2.758 Kasus Kekerasan di Jatim Selama 2025: KOPRI PKC Sebut Perlindungan Perempuan dan Anak Lemah

author Insani

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Ketua Korps PMII Puteri (KOPRI) Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Jawa Timur, Kholisatul Hasanah. (Istimewa)
Ketua Korps PMII Puteri (KOPRI) Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Jawa Timur, Kholisatul Hasanah. (Istimewa)

Jurnas.net - Akhir tahun 2025 menjadi momentum refleksi serius bagi Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (KOPRI) Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Jawa Timur. Organisasi perempuan PMII tersebut menyoroti masih tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jawa Timur yang dinilai telah berada pada level darurat kemanusiaan.

Ketua Korps PMII Puteri (KOPRI) Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Jawa Timur, Kholisatul Hasanah, menegaskan bahwa maraknya kasus kekerasan menunjukkan belum efektifnya sistem perlindungan korban serta masih kuatnya persoalan struktural, mulai dari relasi kuasa timpang hingga budaya patriarki yang mengakar di masyarakat.

Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA), sepanjang tahun 2025 tercatat 2.758 kasus kekerasan di Jawa Timur. Dari jumlah tersebut, 2.334 korban merupakan perempuan, sementara 641 korban lainnya laki-laki, dengan mayoritas korban berasal dari kelompok usia anak dan remaja.

“Tingginya angka ini menunjukkan bahwa kekerasan bukan lagi kasus insidental atau persoalan individu semata, melainkan masalah struktural yang belum ditangani secara serius dan berkelanjutan,” kata Lisa, sapaan akrabnya, dalam pernyataan resminya, Sabtu, 20 Desember 2025.

Secara wilayah, kasus kekerasan paling banyak terjadi di Kabupaten Gresik (337 kasus), disusul Kota Surabaya (221 kasus), dan Kabupaten Tuban (182 kasus). Fakta tersebut sekaligus membantah anggapan bahwa kekerasan hanya terjadi di wilayah tertinggal.

"Parahnya justru kasus-kasus serius muncul di daerah dengan akses pendidikan, layanan publik, serta institusi pemerintahan yang relatif memadai," ujarnya.

Lisa menyebut data tersebut sebagai alarm kegagalan kolektif dalam menciptakan ruang aman bagi perempuan dan anak. "Ini menjadi cermin kegagalan kita bersama dalam membangun sistem perlindungan yang berpihak pada korban. Ironisnya, kekerasan justru banyak terjadi di ruang yang seharusnya paling aman, seperti rumah, sekolah, dan lingkungan terdekat korban,” tegasnya.

Dari sisi bentuk kekerasan, data menunjukkan adanya 1.070 kasus kekerasan fisik, 1.056 kasus kekerasan seksual, dan 688 kasus kekerasan psikis, termasuk kasus eksploitasi, perdagangan orang (trafficking), serta penelantaran. Yang paling mengkhawatirkan, sebanyak 1.694 kasus terjadi di ranah rumah tangga, menegaskan bahwa relasi kuasa yang tidak setara masih menjadi pemicu utama kekerasan.

Sepanjang 2025, Jawa Timur juga dihadapkan pada sejumlah kasus yang mengguncang nurani publik. Mulai dari kasus kekerasan seksual terhadap remaja perempuan di salah satu lembaga pendidikan di kawasan Tapal Kuda yang melibatkan orang terdekat korban, hingga kasus kekerasan dalam rumah tangga di wilayah urban Surabaya yang berujung pada kematian korban.

Selain itu, terungkap pula kasus eksploitasi dan kekerasan terhadap anak di wilayah pesisir Jawa Timur, yang memperlihatkan kerentanan anak-anak terhadap kejahatan berbasis ekonomi dan relasi kuasa. Menurut Lisa, kasus-kasus tersebut tidak boleh berhenti sebagai konsumsi media sesaat, melainkan harus menjadi peringatan keras bagi negara dan seluruh elemen masyarakat.

“Kami menegaskan bahwa keberpihakan kepada korban adalah sikap yang tidak bisa ditawar. KOPRI PKC Jawa Timur berkomitmen untuk terus mengawal kasus kekerasan, memperkuat pendampingan korban, melakukan edukasi kritis di akar rumput, serta mendorong kebijakan yang berkeadilan dan berperspektif korban,” tegasnya.

