Kinerja 70 Disabilitas Tak Kalah dengan Pekerja Lain di Pabrik HS 

author A. Mustaqim

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Pekerja disabilitas di pabrik HS. (Dok. Istimewa)
Pekerja disabilitas di pabrik HS. (Dok. Istimewa)

Jurnas.net - Perusahaan rokok asal Yogyakarta, HS  menjaga komitmennya menjadi perusahaan inklusif. Di saat banyak penyandang disabilitas yang sulit dapat kerja, pabrik rokok HS membuka pintu selebar-lebarnya bagi kelompok tersebut. 

Saat ini sudah 70 penyandang disabilitas yang bekerja di perusahaan yang ada di bawah naungan Surya Group Holding Company itu. Jumlah itu dipastikan terus bertambah dengan dibangunnya pabrik baru HS di Yogyakarta dan Lampung.

"Kami akan terus menerima karyawan disabilitas sesuai arahan pak Muhammad Suryo. Silahkan kawan-kawan disabilitas di seluruh Indonesia untuk bergabung bersama kami," ucap perwakilan HRD Pabrik Rokok HS, Muhammad Hanafi pada Jumat, 24 April 2026. 

Hanafi menegaskan tidak ada persyaratan khusus untuk bekerja di pabrik rokok HS. Meski tanpa pengalaman, penyandang disabilitas akan diterima dan dipekerjakan sesuai bidangnya.

"Kami juga akan beri pelatihan agar mereka mampu bekerja dengan baik," ujarnya.

Sebanyak 70 karyawan disabilitas yang saat ini bekerja di pabrik rokok HS memiliki kinerja yang bagus. Mereka tidak kalah saing dengan pekerja lain.

"Mereka justru lebih semangat, dan kinerjanya juga sangat baik. Kami selalu diingatkan oleh pak Suryo untuk terus memberikan perhatian khusus bagi kawan-kawan difabel di sini," ucapnya.

Hanafi mengungkapkan, tidak ada pembedakan dalam proses bekerja di perusahaan. Semua karyawan mendapat hak yang sama, termasuk gaji, makan siang gratis, hingga fasilitas lain. Bahkan, HS memberikan mess gratis bagi pekerja kategori disabilitas.

"Karena jumlahnya terus bertambah dan mereka banyak yang berasal dari luar kota Magelang. Jadi pak Suryo memerintahkan kami untuk memberikan mess gratis agar memudahkan kawan-kawan difabel ini," jelasnya.

Salah satunya pekerja disabilitas Shinta, 34, merupakan warga Magelang Jawa Tengah. Penyandang disabilitas tunarungu dan tunawicara ini menjadi salah satu dari 70 karyawan difabel di pabrik rokok HS yang bekerja sebagai pelinting dan pengepak rokok.

Shinta tampak semringah ketika didatang orang. Namun, di balik wajah bahagianya itu, ada cerita pedih yang ia lalui sebelum bisa bekerja di pabrik itu. Cerita tentang sulitnya mencari kerja dan stigma negatif masyarakat pada mereka menjadi masa lalu.

"Dulu sulit sekali mencari kerja. Berkali-kali melamar, tapi selalu ditolak. Kebanyakan mereka meragukan kemampuan kami hanya karena kami berbeda. Menganggap kami tidak mampu tanpa pernah diberi kesempatan," katanya lirih.

Perempuan satu anak ini masih ingat betul ketika terjadi penolakan-penolakan saat masih mencari kerja. Sakit hati dan kecewa selalu menghantui ketika ia pulang usai tes wawancara.

"Tapi di pabrik rokok HS ini, saya seperti menemukan kehidupan baru. Tidak hanya diterima kerja tanpa syarat dan pengalaman, tapi kami juga dihormati dan dihargai tanpa dibedakan," jelasnya.

Sebelum bekerja di HS, Shinta sempat membuka usaha kecil-kecilan batik tulis di rumahnya. Akan tetapi, usaha itu tak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Apalagi, ia berstatus tulang punggung keluarga dan anaknya masih kecil sehingga butuh biaya sekolah.

"Akhirnya untuk memenuhi kebutuhan, saya hutang ke bank," katanya.

Namun kini kehidupannya berangsur membaik. Setelah bekerja di pabrik rokok HS, Shinta mengatakan mampu memenuhi kebutuhan keluarga. Hutang-hutangnya dilunasi bahkan kini mampu menabung.

Selain lebih sejahtera, Shinta juga mendapat lingkungan pekerjaan yang nyaman. Meski tanpa pengalaman, ia dan 70 karyawan disabilitas lainnya di pabrik rokok HS selalu dilatih dengan sabar, tidak dibedakan dan mendapat fasilitas sama seperti karyawan lainnya. Mereka mendapatkan gaji utuh karena mendapat jatah makan dari pabrik secara gratis. 

