Polda Jatim Bongkar Jaringan Perdagangan Satwa Dilindungi, Komodo hingga Trenggiling Bernilai Miliaran

author Dadang

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Polda Jawa Timur merilis kasus perdagangan satwa dilindungi. (Insani/Jurnas.net)
Polda Jawa Timur merilis kasus perdagangan satwa dilindungi. (Insani/Jurnas.net)

Jurnas.net - Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Timur membongkar praktik perdagangan dan penyelundupan satwa dilindungi yang diduga melibatkan jaringan lintas daerah hingga berorientasi pasar internasional.
Dalam pengungkapan ini, polisi mengamankan sedikitnya 11 tersangka yang memiliki peran berbeda, mulai dari pemburu di habitat asli, penampung, pengedar, hingga pemodal.

Direktur Ditreskrimsus Polda Jatim, Kombes Roy HM Sihombing, mengatakan jaringan ini bekerja secara terstruktur dengan memanfaatkan tingginya permintaan satwa eksotis di pasar gelap.

“Para tersangka yang kami amankan berperan mulai dari pemetik atau pemburu di habitat aslinya, hingga pengiriman dan pemodal,” kata Roy, saat konferensi pers di Surabaya, Rabu, 15 April 2026.

Ia menegaskan, praktik ilegal ini tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga mengancam kelestarian satwa endemik Indonesia dan merusak keseimbangan ekosistem. “Perdagangan ini berpotensi menyebabkan kepunahan, karena satwa dilindungi diambil langsung dari alam,” tegasnya.

Komodo Diperdagangkan hingga Ratusan Juta
Salah satu pengungkapan terbesar dalam kasus ini adalah perdagangan komodo. Polisi mencatat, sepanjang Januari 2025 hingga Februari 2026, jaringan ini telah memperjualbelikan sedikitnya 20 ekor komodo dengan nilai transaksi mencapai Rp565,9 juta.

Kasubdit Tindak Pidana Tertentu Ditreskrimsus Polda Jatim, AKBP Hanif Fatih Wicaksono, menjelaskan bahwa komodo ditangkap langsung dari habitatnya, lalu dijual berantai dengan harga yang terus meningkat. “Dari pemburu dihargai sekitar Rp5,5 juta per ekor, lalu dijual hingga Rp31,5 juta per ekor di Surabaya,” jelasnya.

Satwa tersebut rencananya akan dikirim ke luar negeri, termasuk ke Thailand. Hasil uji DNA memastikan bahwa satwa yang diamankan adalah komodo (Varanus komodoensis) dengan tingkat akurasi 100 persen.

Selain komodo, polisi juga mengungkap perdagangan 16 ekor kuskus, terdiri dari kuskus talaud dan kuskus tembung. Empat tersangka terlibat dalam kasus ini, dengan transaksi yang dilakukan melalui media sosial.

Harga jual kuskus mencapai Rp25 juta per ekor, dengan total nilai transaksi sekitar Rp400 juta.
Dalam penggeledahan di rumah salah satu tersangka, polisi juga menemukan satwa dilindungi lain seperti ular sanca hijau, elang paria, dan biawak nilus.

Sisik Trenggiling Senilai Rp8,4 Miliar Disita
Pengungkapan terbesar lainnya adalah perdagangan sisik trenggiling hasil kerja sama dengan Polda Riau. Polisi menyita 140 kilogram sisik trenggiling dari dua tersangka. Jumlah tersebut diperkirakan berasal dari sekitar 980 ekor trenggiling yang dibunuh, dengan nilai ekonomi mencapai Rp8,4 miliar.

“Hasil uji laboratorium memastikan sisik tersebut berasal dari trenggiling jenis Manis javanica,” ujar Hanif.

Jaringan Terstruktur dan Modus Beragam
Hanif menjelaskan, pengungkapan ini terbagi dalam dua delik utama, yakni tindak pidana konservasi sumber daya alam hayati dan pelanggaran karantina hewan. Selain perdagangan, polisi juga menemukan pengiriman satwa tanpa dokumen resmi, seperti soa layar, kadal Sulawesi, dan ular cincin.