Oleh karena itu, lanjut Lisa, KOPRI PKC Jawa Timur mendesak penguatan peran keluarga, lembaga pendidikan, tokoh agama, aparat penegak hukum, serta pemerintah daerah agar tidak lagi memandang kekerasan sebagai urusan domestik atau aib yang harus ditutup-tutupi. Normalisasi dan pembiaran kekerasan, menurut KOPRI, hanya akan memperpanjang siklus penderitaan korban.

Menutup refleksi akhir tahun, Lisa menyerukan agar penghujung 2025 dijadikan titik balik dalam upaya perlindungan perempuan dan anak di Jawa Timur. “Diam berarti membiarkan, abai berarti melanggengkan. Demi kemanusiaan dan masa depan perempuan serta anak-anak Jawa Timur, kita tidak boleh berhenti peduli dan bertindak,” pungkas sahabat Lisa.

Berita Terbaru

Golkar Jatim Mulai Panaskan Mesin Politik 2029, Ali Mufthi: Musda Tuntas, Kini Bidik Pemilih Muda

Golkar Jatim Mulai Panaskan Mesin Politik 2029, Ali Mufthi: Musda Tuntas, Kini Bidik Pemilih Muda

Jumat, 31 Jul 2026 19:43 WIB

Jumat, 31 Jul 2026 19:43 WIB

Jurnas.net - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Jawa Timur mulai mengakselerasi konsolidasi organisasi sebagai langkah awal menghadapi Pemilu 2029.…

Bupati Gresik Buka MPLS Sekolah Rakyat, Pendidikan Gratis Disiapkan untuk Putus Rantai Kemiskinan

Bupati Gresik Buka MPLS Sekolah Rakyat, Pendidikan Gratis Disiapkan untuk Putus Rantai Kemiskinan

Jumat, 31 Jul 2026 17:16 WIB

Jumat, 31 Jul 2026 17:16 WIB

Jurnas.net - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik resmi memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Permanen di Desa…

Kado HUT Ke-81 RI, Pemprov Jatim Bebaskan Denda Pajak Kendaraan dan Beri Insentif untuk Buruh serta Ojol

Kado HUT Ke-81 RI, Pemprov Jatim Bebaskan Denda Pajak Kendaraan dan Beri Insentif untuk Buruh serta Ojol

Jumat, 31 Jul 2026 15:26 WIB

Jumat, 31 Jul 2026 15:26 WIB

Jurnas.net - Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali menggulirkan program pembebasan pajak kendaraan bermotor sepanjang Agustus 2026, berdasarkan Keputusan…

Kapal Express Bahari 3F Rusak Disenggol Tanker hingga Batal Berlayar, Bagaimana Hak Penumpang atas Kompensasi?

Kapal Express Bahari 3F Rusak Disenggol Tanker hingga Batal Berlayar, Bagaimana Hak Penumpang atas Kompensasi?

Jumat, 31 Jul 2026 14:36 WIB

Jumat, 31 Jul 2026 14:36 WIB

Jurnas.net - Insiden senggolan yang merusak KM Express Bahari 3F kembali memicu terganggunya layanan penyeberangan Gresik–Pulau Bawean. Di tengah keterbatasan a…

Mengukur Keberhasilan Pemerintah: Apakah Survei Kepuasan Sudah Cukup?

Mengukur Keberhasilan Pemerintah: Apakah Survei Kepuasan Sudah Cukup?

Jumat, 31 Jul 2026 13:26 WIB

Jumat, 31 Jul 2026 13:26 WIB

Oleh: Ir. Jailani, S.T., M.M. Komisioner Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) Di negara demokrasi, survei opini publik telah menjadi salah satu…

DPRD Jatim Dukung Putusan MK Pisahkan Anggaran MBG dari Pendidikan, Puguh: Mutu Sekolah Harus Jadi Prioritas

DPRD Jatim Dukung Putusan MK Pisahkan Anggaran MBG dari Pendidikan, Puguh: Mutu Sekolah Harus Jadi Prioritas

Jumat, 31 Jul 2026 09:18 WIB

Jumat, 31 Jul 2026 09:18 WIB

Jurnas.net – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas, menyambut positif putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menegaskan bahwa anggaran Program M…