"Bahkan, HS akan membuatkan mess khusus karyawan disabilitas, itu yang membuat kami nyaman bekerja di sini," tuturnya.

Kenyamanan dalam bekerja ini penting bagi penyandang disabilitas. Sebab, selama ini, mereka kerap mendapat perlakuan kurang menyenangkan di dunia kerja.

Situasi hampir serupa juga terjadi pada Fian, 26, penyandang disabilitas lain asal Yogyakarta. Ia menceritakan sempat bekerja di beberapa perusahaan namun tak betah karena sering mendapat perlakuan tidak nyaman.

"Kami sering dibully, dan setiap ada kesalahan, karyawan disabilitas yang selalu disalahkan," ucap Fian.

Ketika bekerja di HS, semua karyawan diperlakukan sama. Mereka dihormati dan tidak diperlakukan semena-mena. Bahkan mereka mendapat perhatian lebih berupa fasilitas mess gratis.

"Kami harap perusahaan lain bisa mencontoh bagaimana HS mempekerjakan karyawan disabilitas seperti kami. Inklusivitas dunia kerja bukan sekadar narasi, tapi dibuktikan dengan hal yang kongkret," ucapnya.

Seperti diketahui, pabrik rokok HS terus berkomitmen menjadi perusahaan inklusif. Bos Rokok HS, Muhammad Suryo menegaskan bahwa pihaknya akan menampung sebanyak-banyaknya karyawan penyandang disabilitas. Saat ini, sudah ada 70 karyawan disabilitas yang bekerja di tempat itu. 

Berita Terbaru

KAI Daop 8 Surabaya Catat 6,4 Juta Penumpang pada Semester I 2026, Keluhan Pelanggan Diklaim Menurun

KAI Daop 8 Surabaya Catat 6,4 Juta Penumpang pada Semester I 2026, Keluhan Pelanggan Diklaim Menurun

Kamis, 23 Jul 2026 16:18 WIB

Kamis, 23 Jul 2026 16:18 WIB

Jurnas.net – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya mencatat tren positif pada kinerja pelayanan selama Semester I 2026. Di tengah m…

Kasus HIV di Jatim Tertinggi Nasional Tembus 65.238, PKS Mendesak Pemerintah Perkuat Pencegahan

Kasus HIV di Jatim Tertinggi Nasional Tembus 65.238, PKS Mendesak Pemerintah Perkuat Pencegahan

Kamis, 23 Jul 2026 15:02 WIB

Kamis, 23 Jul 2026 15:02 WIB

Jurnas.net – Jawa Timur masih menghadapi tantangan besar dalam pengendalian Human Immunodeficiency Virus (HIV). Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan D…

Lenovo Bidik Pasar Premium Lewat Laptop Edisi FIFA World Cup 2026, Andalkan AI dan Produk Koleksi

Lenovo Bidik Pasar Premium Lewat Laptop Edisi FIFA World Cup 2026, Andalkan AI dan Produk Koleksi

Kamis, 23 Jul 2026 14:23 WIB

Kamis, 23 Jul 2026 14:23 WIB

Jurnas.net – Lenovo semakin agresif memperkuat posisinya di pasar perangkat premium Indonesia dengan menggabungkan inovasi kecerdasan buatan (Artificial I…

Kebun Raya Mangrove Surabaya Disulap Jadi Laboratorium Hidup, Pelajar Bisa Belajar Energi Terbarukan

Kebun Raya Mangrove Surabaya Disulap Jadi Laboratorium Hidup, Pelajar Bisa Belajar Energi Terbarukan

Kamis, 23 Jul 2026 13:16 WIB

Kamis, 23 Jul 2026 13:16 WIB

Jurnas.net – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus mengembangkan Kebun Raya Mangrove (KRM) sebagai kawasan konservasi yang tidak hanya berfungsi sebagai d…

PKS dan Demokrat Jatim Perkuat Komunikasi Politik, Bahas Kolaborasi hingga Sistem Pemilu

PKS dan Demokrat Jatim Perkuat Komunikasi Politik, Bahas Kolaborasi hingga Sistem Pemilu

Kamis, 23 Jul 2026 12:01 WIB

Kamis, 23 Jul 2026 12:01 WIB

Jurnas.net – Di tengah menghangatnya dinamika politik nasional pascaputusan Mahkamah Konstitusi mengenai sistem kepemiluan serta tantangan fiskal yang dihadapi …

Komunitas Nelayan Jadi Kunci Ekonomi Biru, Delegasi ASEAN-ID Blue Puji Transformasi Bangsring Banyuwangi

Komunitas Nelayan Jadi Kunci Ekonomi Biru, Delegasi ASEAN-ID Blue Puji Transformasi Bangsring Banyuwangi

Kamis, 23 Jul 2026 11:23 WIB

Kamis, 23 Jul 2026 11:23 WIB

Jurnas.net – Pengelolaan potensi bahari berbasis masyarakat yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kembali mendapat pengakuan internasional. D…