“Kasus ini kami bagi dalam beberapa klaster sesuai jenis satwa dan modus operandi,” jelasnya.

Ancaman Hukuman dan Komitmen Penindakan
Para tersangka dijerat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan dan Tumbuhan.

Seluruh tersangka kini telah ditahan, sementara penyidikan terus dikembangkan untuk menelusuri kemungkinan keterlibatan jaringan internasional. “Kami berkomitmen menindak tegas kejahatan terhadap satwa dilindungi demi menjaga kelestarian sumber daya alam hayati Indonesia,” pungkasnya.

Berita Terbaru

Muktamar NU: Menjaga Sang Pendiri NKRI dari Intervensi

Muktamar NU: Menjaga Sang Pendiri NKRI dari Intervensi

Rabu, 20 Mei 2026 20:36 WIB

Rabu, 20 Mei 2026 20:36 WIB

Jurnas.net - Menjelang Muktamar ke-35, suasana di tubuh Nahdlatul Ulama mulai memanas. Nama-nama bermunculan. Silaturahmi politik makin intens. Poros-poros…

Kisah Wisudawan Fakultas Peternakan UGM Menembus Keterbatasan

Kisah Wisudawan Fakultas Peternakan UGM Menembus Keterbatasan

Rabu, 20 Mei 2026 17:45 WIB

Rabu, 20 Mei 2026 17:45 WIB

Jurnas.net - Wisuda Program Sarjana di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Rabu, 20 Mei 2026, terselip sejumlah cerita inspiratif. Di antara puluhan wisudawan…

Pohon Pisang Milik Petani di Gunungkidul Bisa Buah 4 Tandan Satu Pohon

Pohon Pisang Milik Petani di Gunungkidul Bisa Buah 4 Tandan Satu Pohon

Rabu, 20 Mei 2026 16:48 WIB

Rabu, 20 Mei 2026 16:48 WIB

Jurnas.net - Sebuah pohon pisang di Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tumbuh dengan unik karena menghasilkan hingga empa…

Kuota SMP Capai 42 Ribu Kursi, Pemkot Surabaya Pastikan Semua Siswa Tertampung

Kuota SMP Capai 42 Ribu Kursi, Pemkot Surabaya Pastikan Semua Siswa Tertampung

Rabu, 20 Mei 2026 15:03 WIB

Rabu, 20 Mei 2026 15:03 WIB

Jurnas.net – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memastikan seluruh anak usia sekolah tetap mendapatkan akses pendidikan pada pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid …

Tiga Hari Dicari, Korban Tenggelam di Sungai Brantas Blitar Ditemukan Meninggal

Tiga Hari Dicari, Korban Tenggelam di Sungai Brantas Blitar Ditemukan Meninggal

Rabu, 20 Mei 2026 14:22 WIB

Rabu, 20 Mei 2026 14:22 WIB

Jurnas.net – Upaya pencarian intensif yang dilakukan tim SAR gabungan terhadap Isnaini (50), warga Kabupaten Blitar yang tenggelam di Sungai Brantas, akhirnya m…

Gagas Gerakan ‘Parlemen Bawa Tumbler’, Ketua DPRD Kab. Bandung Tabuh Genderang Perlawanan Terhadap Sampah Plastik

Gagas Gerakan ‘Parlemen Bawa Tumbler’, Ketua DPRD Kab. Bandung Tabuh Genderang Perlawanan Terhadap Sampah Plastik

Rabu, 20 Mei 2026 13:01 WIB

Rabu, 20 Mei 2026 13:01 WIB

Jurnas.net - Langkah konkret dan progresif diambil oleh Ketua DPRD Kabupaten Bandung, Renie Rahayu fauzi, dalam merespons darurat kerusakan lingkungan akibat…