KPK OTT Bupati Ponorogo: Karier Cemerlang Sugiri Sancoko Berakhir di Tahanan

author Insani

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko (dua dari kanan), ditahan KPK pasca terkena OTT. (Youtube KPK RI)
Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko (dua dari kanan), ditahan KPK pasca terkena OTT. (Youtube KPK RI)

Jurnas.net - Ironi menimpa Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko. Sosok yang dulu dielu-elukan sebagai “bupati wong cilik”, kini harus menanggung aib setelah terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus suap jual beli jabatan.

Bupati yang dikenal sederhana dan gemar menyapa rakyat kecil itu kini resmi berstatus tersangka korupsi bersama tiga pejabat lain: Sekda Ponorogo Agus Pramono, Direktur RSUD dr. Harjono Ponorogo Yunus Mahatma, dan pihak swasta Sucipto. Keempatnya kini mendekam di tahanan KPK.

Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu mengatakan, penetapan tersangka dilakukan setelah penyidik menemukan bukti kuat dari hasil pemeriksaan intensif.

"Setelah ditemukan kecukupan alat bukti, KPK menetapkan empat orang tersangka,” kata Asep, di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Minggu, 9 November 2025.

OTT berlangsung di Ponorogo pada Jumat malam, 7 November 2025. Tim penyidik menangkap tujuh orang dan menyita uang tunai yang diduga merupakan suap tahap ketiga dari Direktur RSUD dr. Harjono, Yunus Mahatma, untuk mempertahankan jabatannya.

Sugiri sejatinya punya kisah hidup yang inspiratif. Lahir dan tumbuh di Dusun Barat, Desa Gelang Kulon, Kecamatan Sampung, Ponorogo, ia meniti hidup dari bawah. Setelah lulus kuliah di Surabaya, ia sempat menjadi wartawan dan pengusaha reklame, sebelum terjun ke dunia politik.

Baca Juga : OTT Bupati Ponorogo Jadi Tamparan PDIP: Said Abdullah Akui Politik Biaya Tinggi Picu Korupsi

Ia sempat menjadi anggota DPRD Jawa Timur dari Partai Demokrat (2009–2015). Namun gagal dalam Pilbup Ponorogo 2015. Tak menyerah, ia kembali maju pada Pilkada 2020 lewat PDI Perjuangan, berpasangan dengan Lisdyarita, dan menang.

Kemenangan itu bahkan terulang pada Pilkada 2024. Namun, langkah periode keduanya tak sampai setahun. Kini, bupati yang dulu dielu-elukan karena kedekatannya dengan rakyat kecil, justru tersandung oleh jebakan kekuasaan yang ia lawan di masa lalu.

Sugiri dikenal rendah hati, mudah menyapa siapa pun, dan rajin blusukan ke desa-desa. Ia dianggap pemimpin yang tidak berjarak. Tapi di balik citra itu, fakta KPK membuka tabir lain: adanya transaksi suap yang terjadi berulang kali demi mempertahankan jabatan strategis di lingkungan Pemkab Ponorogo.

Kini, perjalanan panjang Sugiri dari wartawan idealis, pengusaha tangguh, hingga politisi populis berakhir tragis di balik jeruji besi. Jika terbukti bersalah, Bupati dua periode itu bukan hanya kehilangan jabatan, tapi juga kepercayaan rakyat yang dulu memperjuangkannya dari bawah.

"Kekuasaan itu ujian paling berat bagi orang kecil yang tiba-tiba jadi besar,” komentar seorang warga Ponorogo di media sosial, menyindir kejatuhan idolanya sendiri.

Sugiri Sancoko kini tinggal selangkah lagi dari vonis pengadilan. Dari sosok yang dulu dianggap teladan, kini ia menjadi peringatan bahwa korupsi bisa menelan siapa saja, bahkan mereka yang lahir dari rakyat kecil.

Berita Terbaru

Antusiasme Tinggi, SIER Tambah Armada Mudik Gratis Jadi 12 Bus Jelang Lebaran 2026

Antusiasme Tinggi, SIER Tambah Armada Mudik Gratis Jadi 12 Bus Jelang Lebaran 2026

Rabu, 18 Mar 2026 11:01 WIB

Rabu, 18 Mar 2026 11:01 WIB

Jurnas.net — PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung kelancaran arus mudik Lebaran 2026 dengan m…

Suramadu dalam Bayang-Bayang Risiko: Antara Kelalaian dan Ancaman Nyata Saat Mudik Lebaran

Suramadu dalam Bayang-Bayang Risiko: Antara Kelalaian dan Ancaman Nyata Saat Mudik Lebaran

Rabu, 18 Mar 2026 09:24 WIB

Rabu, 18 Mar 2026 09:24 WIB

Jurnas.net – Menjelang arus mudik Idulfitri 2026, Jembatan Suramadu justru berada dalam sorotan tajam. Bukan karena kesiapan infrastruktur, melainkan akibat m…

Geopolitik Memanas, Jatim Tetap Optimistis Kejar Target Investasi Rp147,7 Triliun di 2026

Geopolitik Memanas, Jatim Tetap Optimistis Kejar Target Investasi Rp147,7 Triliun di 2026

Rabu, 18 Mar 2026 03:52 WIB

Rabu, 18 Mar 2026 03:52 WIB

Jurnas.net – Memanasnya tensi geopolitik global akibat konflik antara Iran, Israel, serta keterlibatan Amerika Serikat mulai menjadi perhatian terhadap s…

Lebaran 2026 Berpotensi Beda, Muhammadiyah 20 Maret dan Pemerintah 21 Maret

Lebaran 2026 Berpotensi Beda, Muhammadiyah 20 Maret dan Pemerintah 21 Maret

Selasa, 17 Mar 2026 21:48 WIB

Selasa, 17 Mar 2026 21:48 WIB

Jurnas.net - Penetapan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 berpotensi kembali mengalami perbedaan di Indonesia. Sejumlah organisasi Islam dan…

Operasi Ketupat Semeru 2026, Polda Jatim Prioritaskan Keamanan Ibadah dan Kamtibmas

Operasi Ketupat Semeru 2026, Polda Jatim Prioritaskan Keamanan Ibadah dan Kamtibmas

Selasa, 17 Mar 2026 14:36 WIB

Selasa, 17 Mar 2026 14:36 WIB

Jurnas.net - Polda Jawa Timur menegaskan komitmennya dalam memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat melalui pelaksanaan Operasi Ketupat Semeru 2026 yang…

BARONG Group Jajaki Akuisisi Pabrik Rokok di Malaysia, Gus Lilur Konsultasi ke KBRI Kuala Lumpur

BARONG Group Jajaki Akuisisi Pabrik Rokok di Malaysia, Gus Lilur Konsultasi ke KBRI Kuala Lumpur

Senin, 16 Mar 2026 03:32 WIB

Senin, 16 Mar 2026 03:32 WIB

Jurnas.net – Upaya ekspansi industri rokok Indonesia ke pasar internasional terus dilakukan pelaku usaha nasional. Salah satunya dilakukan oleh Bandar Rokok N…