 16:29 WIB

Jurnas.net — Dukungan terhadap KH Said Aqil Siroj untuk kembali menduduki posisi Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) muncul dari jajaran Syuriah P…

18.680 Lembar Uang Palsu Rupiah Dimusnahkan BI DIY

18.680 Lembar Uang Palsu Rupiah Dimusnahkan BI DIY

Jumat, 28 Agu 2026 15:34 WIB

Jumat, 28 Agu 2026 15:34 WIB

Jurnas.net - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (KPwBI DIY) memusnahkan belasan ribu lembar uang palsu rupiah. Pemusnahan itu dilakukan…

SIER Salurkan Bantuan Rp423 Juta untuk Korban Gempa NTT, Ada 9,5 Ton Beras hingga 1.100 Porsi Makanan

SIER Salurkan Bantuan Rp423 Juta untuk Korban Gempa NTT, Ada 9,5 Ton Beras hingga 1.100 Porsi Makanan

Jumat, 28 Agu 2026 13:03 WIB

Jumat, 28 Agu 2026 13:03 WIB

Jurnas.net — Kepedulian terhadap korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong keluarga besar holding kawasan industri bergerak bersama. PT D…

Muktamar NU ke-35 di Jombang, PKS Jatim Dorong Penguatan Khidmah dan Persaudaraan Kebangsaan

Muktamar NU ke-35 di Jombang, PKS Jatim Dorong Penguatan Khidmah dan Persaudaraan Kebangsaan

Jumat, 28 Agu 2026 12:40 WIB

Jumat, 28 Agu 2026 12:40 WIB

Jurnas.net — Kehadiran Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Almuzzammil Yusuf (AMY) bersama Ketua DPW PKS Jawa Timur Bagus Prasetia Lelana dalam pembukaan M…

Ribuan Orang Ikuti BrookFarm Almond Run 2026, Gaya Hidup Fit Makin Diminati

Ribuan Orang Ikuti BrookFarm Almond Run 2026, Gaya Hidup Fit Makin Diminati

Jumat, 28 Agu 2026 09:37 WIB

Jumat, 28 Agu 2026 09:37 WIB

Jurnas.net — Lebih dari 5.000 pelari memadati Plaza Parkir Timur Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, dalam gelaran BrookFarm Almond Run 2026. Peserta berasal d…

Musda VII Demokrat Jatim Digelar 28-29 Agustus, 40 Pemilik Suara Tentukan Ketua Baru

Musda VII Demokrat Jatim Digelar 28-29 Agustus, 40 Pemilik Suara Tentukan Ketua Baru

Kamis, 27 Agu 2026 22:33 WIB

Kamis, 27 Agu 2026 22:33 WIB

Jurnas.net -- Musyawarah Daerah (Musda) VII Partai Demokrat Jawa Timur akan digelar di Novotel Samator pada 28-29 Agustus 2026. Sebanyak 38 Ketua DPC Partai…